Bayern Munich dan Ambisi Panggung Liga Champions: Kombinasi Kane-Olise yang Menakutkan
Baca dalam 60 detik
- Harry Kane mengoleksi 148 gol untuk Bayern di semua kompetisi, dengan 33 di antaranya di Liga Champions, dan siap memburu gelar yang belum pernah ia raih.
- Michael Olise tampil impresif dengan 22 gol dan 26 assist musim lalu, menjadi senjata tambahan di lini serang Bayern.
- Rekrutmen Ismael Saibari dan Nathaniel Brown memperdalam skuat, menutup celah krusial menjelang musim yang menuntut konsistensi tinggi.

Bayern Munich memasuki musim 2026/27 dengan status salah satu favorit juara Liga Champions, dan bukan tanpa alasan. Kombinasi lini serang mematikan yang dihuni Harry Kane dan Michael Olise, ditambah kedalaman skuat yang diperkuat rekrutan baru, menjadikan mereka ancaman serius bagi raksasa Eropa lainnya. Pertanyaan besarnya bukan apakah mereka mampu bersaing, melainkan mampukah mereka mengakhiri penantian panjang sejak gelar terakhir pada 2020?
Harry Kane, kapten timnas Inggris, telah membuktikan diri sebagai mesin gol sejak pindah dari Tottenham Hotspur pada 2023. Dengan torehan 148 gol di semua kompetisi, ia menjadi tulang punggung serangan Bayern. Di Liga Champions, kontribusinya tak kalah gemilang: 33 gol, termasuk gelar top skor bersama Kylian Mbappé pada musim pertamanya. Meski dua musim terakhir ia gagal mempertahankan gelar individu tersebut, produktivitasnya justru meningkat—11 gol lalu 14 gol—menunjukkan konsistensi yang menakutkan. Namun, gelar tim yang selalu ia kejar masih menjadi mimpi yang belum terwujud. Kekalahan tipis dari Real Madrid di semifinal 2024 dan PSG musim lalu meninggalkan luka yang dalam.
“Kami sangat dekat. Musim lalu hanya selisih tipis, kalah dari tim yang juara bertahan dua kali berturut-turut bukanlah aib,” ujar Kane kepada The Mirror menjelang laga melawan Bodø/Glimt. “Musim ini harus menjadi tahun kami. Kami harus menemukan cara untuk mewujudkannya.” Pernyataan itu menegaskan tekad bulat Kane, yang juga menjadi kandidat kuat Ballon d'Or setelah musim fantastis dengan 73 gol.
Di sisi lain, Michael Olise menjelma menjadi mimpi buruk bagi pertahanan lawan. Winger asal Prancis kelahiran London itu mencatatkan 22 gol dan 26 assist musim lalu, dan memulai musim ini dengan cepat—tiga gol dan satu assist di awal kompetisi. Gaya bermainnya yang elegan, sering memotong dari sayap kanan ke kiri favoritnya, membuat bek lawan kesulitan menghentikannya. Kylian Mbappé, rekan setimnya di timnas Prancis, memujinya: “Dia pemain untuk hari ini dan masa depan. Dia punya keanggunan dan visi. Michael jarang bicara, tapi kakinya berbicara untuknya. Terima saja dia apa adanya.”
Kedalaman skuat menjadi kunci dalam turnamen yang membutuhkan minimal 15 pertandingan untuk juara. Bayern menyadari hal ini dan bergerak cepat di bursa transfer. Ismael Saibari, yang tampil menonjol bersama Maroko di Piala Dunia 2026 dengan tiga gol, didatangkan dari PSV Eindhoven. Ia bisa menjadi pelapis Kane sekaligus menggantikan peran Nicolas Jackson, serta menutup kemungkinan absennya Jamal Musiala karena masalah medis. Nathaniel Brown, bek kiri dari Eintracht Frankfurt, juga direkrut dengan biaya signifikan. Kemampuannya bermain di beberapa posisi—termasuk bek kanan dan gelandang serang—memberi fleksibilitas taktis bagi pelatih Vincent Kompany. Ia bahkan langsung mencetak gol debutnya saat Bayern mengalahkan Borussia Dortmund di Piala Super.
Di lini tengah, kepergian Leon Goretzka ke Aston Villa tidak terlalu terasa berkat kehadiran Bara Sapoko Ndiaye. Bersama kapten Joshua Kimmich, Aleksandar Pavlović, dan Tom Bischof yang terus berkembang, lini tengah Bayern tetap solid. Secara historis, Bayern adalah raksasa Eropa dengan enam gelar Liga Champions, hanya kalah dari Real Madrid (15) dan AC Milan (7). Mereka juga rutin melaju ke babak gugur, selalu mencapai perempat final sejak 2020. Meski Arsenal yang menjadi runner-up musim lalu tidak bisa diremehkan, dan Manchester United kembali ke kompetisi setelah tiga tahun absen, Bayern tetap diunggulkan di grup mereka.
Pelatih Vincent Kompany menegaskan target timnya: “Target di Bayern selalu setinggi mungkin: memenangkan Bundesliga, Piala, Liga Champions, bahkan setiap pertandingan.” Meski hasil imbang melawan Schalke membuat target 'menang semua' mustahil, Kompany sempat mengistirahatkan Kane dan Olise di laga tersebut, menunjukkan prioritasnya pada kompetisi Eropa. Dengan lini serang yang tajam, skuat yang lebih dalam, dan sejarah yang mendukung, Bayern memiliki semua elemen untuk melaju jauh. Akankah musim ini menjadi akhir dari penantian panjang mereka? Atau justru mimpi buruk lain yang menanti? Yang jelas, Eropa sedang menonton dengan napas tertahan.



