Mourinho Kembali ke Bernabeu: Bisakah Ia Akhiri Kutukan Liga Champions di Real Madrid?
Baca dalam 60 detik
- Mourinho kembali menukangi Real Madrid setelah 13 tahun, dengan ujian pertamanya melawan Inter Milan di laga pembuka fase liga Champions.
- Rekornya di Madrid sebelumnya hanya sampai semifinal, sementara kini ia dituntut membangun stabilitas setelah musim buruk dan dua musim tanpa trofi.
- Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi Kylian Mbappe yang gagal penalti di laga terakhir, namun menegaskan fokus jangka pendek.

Madrid, 17 September 2025 โ Jose Mourinho kembali duduk di bangku cadangan Santiago Bernabeu untuk laga Liga Champions, dan lawan yang dihadapinya seolah membawa kembali memori manis sekaligus pahit. Inter Milan, klub yang memberinya trofi Si Kuping Besar ke-2 pada 2010, kini menjadi batu ujian pertama bagi pelatih asal Portugal itu dalam misi membawa Real Madrid meraih gelar ke-16. Pertemuan ini bukan sekadar laga pembuka fase liga, melainkan simbol dari ambisi besar yang belum tuntas sejak kepergiannya pada 2013.
Enam belas tahun silam, Mourinho mengantar Inter menaklukkan Bayern Munich 2-0 di final yang digelar di stadion yang sama. Kemenangan itu menjadi puncak kariernya di Eropa, setelah sebelumnya sukses membawa Porto juara pada 2004. Namun, kisahnya di Real Madrid pada periode pertama justru berakhir dengan kekecewaan. Meski meraih Copa del Rey 2011 dan La Liga 2012, ia gagal mempersembahkan gelar Liga Champions yang menjadi obsesi utama klub. Tiga kali berturut-turut anak asuhnya tersingkir di semifinal, masing-masing oleh Barcelona, Bayern Munich, dan Borussia Dortmund.
Kini, setelah lebih dari satu dekade, Mourinho kembali dengan status yang berbeda. Ia bukan lagi pelatih muda yang penuh ambisi, melainkan manajer senior dengan segudang pengalaman. Dalam konferensi pers menjelang laga, ia menegaskan bahwa masa lalunya di Madrid adalah babak tertutup. "Saya menjalani dua periode berbeda di Real Madrid. Yang pertama berakhir pada 2013. Laga melawan Inter tidak ada hubungannya dengan masa lalu," ujarnya. Namun, tekanan tetap membayang: klub tidak pernah puas dengan sekadar tampil di semifinal.
Musim lalu menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah modern Madrid. Tanpa trofi, pelatih sebelumnya dianggap gagal membangun tim yang solid. Mourinho sendiri mengakui bahwa stabilitas menjadi kata kunci. "Real Madrid adalah klub terbaik di dunia, tetapi kami harus membangun fondasi yang kuat setelah musim yang sangat rumit," katanya. Ia juga menegaskan filosofinya yang sederhana: "Real adalah Real, dan di sini Anda harus menang." Tekanan semacam ini bukan hal baru baginya, dan justru menjadi daya tarik utama bagi manajemen yang menginginkan sosok tegas di ruang ganti.
Dukungan datang dari pemain bintang, Kylian Mbappe. Penyerang asal Prancis itu menilai kehadiran Mourinho membawa aura kemenangan. "Dia tahu cara menang, cara mengelola grup, dan memberi motivasi kepada seluruh tim," kata Mbappe. Namun, performa Mbappe sendiri sedang disorot. Pada laga akhir pekan melawan Real Betis, tendangan penaltinya di masa injury time berhasil ditepis kiper lawan, yang berujung kekalahan 0-1. Meski demikian, ia menolak larut dalam tekanan. "Yang terpenting adalah mencetak gol, itu tanggung jawab saya. Kami sangat santai," ujarnya. Ia juga menepis anggapan bahwa dua musim tanpa trofi menjadi beban tambahan. "Saya tidak ingin berpikir jangka panjang karena banyak yang bisa berubah. Saya fokus untuk membantu tim menang besok," tambahnya.
Hubungan emosional Mourinho dengan Inter masih terasa kuat. Ia bahkan menyatakan ingin bertemu dengan orang-orang Inter sebelum dan sesudah laga. Namun, saat peluit berbunyi, tidak ada ruang untuk persahabatan. "Selama pertandingan, mereka tidak akan melihat saya sebagai teman. Saya ingin Real Madrid menang. Itulah sifat sepak bola," tegasnya. Meski begitu, ia tidak menganggap laga ini sebagai penentu segalanya. "Masih ada tujuh pertandingan lagi. Saya yakin kami dan Inter akan lolos, dan mungkin bertemu lagi nanti. Tetapi setiap poin sangat berharga," katanya.
Momen menarik terjadi saat konferensi pers berakhir. Seorang jurnalis asal Italia memberikan hadiah berupa alat penyiram taman kecil yang dibungkus pita. Itu adalah simbol dari semifinal leg kedua 2010 antara Inter dan Barcelona di Camp Nou. Saat itu, Inter kalah 0-1, tetapi tetap melaju ke final. Setelah peluit akhir, Mourinho berlari ke tengah lapangan untuk merayakan bersama pemainnya, dan tiba-tiba alat penyiram stadion menyala, membasahi dirinya dan para pemain. Gambar itu menjadi ikonik, menggambarkan kegembiraan murni yang tak terlupakan.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, laga ini menarik bukan hanya karena nostalgia, tetapi juga karena menjadi barometer kekuatan Real Madrid di Eropa. Banyak penggemar yang menantikan apakah Mourinho mampu mengulang suksesnya di Italia atau justru kembali menuai kegagalan. Pertanyaan besarnya: apakah ia bisa membawa Madrid menembus tembok semifinal yang selama ini menjadi kutukannya? Atau akankah Inter, yang pernah menjadi saksi kejayaannya, menjadi awal dari kisah baru yang sama manisnya? Kita tunggu saja bagaimana taktik dan mentalitas 'The Special One' bekerja di panggung terbesar Eropa.



