Rubio Menggebrak Amerika Latin: Tur Diplomatik untuk Mengunci Hegemoni AS
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memulai tur Amerika Latin di Kolombia untuk memperkuat hubungan dengan sekutu baru yang konservatif.
- Tur ini terjadi di tengah gelombang kemenangan sayap kanan di kawasan, yang oleh Washington dipandang sebagai peluang untuk memperluas pengaruh geopolitik dan ekonomi.
- Langkah AS ini berpotensi menggeser keseimbangan kekuatan di kawasan, dengan implikasi langsung bagi dinamika perdagangan dan investasi Indonesia di Amerika Latin.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mendarat di Kolombia pada Selasa (8/9) sebagai pembuka rangkaian kunjungan diplomatik ke tiga negara Amerika Latin. Agenda utamanya bukan sekadar seremonial, melainkan upaya nyata Washington untuk mengkonsolidasikan pengaruh di tengah pergeseran peta politik kawasan yang kini didominasi tokoh-tokoh konservatif.
Kedatangan Rubio disambut hangat oleh Presiden Kolombia yang baru dilantik, Abelardo de la Espriella. Pengacara berhaluan keras berusia 48 tahun ini memenangkan pemilihan Juni lalu dengan platform antikemapanan, mengalahkan kandidat sayap kiri. Kemenangannya menjadi titik balik hubungan Bogotá-Washington yang sebelumnya renggang di era pemerintahan Gustavo Petro yang beraliran kiri.
De la Espriella, yang dikenal flamboyan dan berasal dari kota pelabuhan Barranquilla—kampung halaman penyanyi Shakira—telah mengubah arah kebijakan luar negeri Kolombia secara drastis. Ia menghentikan perundingan damai dengan kelompok bersenjata yang terlibat narkotik, meningkatkan serangan udara, dan mengizinkan operasi militer bersama dengan militer AS. Kolombia juga resmi bergabung dalam koalisi "Perisai Amerika" yang digagas Trump untuk memerangi peredaran narkoba.
Dalam pertemuan di Barranquilla, Rubio dan De la Espriella dijadwalkan membahas bantuan rekonstruksi pascagempa bumi 10 Agustus lalu yang menewaskan lebih dari 330 orang di kawasan penghasil kopi. Pemerintah baru Kolombia meminta AS untuk menangguhkan bea masuk guna mempercepat pemulihan infrastruktur yang hancur, termasuk sekolah dan rumah sakit.
Tur ini berlangsung di tengah gelombang konservatisme yang melanda Amerika Latin sejak Trump kembali berkuasa pada Januari 2025. Argentina, Bolivia, Chili, Kosta Rika, Ekuador, Honduras, dan kini Kolombia telah beralih ke kepemimpinan yang lebih pro-AS. Washington bahkan secara terbuka menggaungkan kembali semangat Doktrin Monroe—yang kini dijuluki "Doktrin Donroe"—sebagai landasan kebijakan luar negerinya di kawasan, sebagaimana tertuang dalam Strategi Keamanan Nasional AS yang baru.
Rubio, yang merupakan arsitek utama kebijakan ini dan berdarah Kuba, juga akan mengunjungi Ekuador dan Peru. Di Ekuador, ia akan bertemu Presiden Daniel Noboa untuk membahas operasi bersama melawan kelompok kriminal Los Choneros yang terlibat narkotik. Sementara di Peru, Rubio dijadwalkan bertemu Presiden Keiko Fujimori yang baru menjabat sejak akhir Juli dan dikenal sejalan dengan kebijakan Washington.
Langkah AS ini tidak lepas dari kepentingan ekonomi yang besar. Beberapa hari sebelum tur, Washington mengumumkan kesepakatan untuk menguasai mayoritas cadangan minyak Venezuela yang mencapai lebih dari 65 miliar barel, menyusul penangkapan Nicolás Maduro. Ini menunjukkan bahwa Amerika Latin kembali menjadi ajang perebutan pengaruh antara AS dan kekuatan lain, terutama China yang juga gencar berinvestasi di kawasan.
"Kami melihat kembalinya AS sebagai kekuatan dominan di Amerika Latin, dan ini akan berdampak pada dinamika perdagangan global," ujar seorang analis geopolitik yang enggan disebut namanya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Selama ini, Indonesia menjalin hubungan dagang yang erat dengan beberapa negara Amerika Latin, terutama di sektor komoditas dan energi. Jika AS semakin menguatkan cengkeramannya, bukan tidak mungkin arus investasi dan harga komoditas akan terpengaruh. Indonesia perlu memperkuat diplomasi ekonomi untuk mengantisipasi perubahan peta kekuatan ini.
Pertanyaan besarnya, apakah tur Rubio ini akan berhasil mengunci pengaruh AS secara permanen, atau justru memicu perlawanan baru dari negara-negara yang merasa terdesak? Yang jelas, Amerika Latin kembali menjadi panggung utama pertarungan geopolitik abad ke-21, dan Indonesia harus siap membaca arah angin perubahan.



