Lima Jurnalis Hilang Kontak saat Liput Erupsi Anak Krakatau, SAR Kerahkan Tim Gabungan
Baca dalam 60 detik
- Lima wartawan dan dua awak kapal dilaporkan putus komunikasi di perairan Selat Sunda saat menuju lokasi erupsi Gunung Anak Krakatau.
- Basarnas Banten memusatkan pencarian di sekitar jalur pelayaran Carita–Lampung setelah sinyal terakhir diterima Senin sore.
- Insiden ini menyoroti risiko tinggi peliputan bencana alam dan menuntut protokol keselamatan jurnalis yang lebih ketat.

Lima jurnalis yang tengah bertugas meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan kehilangan kontak sejak Senin sore. Tim SAR gabungan masih menyisir perairan antara Banten dan Lampung hingga Selasa malam, sementara dua orang awak kapal yang ikut dalam perjalanan tersebut juga belum ditemukan.
Peristiwa ini bermula ketika rombongan wartawan yang tergabung dalam komunitas jurnalis Banten bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada pukul 14.00 WIB. Mereka menumpang sebuah kapal menuju kawasan Gunung Anak Krakatau yang tengah menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Kepala Basarnas Banten, Al Amrad, membenarkan bahwa komunikasi terakhir dengan salah satu korban terjadi sekitar pukul 14.42 WIB, saat yang bersangkutan mengirimkan titik koordinat melalui aplikasi berbagi lokasi kepada rekannya di Lampung.
Setelah itu, tidak ada lagi kabar yang bisa diterima. Rentang waktu antara pengiriman lokasi dan hilangnya sinyal hanya sekitar dua puluh menit—sebuah jeda yang menurut pengamat kebencanaan menjadi indikasi awal bahwa kapal mungkin mengalami kendala teknis atau cuaca buruk di tengah laut. Hingga berita ini diturunkan, Basarnas mencatat total tujuh orang yang belum ditemukan: lima jurnalis dan dua kru kapal. Data ini diperbarui setelah sempat beredar informasi bahwa jumlah wartawan yang hilang hanya satu orang.
Operasi pencarian sendiri terbilang menantang. Kondisi perairan Selat Sunda yang kerap bergelombang, ditambah abu vulkanik yang masih beterbangan dari erupsi Anak Krakatau, mempersempit jarak pandang tim penyelamat. Meski demikian, Basarnas Banten telah mengerahkan sejumlah personel dan peralatan, termasuk rubber boat dan perahu karet, untuk menyisuri titik-titik yang diduga menjadi jalur terakhir kapal korban. Pencarian juga melibatkan potensi SAR dari Lampung, mengingat lokasi terakhir yang dikirim korban berada di tengah selat.
Insiden ini membuka kembali diskusi tentang keselamatan jurnalis yang bertugas meliput bencana alam. Di Indonesia, liputan erupsi gunung berapi memang kerap dilakukan dari jarak dekat untuk mendapatkan data visual yang akurat. Namun, tanpa koordinasi yang matang dengan otoritas setempat dan perlengkapan komunikasi cadangan, risiko yang dihadapi wartawan bisa meningkat drastis. Al Amrad dalam keterangannya menggarisbawahi bahwa komunikasi terakhir yang diterima tim SAR adalah kiriman lokasi, bukan sinyal darurat—sebuah celah yang seharusnya bisa diminimalkan dengan penggunaan alat komunikasi satelit.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di pesisir Banten dan Lampung, peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa aktivitas Anak Krakatau masih jauh dari kata aman. Meski status gunung belum dinaikkan ke level tertinggi, potensi tsunami seperti yang terjadi pada 2018 lalu tetap membayangi. Pihak berwenang pun diingatkan untuk memperketat pengawasan terhadap aktivitas pelayaran di sekitar kawasan berbahaya, tidak hanya untuk kepentingan jurnalistik, tetapi juga untuk keselamatan nelayan dan wisatawan yang kerap melintasi selat.
Hingga saat ini, Basarnas belum bisa memastikan penyebab hilangnya kontak. Tim pencari masih berkonsentrasi pada upaya menemukan titik terang di tengah kabut abu vulkanik dan gelombang selat yang tak bersahabat. Pertanyaan yang kemudian mengemuka: akankah insiden ini mendorong perubahan protokol peliputan bencana di Indonesia, atau justru menjadi catatan kelam lain dalam sejarah jurnalisme lapangan yang menuntut nyawa?



