Senator AS Kecam Trump: Biaya Perang Iran Tembus Rp 1.763 Triliun, Tanpa Strategi Jelas
Baca dalam 60 detik
- Mark Warner menyoroti beban fiskal US$ 100 miliar yang ditanggung pembayar pajak AS akibat konflik dengan Iran.
- Kritik tajam dilayangkan karena operasi militer berjalan tanpa rencana komprehensif dan sekutu yang solid.
- Eskalasi biaya perang berpotensi memicu gejolak harga energi global, termasuk di Indonesia.

Senator Amerika Serikat Mark Warner melontarkan kecaman pedas terhadap keputusan Presiden Donald Trump melancarkan operasi militer ke Iran. Dalam pernyataan video yang diunggah di platform X, politikus Partai Demokrat itu mengungkapkan bahwa konflik yang disebutnya sebagai "perang pilihan" tersebut telah menguras anggaran negara hingga US$ 100 miliar, setara Rp 1.763 triliun, dan angka itu terus membengkak setiap menit.
Warner, yang menjabat Wakil Ketua Komite Intelijen Senat, menegaskan bahwa para wajib pajak Amerika menanggung beban yang kian berat. Ia menghitung, setiap dua menit biaya operasi bertambah US$ 1 juta atau sekitar Rp 17,6 miliar. "Dalam satu jam saja, biaya bertambah US$ 30 juta, namun kita tidak melihat kemajuan berarti terhadap tujuan yang dicanangkan," ujarnya, menyiratkan frustrasi atas kebuntuan strategi.
Kritik ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang arah kebijakan luar negeri AS yang dinilai reaktif dan kurang perhitungan. Warner menyoroti tidak adanya rencana komprehensif, minimnya dukungan sekutu, serta tidak adanya skenario keluar yang jelas dari konflik. Situasi ini diperparah oleh dampak langsung pada ekonomi domestik, seperti melonjaknya harga bahan bakar di AS yang tembus US$ 4 per galon untuk bensin, sementara harga solar mencapai rekor tertinggi.
Bagi Indonesia, konflik ini bukan sekadar berita mancanegara. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gejolak di Timur Tengah berpotensi menaikkan harga energi global, yang pada akhirnya membebani anggaran subsidi dan harga bahan bakar di dalam negeri. Pengamat energi menilai, jika eskalasi berlanjut, tekanan inflasi impor bisa mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia yang tengah berupaya menjaga daya beli masyarakat.
Warner juga mengkritik aspek kepemimpinan, menyebut perang ini diluncurkan "tanpa strategi, tanpa sekutu, dan tanpa jalan keluar". Pernyataan ini mencerminkan perpecahan politik di AS, di mana Partai Demokrat semakin vokal menentang pendekatan militeristik pemerintahan Trump. Ia mendesak publik Amerika untuk bangkit dan menekan pemerintah agar mengubah haluan, sebuah seruan yang jarang terdengar dari senator petahana.
"Inilah yang terjadi ketika Anda memulai perang pilihan tanpa rencana, tanpa strategi, tanpa sekutu, dan tanpa jalan keluar." โ Mark Warner, Senator AS
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana pemerintahan Trump akan merespons kritik ini. Apakah akan ada peninjauan ulang strategi, atau justru eskalasi lebih lanjut? Sementara itu, beban fiskal yang terus bertambah menjadi pengingat bahwa keputusan perang membawa konsekuensi jangka panjang, tidak hanya bagi AS, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi global yang saling terhubung.



