Liverpool Ganti Sponsor Utama Setelah 17 Tahun: Turkish Airlines Siap Ambil Alih Posisi Standard Chartered
Baca dalam 60 detik
- Liverpool resmi mengikat kerja sama lima tahun dengan Turkish Airlines sebagai sponsor utama mulai musim 2027/2028, mengakhiri era Standard Chartered yang berlangsung hampir dua dekade.
- Nilai kontrak diperkirakan menembus 300 juta poundsterling atau sekitar Rp6,1 triliun, menempatkannya sejajar dengan kesepakatan Manchester United bersama Qualcomm.
- Kesepakatan ini memperkuat ekspansi Turkish Airlines di sepak bola Eropa dan berpotensi memengaruhi peta persaingan komersial klub-klub besar Inggris.

Liverpool secara resmi mengumumkan Turkish Airlines sebagai mitra utama klub untuk lima musim ke depan, sebuah langkah yang mengakhiri kerja sama panjang dengan Standard Chartered yang telah menghiasi seragam The Reds sejak 2010. Pergantian ini mulai berlaku pada 1 Juni 2027, menandai babak baru dalam strategi komersial klub asal Merseyside tersebut.
Kesepakatan yang diumumkan pada Selasa (8/9) itu dilaporkan bernilai lebih dari 300 juta poundsterling atau setara 405,78 juta dolar AS. Jika angka tersebut akurat, kontrak ini akan menempatkan Liverpool di jajaran klub dengan kesepakatan sponsor termahal di Premier League, sejajar dengan kontrak Manchester United bersama Qualcomm yang diteken pada Agustus 2024.
Kendati nominal pastinya belum dikonfirmasi, sinyalemen kuat menunjukkan nilai kontrak ini akan menyamai pendapatan yang diterima Setan Merah. Bagi Liverpool, langkah ini bukan sekadar soal angka, melainkan juga strategi jangka panjang untuk memperluas jangkauan merek di pasar internasional, khususnya Asia dan Timur Tengah.
Menariknya, Standard Chartered tidak sepenuhnya ditinggalkan. Bank asal Inggris itu akan tetap menjadi mitra global Liverpool, tetapi posisi utama di bagian depan jersey akan ditempati Turkish Airlines. Keputusan ini diambil setelah melalui pertimbangan matang, dengan mempertimbangkan nilai komersial dan potensi sinergi pemasaran yang lebih luas.
Direktur Komersial Liverpool, Ben Latty, menyambut baik kemitraan ini. Menurutnya, bagian depan seragam Liverpool memiliki tempat istimewa dalam sejarah klub. Ia juga menyinggung kenangan manis final Liga Champions 2005 di Istanbul, yang menjadi fondasi awal hubungan kedua pihak. โTurkish Airlines adalah organisasi yang diakui secara global dengan jaringan internasional yang luas, dan kami berharap dapat membangun hubungan yang kuat,โ ujarnya dalam pernyataan resmi klub.
Bagi Turkish Airlines, kesepakatan ini merupakan bagian dari strategi agresif untuk memperkuat posisi di dunia olahraga. Maskapai pelat merah Turki itu sebelumnya telah menjadi mitra resmi Liga Champions dan sponsor utama tim nasional Turki. Dengan mengikat Liverpool, mereka tidak hanya mendapatkan eksposur global, tetapi juga akses ke basis penggemar yang besar dan loyal di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Dari perspektif Indonesia, kabar ini menarik dicermati. Liverpool memiliki basis penggemar yang sangat besar di Tanah Air, dan perubahan sponsor utama berpotensi memengaruhi ketersediaan produk merchandise resmi. Selain itu, Turkish Airlines yang selama ini melayani rute penerbangan langsung ke Istanbul, dapat memanfaatkan kemitraan ini untuk meningkatkan konektivitas dan promosi pariwisata ke Turki bagi para pendukung Liverpool di Indonesia.
Para pengamat industri menilai langkah Liverpool ini sebagai sinyal bahwa klub-klub besar Inggris semakin agresif dalam mengeksploitasi nilai komersial. Persaingan di papan atas Premier League tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di ranah bisnis. Dengan nilai kontrak yang fantastis, Liverpool berharap dapat bersaing secara finansial dengan Manchester City dan Manchester United dalam perburuan gelar dan pemain bintang.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah bagaimana transisi ini akan memengaruhi strategi transfer Liverpool dalam dua musim ke depan. Apakah pendapatan tambahan dari sponsor baru akan langsung diinvestasikan untuk memperkuat skuad, atau justru digunakan untuk membiayai renovasi stadion dan infrastruktur? Keputusan manajemen dalam mengalokasikan dana ini akan menjadi penentu daya saing The Reds di era baru sepak bola Inggris yang semakin komersial.



