Jessie J Hengkang dari Media Sosial demi Operasi Rekonstruksi Kanker dan Pemulihan Diri
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Price Tag' itu mengumumkan jeda panjang dari jagat maya untuk menjalani operasi rekonstruksi kedua pasca-kanker serta fokus pada kesehatan mental.
- Dalam unggahan emosional, ia mengakui dua tahun terakhir yang penuh tekananโmulai dari diagnosis kanker, perpisahan, hingga merilis albumโtelah menguras energinya.
- Keputusan ini menyoroti tren selebritas yang semakin terbuka tentang 'digital cleanse' sebagai bagian dari perawatan diri, sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental di industri hiburan.

Penyanyi pop asal Inggris, Jessie J, memutuskan untuk menarik diri sementara dari hiruk-pikuk media sosial demi memprioritaskan pemulihan fisik dan mentalnya. Dalam sebuah unggahan emosional di Instagram, pelantun "Price Tag" itu mengungkapkan rencananya menjalani operasi rekonstruksi kanker kedua serta keinginannya untuk "mengisi ulang energi" setelah dua tahun yang penuh gejolak.
Perempuan berusia 38 tahun itu menuturkan bahwa periode 24 bulan terakhir menjadi babak paling menantang dalam hidupnya. Ia harus berjuang melawan kanker payudara, melewati perpisahan dengan kekasihnya, Chanan Safir, ayah dari putranya yang berusia tiga tahun, Sky, sekaligus merilis album pertamanya dalam hampir satu dekade. Semua itu, menurutnya, telah "menguras tenaga" secara luar biasa.
"Saya ingin memulai dengan mengatakan bahwa saya baik-baik saja. Saya tidak dalam kondisi terbaik, tapi juga jauh dari titik terburuk," tulis Jessie J, Senin (7/9). Ia mengakui bahwa dua tahun terakhir terasa "magis, sukses, dan mengubah hidup", namun di saat yang sama juga melelahkan. "Saya mencintai sebagian besar momennya, membenci sebagian lainnya, dan belajar banyak tentang diri sendiri serta apa yang saya inginkan dari hidup," tambahnya.
Keputusan Jessie J untuk "berhenti sejenak" dari dunia maya bukanlah tanpa alasan. Ia merasa belum sempat memberikan "ruang dan kasih sayang" yang cukup untuk dirinya sendiri di tengah padatnya jadwal. "Sekarang waktunya. Pekerjaan mulai melambat, jadi semoga penyembuhan semakin cepat," ujarnya. Ia berencana memanfaatkan jeda ini untuk menjalani operasi rekonstruksi kedua, beristirahat, memproses emosi, serta meluangkan waktu berkualitas untuk sang buah hati.
Fenomena ini sejalan dengan tren yang berkembang di kalangan publik figur global, di mana semakin banyak yang terbuka tentang pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tekanan industri hiburan. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Ratna Djuwita, menilai langkah Jessie J sebagai bentuk "self-care" yang patut dicontoh. "Publik figur sering kali terjebak dalam tuntutan untuk selalu tampil sempurna di media sosial. Mengambil jeda justru menunjukkan keberanian untuk menetapkan batasan," ujarnya.
Bagi penggemar di Indonesia, keputusan Jessie J mungkin terasa relevan mengingat budaya "FOMO" (fear of missing out) yang marak di kalangan anak muda. Banyak yang merasa tertekan untuk selalu aktif di dunia maya, padahal dampaknya bisa berbahaya bagi kesehatan mental. Langkah Jessie J bisa menjadi pengingat bahwa istirahat dari media sosial adalah hal yang wajar dan perlu.
"Saya keluar dari dunia maya untuk sementara waktu dan masuk ke dunia nyata saya. Untuk memberi pelukan yang sangat dibutuhkan bagi pikiran, tubuh, dan hati saya," tulis Jessie J dalam unggahannya.
Meski demikian, Jessie J memastikan bahwa ia akan tetap muncul sesekali untuk keperluan pekerjaan, yang terkadang diwakili oleh timnya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para penggemar yang telah mendukungnya selama ini. "Sampai jumpa saat semuanya terasa tepat. Cinta untuk kalian semua," pungkasnya.
Ke depannya, publik akan menantikan apakah jeda ini akan melahirkan karya-karya baru yang lebih personal dari Jessie J, atau justru menjadi titik balik dalam kariernya. Yang jelas, keputusan ini menunjukkan bahwa di balik gemerlap panggung, ada manusia yang butuh waktu untuk bernapas. Pertanyaannya, akankah tren "digital cleanse" ini semakin banyak diikuti oleh selebritas lain, termasuk di Indonesia?



