Banjir Nepal: Tiongkok Kirim Bantuan Psikologis untuk Tim Penyelamat di Tengah Bencana Longsor
Baca dalam 60 detik
- Tiongkok mengerahkan 726 personel militer dan polisi untuk operasi penyelamatan pasca-longsor di Gyirong, Nepal.
- Tim medis TNI-POLRI Tiongkok memberikan layanan psikologis kepada penyelamat dan warga, termasuk teknik 'lihat, dengar, cium, dan gerak' untuk mengelola stres.
- Lebih dari 210 ahli kesehatan jiwa dikerahkan dalam tiga gelombang untuk mendukung pemulihan mental para korban dan petugas di lapangan.

Di tengah duka dan kepanikan pasca-bencana longsor yang melanda kawasan Gyirong, Nepal, Tiongkok tidak hanya mengirimkan alat berat dan logistik, tetapi juga tim khusus yang menangani luka batin para penyelamat. He Lei, seorang konselor psikologi dari Komando Militer Xizang, memulai tugasnya setiap fajar dengan berkeliling ke pos-pos pencarian untuk menemani para prajurit yang berjuang melawan kelelahan dan tekanan mental.
Longsor yang dipicu hujan deras sejak awal September itu telah memporak-porandakan Pelabuhan Gyirong, kawasan perbatasan yang menjadi jalur vital antara Tiongkok dan Nepal. Hingga 3 September, sebanyak 726 personel gabungan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan Polisi Bersenjata Rakyat telah dikerahkan. Namun, di balik angka tersebut, ada cerita tentang beban psikologis yang tidak terlihat—baik bagi korban selamat maupun mereka yang bertugas mencari korban.
Tim medis dan pencegahan penyakit yang dipimpin Li Guokai tidak hanya bertugas menyemprot disinfektan atau memeriksa kesehatan fisik. Mereka juga melakukan patroli rutin untuk memastikan para prajurit dan warga yang mengungsi mendapatkan dukungan emosional. Menurut He Lei, banyak penyelamat mengalami respons stres akut seperti serangan panik atau tubuh yang kaku—gejala yang wajar namun perlu segera ditangani agar tidak berkepanjangan.
Salah satu metode yang diajarkan adalah teknik sederhana bernama 'lihat, dengar, cium, dan gerak'. Para prajurit diminta mengidentifikasi tiga objek di sekitar mereka, mendengarkan suara-suara khas, mencium beberapa aroma, lalu melakukan gerakan fisik seperti menghentakkan kaki. "Pengalihan perhatian yang cepat ini membantu meredakan respons fisiologis stres yang muncul seketika," ujar He, yang juga turun langsung ke area terdampak jika dibutuhkan.
Kehadiran konselor seperti He Lei menjadi penting karena para prajurit sering kali enggan mengakui kelelahan mental. "Sebagai anggota militer, kami tidak bisa menghindar dari kondisi sulit," katanya. "Saya ingin berada di garis depan sendiri—untuk melihat apakah ada prajurit yang butuh dukungan dan mengajari mereka teknik yang bisa dipakai mandiri."
Upaya ini merupakan bagian dari respons yang lebih besar. Tan Xiangdong, kepala komisi kesehatan daerah Xizang, mengungkapkan dalam konferensi pers pada 2 September bahwa otoritas kesehatan nasional dan regional telah mengirim lebih dari 210 ahli psikologi dalam tiga gelombang. Mereka tidak hanya menangani penyelamat, tetapi juga warga yang kehilangan rumah dan keluarga.
Bagi Indonesia, bencana serupa kerap terjadi di daerah rawan longsor seperti Jawa Barat atau Sumatera Barat. Pelajaran dari Nepal menunjukkan bahwa pemulihan bencana tidak hanya soal memperbaiki infrastruktur, tetapi juga memulihkan kesehatan mental para petugas dan korban. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia sebenarnya telah memiliki program dukungan psikososial, namun cakupannya masih terbatas. Kolaborasi dengan psikolog militer seperti yang dilakukan Tiongkok bisa menjadi contoh bagaimana membangun ketahanan mental di tengah krisis.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Tiongkok akan memperluas bantuan psikologis ini ke negara lain yang dilanda bencana, tetapi juga apakah negara-negara seperti Indonesia akan mengadopsi pendekatan serupa dalam prosedur penanggulangan bencana nasional. Dengan meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim, investasi pada kesehatan mental penyelamat menjadi semakin mendesak—bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama.



