Hamilton Desak Ferrari Terapkan Aturan Tertulis Usai Insiden dengan Leclerc di Monza
Baca dalam 60 detik
- Insiden lap pembuka di GP Italia memaksa Hamilton keluar lintasan dan membuatnya kehilangan posisi, memperlebar jarak poin dari pemuncak klasemen.
- Pembalap asal Inggris itu menilai kurangnya aturan internal yang jelas di Ferrari menjadi akar masalah, berbeda dengan masa kejayaannya di Mercedes.
- Seruan ini muncul di tengah tekanan besar bagi tim asal Italia untuk segera memperbaiki konsistensi demi mengejar gelar juara dunia.

Lewis Hamilton secara terbuka meminta Ferrari untuk segera menyusun aturan main tertulis antar pembalap setelah insiden kontroversial dengan rekan setimnya, Charles Leclerc, pada Grand Prix Italia di Monza, Minggu (6/9). Bentrokan di lap kedua itu tidak hanya merusak balapan Hamilton yang sempat turun ke posisi kesepuluh, tetapi juga memperlebar jarak poinnya dari pemuncak klasemen sementara, Kimi Antonelli, menjadi 76 poin.
Kejadian bermula ketika kedua pembalap Ferrari start dari baris kedua. Leclerc, yang akhirnya tersingkir setelah kecelakaan keras, mengakui bahwa mereka terlalu agresif di tikungan awal. Namun, Hamilton membantah keras narasi tersebut. Menurutnya, ia sudah unggul saat memasuki Tikungan 2 dan tidak ada alasan bagi Leclerc untuk tidak memberi ruang. "Saya di depan saat masuk tikungan. Di apex saya sudah di depan, jadi tidak ada kata 'kami' dalam insiden ini," tegasnya kepada wartawan.
Yang lebih menarik, Hamilton mengaitkan kejadian ini dengan budaya internal Ferrari yang dinilainya kurang memiliki aturan main yang ketat. Selama 12 tahun di Mercedes, ia mengaku timnya menerapkan aturan tertulis yang jelas tentang bagaimana dua pembalap harus bersaing di lintasan. "Di Mercedes kami punya aturan tertulis dan hampir tidak pernah ada masalah besar. Di sini tidak ada aturan sama sekali. Saya pikir itu yang perlu diubah," ujarnya. Pernyataan ini menjadi kritik tersirat terhadap manajemen Ferrari yang selama ini lebih mengandalkan kesepakatan lisan.
Mantan juara dunia Nico Rosberg, yang kini menjadi analis Sky Sports, mendukung penuh Hamilton. Menurutnya, insiden itu sepenuhnya kesalahan Leclerc karena gagal memberi ruang kepada pembalap yang sudah unggul posisi. "Sangat sederhana. Lewis di depan, jadi Charles harus memberi ruang. Dia tidak melakukannya, jadi 100 persen salah Charles," tegas Rosberg. Dukungan ini menambah tekanan publik kepada Leclerc yang sebelumnya sempat menyebut kedua pihak sama-sama bertanggung jawab.
Bagi pengamat Formula 1, seruan Hamilton ini bukan sekadar soal satu insiden. Ini menyoroti masalah struktural yang lebih dalam di Ferrari. Sejak era Michael Schumacher, tim asal Italia itu memang dikenal dengan persaingan internal yang panas, tetapi tanpa panduan tertulis, risiko konflik seperti ini akan terus berulang. Hamilton, yang bergabung musim lalu, tampaknya ingin membawa budaya profesionalisme ala Mercedes ke Maranello. Namun, perubahan semacam ini tidak bisa instan, terutama di tim yang sarat tradisi dan ego.
Di sisi lain, kekalahan di kandang sendiri menjadi pukulan telak bagi Ferrari. Dengan 403.666 penonton yang memadati sirkuitโrekor baruโharapan para tifosi untuk melihat kemenangan tim kesayangan mereka pupus sudah di lap kedua. Hamilton pun mengaku "sangat kecewa" untuk para penggemar yang sudah datang berbondong-bondong. Ia juga menyayangkan keputusan strategi yang terlambat, yang membuat Ferrari semakin tertinggal dari Mercedes dalam perburuan gelar konstruktor.
Insiden ini juga menjadi pelajaran berharga bagi pembalap muda Indonesia yang bercita-cita menembus F1. Persaingan ketat antar rekan setim adalah keniscayaan, tetapi tanpa aturan yang jelas, ambisi pribadi bisa merusak peluang tim. Di ajang seperti Formula 1, yang mengandalkan kerja tim presisi, kesepakatan hitam di atas putih sering kali menjadi pembeda antara tim juara dan tim yang hanya sekadar kompetitif.
Pertanyaan besarnya sekarang: akankah Ferrari benar-benar menyusun aturan tertulis seperti yang diminta Hamilton? Jika ya, apakah Leclerc akan menerimanya dengan lapang dada? Atau justru ini akan menjadi awal dari perpecahan yang lebih besar di dalam tim? Musim balap masih panjang, dan setiap keputusan yang diambil Ferrari dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan apakah mereka mampu bangkit atau kembali tenggelam dalam drama internal.



