Noel Gallagher Menyebut Film Dokumenter Oasis 'Mahal': Komentar Khas yang Mengundang Tawa
Baca dalam 60 detik
- Noel Gallagher meringkas film dokumenter Oasis: Don't Look Back in Anger dengan satu kata: 'mahal', saat menghadiri pemutaran perdana di London.
- Film ini mengisahkan tur reuni Oasis Live '25 yang meraup pendapatan fantastis, dan disutradarai oleh Will Lovelace dan Dylan Southern.
- Para sineas mengungkap tantangan merekam momen langka kebersamaan Noel dan Liam setelah 15 tahun, yang menjadi daya tarik utama film ini.

Noel Gallagher, gitaris dan penulis lagu utama Oasis, kembali melontarkan komentar khasnya yang sinis. Saat menghadiri pemutaran perdana film dokumenter "Oasis: Don't Look Back in Anger" di Leicester Square, London, Senin (7/9/2026), ia diminta meringkas film tersebut dalam satu kata. Tanpa ragu, pria berusia 59 tahun itu menjawab, "Mahal." Jawaban singkat itu sontak mengundang tawa para wartawan dan penggemar yang hadir, sekaligus menegaskan reputasinya sebagai maestro sindiran di industri musik.
Film dokumenter ini bukan sekadar tontonan nostalgia. Ia merekam tur reuni Oasis Live '25 yang sukses luar biasa, dengan pendapatan kotor mencapai 405,4 juta dolar AS atau sekitar Rp6,3 triliun. Angka tersebut menjadikan tur tersebut sebagai salah satu yang paling menguntungkan dalam sejarah musik. Kini, dengan perilisan filmnya, mesin uang Gallagher diprediksi akan berputar lebih kencang. Pertanyaannya, apakah komentar Noel tentang "mahal" merujuk pada biaya produksi yang tinggi, atau justru sindiran halus tentang besarnya investasi yang harus dikeluarkan penggemar untuk menontonnya?
Di balik layar, sutradara Will Lovelace dan Dylan Southern mengungkapkan tantangan unik dalam menggarap film ini. Mereka harus menangkap momen bersejarah ketika Noel dan Liam Gallagher berada dalam satu ruangan untuk pertama kalinya dalam 15 tahun. Dylan Southern, dalam wawancara dengan HeyUGuys, menjelaskan bahwa pendekatan mereka harus fleksibel. "Kami memasuki pembuatan film dengan rencana, tetapi dalam dokumenter, Anda harus siap membuang rencana itu. Dalam syuting latihan, kami harus tidak terlihat agar tidak mengganggu momen intim tersebut," ujarnya.
Ketika tur dimulai, tantangan berubah. Southern menambahkan, "Kami harus menciptakan pengalaman konser yang imersif, tetapi tetap menyampaikan kisah intim dua bersaudara." Hasilnya, film ini tidak hanya menampilkan aksi panggung yang spektakuler, tetapi juga momen emosional di balik layar yang jarang terlihat. Penonton di Festival Film Venesia bahkan memberikan standing ovation selama delapan menit, sebuah penghargaan langka yang menegaskan kualitas film ini. Film ini diproduksi oleh Steven Knight, kreator serial "Peaky Blinders", yang menambah kredibilitas artistiknya.
Bagi penggemar Oasis di Indonesia, film ini menjadi tontonan wajib. Fenomena reuni Oasis tidak hanya mengguncang industri musik global, tetapi juga membangkitkan nostalgia bagi generasi yang tumbuh dengan lagu-lagu seperti "Wonderwall" dan "Don't Look Back in Anger". Di tengah maraknya platform streaming, kehadiran film dokumenter ini menjadi pengingat bahwa musik Oasis tetap relevan, bahkan setelah puluhan tahun. Pertanyaannya, apakah akan ada tur Asia yang menyusul? Jika ya, antrean penggemar di Jakarta tentu akan mengular.
Ke depan, kesuksesan film ini berpotensi membuka jalan bagi proyek dokumenter serupa dari band-band legendaris lainnya. Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana hubungan Noel dan Liam setelah proses syuting ini. Akankah kedekatan yang terekam di film berlanjut, atau hanya sekadar untuk kepentingan komersial? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: kata "mahal" dari Noel Gallagher akan selalu menjadi bahan perbincangan yang menghibur.



