Pacquiao Kini Bertarung Melawan Kemiskinan: Masuk Kabinet Marcos Pimpin NAPC
Baca dalam 60 detik
- Manny Pacquiao resmi menjabat sebagai ketua Komisi Nasional Anti-Kemiskinan (NAPC) Filipina, menandai debutnya di kabinet Presiden Ferdinand Marcos Jr.
- Dengan pengalaman pribadi hidup miskin, Pacquiao diharapkan membawa perspektif unik dalam upaya menekan angka kemiskinan Filipina dari 9,7% menjadi 8-9% pada 2028.
- Langkah ini menambah babak baru karier politik Pacquiao setelah gagal di pilpres 2022 dan senat 2025, serta berpotensi memengaruhi peta politik menjelang 2028.

Manny Pacquiao, legenda tinju dunia yang telah memenangkan gelar di delapan kelas berbeda, kini menghadapi lawan yang jauh lebih berat daripada siapa pun di atas ring: kemiskinan. Pada Selasa (8/9), pria berusia 47 tahun itu resmi dilantik sebagai ketua Komisi Nasional Anti-Kemiskinan (NAPC) dalam kabinet Presiden Ferdinand Marcos Jr., sebuah penunjukan yang mengejutkan banyak pihak dan langsung menjadi sorotan publik Filipina.
Pacquiao, yang sebelumnya menjabat senator dan anggota kongres, bukanlah nama asing di panggung politik. Namun, jabatan ini adalah pengalaman pertamanya di kabinet. Karier politiknya diwarnai kegagalan, termasuk kekalahan telak dalam pemilihan presiden 2022 dan upaya yang gagal untuk kembali ke Senat pada 2025, meski mendapat dukungan dari koalisi pemerintahan Marcos. Kini, dengan mandat baru ini, ia dituntut untuk membuktikan bahwa kemampuannya tidak hanya di atas ring, tetapi juga dalam merumuskan kebijakan yang menyentuh jutaan warga miskin.
Dalam pernyataan resminya, Pacquiao mengaku sangat memahami perjuangan melawan kemiskinan. "Saya lahir dari kemiskinan. Saya pernah tidur di atas kardus di jalanan, hanya minum air putih, tidak punya makanan, dan mengumpulkan uang receh untuk membantu keluarga," ujarnya. Pengalaman pahit itu pula yang mendorongnya untuk menerima tawaran Marcos, meskipun ia sadar tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks daripada pertarungan di atas ring.
Penunjukan Pacquiao datang di saat pemerintahan Marcos berupaya keras menekan angka kemiskinan. Data resmi menunjukkan tingkat kemiskinan Filipina turun menjadi 9,7% pada 2025, atau sekitar 11,08 juta jiwa masih hidup di bawah garis kemiskinan. Target pemerintah adalah menekan angka tersebut menjadi 8-9% pada 2028. Sebagai ketua NAPC, Pacquiao akan mengoordinasikan berbagai program lintas kementerian, sebuah tugas yang membutuhkan tidak hanya popularitas, tetapi juga kecakapan birokrasi dan negosiasi politik.
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Di negara kita, fenomena figur publik, terutama atlet, yang terjun ke dunia politik atau birokrasi bukanlah hal baru. Namun, efektivitas mereka seringkali dipertanyakan. Pengalaman Pacquiao akan menjadi ujian nyata apakah popularitas dan empati terhadap rakyat kecil dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang berdampak. Jika berhasil, model ini bisa menjadi referensi bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, dalam memanfaatkan tokoh populer untuk mendekatkan program pemerintah kepada masyarakat.
Di luar aspek kebijakan, penunjukan ini juga sarat nuansa politik. Pacquiao, yang pernah menjadi rival politik Marcos, kini justru berada di dalam kubu pemerintah. Langkah ini bisa dibaca sebagai upaya Marcos untuk merangkul tokoh populer dan memperluas basis dukungan menjelang pemilihan presiden 2028. Namun, ada pula yang menilai ini sebagai strategi untuk meredam potensi oposisi dari figur sekaliber Pacquiao. Pertanyaannya, apakah Pacquiao akan menjadi sekadar simbol atau benar-benar menjalankan peran strategis dalam pengentasan kemiskinan?
Karier tinju Pacquiao yang gemilang, termasuk kemenangan di delapan divisi dan masuk dalam International Boxing Hall of Fame pada 2025, telah mengukuhkannya sebagai pahlawan nasional. Namun, kini ia harus membuktikan bahwa ia bisa menjadi pahlawan bagi mereka yang masih berjuang keluar dari kemiskinan. Dengan pengalaman pribadi yang otentik dan popularitas yang tak terbantahkan, Pacquiao memiliki modal besar. Namun, keberhasilan sejatinya akan diukur dari seberapa jauh program-program yang dikoordinasikannya mampu menyentuh akar masalah kemiskinan di Filipina.
Ke depan, publik akan mengawasi langkah pertama Pacquiao dalam merumuskan strategi. Apakah ia akan berani mengambil kebijakan kontroversial yang mungkin berbenturan dengan kepentingan politik? Atau akankah ia terjebak dalam birokrasi yang rumit? Satu hal yang pasti, pertarungan terbesar Pacquiao kini dimulai, dan taruhannya adalah masa depan jutaan rakyat Filipina.



