Boy George Vs Paloma Faith: Perang Komentar di Tengah Kontroversi Politik Macklemore
Baca dalam 60 detik
- Pernyataan politik Macklemore di konser Ed Sheeran memicu reaksi berantai dari musisi, termasuk Boy George yang menyerang Paloma Faith secara pribadi.
- Perseteruan Boy George dan Paloma Faith yang sudah lama terjadi kembali memanas, kali ini dengan sindiran tajam di media sosial.
- Kontroversi ini menyoroti risiko yang dihadapi artis ketika berbicara soal isu politik yang sensitif, terutama di tengah polarisasi global.

Pernyataan politik Macklemore di atas panggung konser Ed Sheeran di MetLife Stadium, New Jersey, Jumat (4/9/2026) lalu, telah memicu gelombang reaksi dari sesama musisi. Kini, Boy George, vokalis Culture Club, ikut angkat bicara dengan melontarkan kritik pedas, tak hanya kepada Macklemore, tetapi juga kepada Paloma Faith, rekannya sesama juri di The Voice UK.
Keributan bermula ketika Macklemore, yang menjadi pembuka tur Loop milik Ed Sheeran, menyampaikan seruan "Free Palestine" di hadapan puluhan ribu penonton. Aksi tersebut sontak menuai pujian dari sebagian pihak, namun tidak sedikit pula yang mengecam. Pink, misalnya, secara terbuka mengkritik rapper asal Seattle itu melalui unggahan di media sosial. Kini, Boy George menjadi nama terbaru yang bergabung dalam pusaran kontroversi.
Dalam unggahannya di platform X, Boy George menyinggung Paloma Faith yang sebelumnya menyebut Macklemore sebagai "pahlawannya". Dengan nada sinis, ia menulis bahwa slogan seperti "Free Palestine" hanya memberikan ilusi keberanian moral tanpa menuntut pemahaman politik yang mendalam. Lebih lanjut, ia menyebut Ed Sheeran "tidak punya tulang punggung" karena bungkam atas kontroversi ini, dan melabeli Paloma sebagai "politiknya seperti sandwich tuna yang lembek".
Serangan Boy George ini bukanlah yang pertama kali terjadi di antara keduanya. Sebelumnya, mereka pernah terlibat pertengkaran hebat di atas panggung The Voice UK yang membuat Boy George menyebut Paloma "sangat tidak sopan". Ketika seorang warganet bertanya apakah hubungan mereka masih baik, Boy George menjawab dengan sindiran tajam: "Semua hubungan di dunia hiburan itu sedalam payet!".
Menariknya, Boy George sendiri bukanlah sosok yang netral dalam isu ini. Pada Juli lalu, ia merilis lagu bergenre reggae yang bernuansa pro-Israel. Dalam unggahan yang sama, ia juga mengaku bahwa keseluruhan situasi ini membuatnya merasa mual.
Di tengah riuhnya perang komentar ini, Macklemore justru mencoba mendinginkan suasana. Pada konser keesokan harinya, Sabtu (5/9/2026), ia menyampaikan pesan perdamaian. Ia menegaskan bahwa kritik terhadap Israel, apartheid, atau genosida sama sekali bukan bentuk kebencian terhadap saudara-saudara Yahudi. "Pesan saya adalah untuk perdamaian; cinta agar semua manusia diperlakukan dengan martabat, rasa hormat, dan kesetaraan," ujarnya di atas panggung.
Kontroversi ini kembali menyoroti betapa tipisnya batas antara ekspresi seni dan pernyataan politik di industri hiburan global. Bagi para artis, bersuara tentang isu sensitif seperti konflik Israel-Palestina bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi mendulang simpati, di sisi lain memicu backlash yang merugikan karier. Fenomena ini juga relevan untuk dicermati di Indonesia, di mana publik semakin kritis terhadap sikap politik para selebritas, terutama yang berkaitan dengan isu kemanusiaan global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Ed Sheeran akhirnya buka suara? Sebagai tuan rumah tur yang menjadi panggung kontroversi ini, sikap diamnya justru semakin menyorot dirinya. Sementara itu, perseteruan Boy George dan Paloma Faith yang kembali memanas ini mengingatkan bahwa di dunia hiburan, perbedaan politik bisa menjadi bahan bakar drama yang tak pernah padam. Yang jelas, industri musik kembali diingatkan bahwa panggung bukan hanya tempat berekspresi, tetapi juga ajang pembuktian sikap.



