PISA 2025: Pelajar Singapura Kuasai Pemecahan Masalah Digital, Peringkat Kedua Dunia
Baca dalam 60 detik
- Dalam asesmen PISA 2025 yang baru, pelajar berusia 15 tahun dari Singapura menempati posisi kedua global untuk kompetensi pemecahan masalah komputasional, hanya kalah dari Makau.
- Lebih dari separuh pelajar Singapura masuk kategori performa tertinggi dalam bidang ini, jauh melampaui rata-rata negara OECD yang hanya seperempat.
- Hasil ini menegaskan keunggulan Singapura dalam literasi digital, namun juga menyoroti tantangan seperti rendahnya dukungan keluarga dan menurunnya aktivitas fisik pelajar.

Pelajar berusia 15 tahun di Singapura kembali membuktikan dominasi mereka dalam literasi digital. Dalam domain terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang mengukur kemampuan pemecahan masalah komputasional, mereka berhasil menempati peringkat kedua dunia, hanya di bawah Makau dan unggul atas Beijing, Shanghai, Jiangsu, serta Zhejiang di China.
PISA merupakan studi internasional yang digelar setiap tiga tahun untuk mengevaluasi kemampuan pelajar dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan pada situasi nyata. Pada edisi 2025, fokus baru diberikan pada pembelajaran di era digital, dengan menguji bagaimana siswa menggunakan cara berpikir komputasional dan perangkat teknologi untuk menyelesaikan persoalan kompleks. Sebanyak 6.600 pelajar dari 145 sekolah menengah negeri dan 12 sekolah swasta di Singapura berpartisipasi dalam studi ini.
Hasil yang dirilis Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) pada Selasa (8/9) menunjukkan bahwa lebih dari separuh pelajar Singapura masuk dalam kategori performa tertinggi untuk pemecahan masalah komputasional. Angka ini jauh melampaui rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang hanya sekitar seperempat. โMereka sangat efektif dalam menerapkan praktik komputasional seperti melakukan eksperimen, menganalisis data, serta membangun dan memperbaiki artefak komputasional untuk memecahkan masalah dunia nyata yang rumit,โ demikian pernyataan MOE.
Salah satu tugas dalam studi ini meminta siswa memprogram lengan robotik untuk memilah objek, meniru operasi daur ulang. Tugas lain mensimulasikan hubungan antara berbagai jenis olahraga dan kebugaran untuk aplikasi yang membantu astronot menjaga kesehatan di gravitasi rendah. Kemampuan ini tidak hanya relevan untuk karier di bidang teknologi, tetapi juga menjadi bekal penting dalam menghadapi otomatisasi dan transformasi digital di berbagai sektor.
Selain unggul dalam domain baru ini, pelajar Singapura juga menempati peringkat pertama dalam membaca, serta peringkat kedua dalam matematika dan sains. Mereka mengungguli China dalam membaca, namun kalah tipis dalam matematika dan sains. Pada PISA 2022, Singapura berhasil menjadi juara umum di ketiga bidang tersebut. Prestasi ini menunjukkan konsistensi kualitas pendidikan Singapura, meskipun persaingan dengan negara-negara Asia Timur lainnya semakin ketat.
Yang menarik, Singapura juga mencatat proporsi pelajar serba bisa (academic all-rounders) tertinggi di antara semua sistem yang berpartisipasi, mencapai 15 persen. Bandingkan dengan rata-rata OECD yang hanya 3 persen. Para pelajar ini unggul di ketiga domain utama sekaligus, menandakan kemampuan akademis yang holistik. Mereka juga menunjukkan pengetahuan lingkungan yang kuat dan keyakinan untuk melakukan perubahan positif, dengan 27 persen mencapai level tertinggi dalam modul sains lingkungan, jauh di atas rata-rata OECD yang hanya 7 persen.
Namun, di balik keunggulan akademis, terdapat sejumlah catatan yang perlu menjadi perhatian. Seperti halnya PISA 2022, pelajar Singapura merasa keluarga mereka kurang mendukung proses belajar dibandingkan rekan-rekan di OECD, dan angka ini semakin menurun. Hanya 49 persen pelajar yang mengaku memiliki diskusi mingguan dengan keluarga tentang perkembangan sekolah, sementara rata-rata OECD mencapai 60 persen. Sekitar 39 persen menyatakan keluarga mereka tertarik pada apa yang dipelajari di sekolah, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 58 persen.
MOE menyadari pentingnya keterlibatan orang tua. โAnak-anak menginginkan dan diuntungkan dari interaksi semacam itu dengan orang tua. Sumber daya Parenting for Wellness yang dikembangkan oleh Health Promotion Board, Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga, serta Kementerian Pendidikan dapat mendukung keluarga dalam membangun koneksi yang lebih kuat dengan pembelajaran anak-anak mereka,โ demikian pernyataan MOE. Selain itu, meskipun lebih banyak pelajar yang berolahraga di luar sekolah dibandingkan 2022, masih ada 23 persen yang mengaku tidak berolahraga sama sekali di luar jam sekolah.
Direktur Jenderal Pendidikan Singapura, Liew Wei Li, menilai hasil PISA 2025 memberikan wawasan berharga tentang pelajar Singapura yang memiliki rasa ingin tahu dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. โTemuan ini juga menunjukkan area di mana kami bisa berbuat lebih baik. Kami akan terus membantu anak-anak kami, terlepas dari latar belakang atau titik awal mereka, untuk berkembang dan belajar dengan percaya diri,โ ujarnya.
Bagi Indonesia, hasil PISA Singapura ini menjadi cermin penting. Ketika Singapura melesat dengan kurikulum yang menekankan berpikir komputasional dan literasi digital, Indonesia masih bergulat dengan pemerataan akses teknologi dan kualitas guru. Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan Indonesia siap beradaptasi dengan tuntutan abad ke-21, atau justru akan semakin tertinggal dalam persaingan global yang makin kompetitif? Jawabannya menentukan masa depan generasi muda kita di tengah derasnya arus digitalisasi.



