Erupsi Anak Krakatau Dorong Lonjakan Penumpang KA Surabaya-Jakarta 88%
Baca dalam 60 detik
- KAI mencatat 6.707 penumpang dari Daop 8 Surabaya menuju Jakarta pada 7 September 2026, naik 88% dari hari normal.
- Lonjakan ini dipicu kekhawatiran warga atas erupsi Gunung Anak Krakatau yang memilih jalur darat sebagai alternatif.
- Permintaan tiket kereta diprediksi tetap tinggi dalam sepekan ke depan seiring status siaga gunung yang belum diturunkan.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak akhir pekan memicu pergeseran mobilitas warga Jawa Timur: PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat lonjakan penumpang rute Surabaya–Jakarta hingga 88 persen pada Senin, 7 September 2026, dengan total 6.707 pelanggan dari Daop 8 Surabaya. Angka ini jauh di atas rata-rata harian yang biasanya berkisar 3.500–4.000 penumpang, menjadikan hari tersebut sebagai salah satu puncak okupansi tertinggi sepanjang tahun.
Fenomena ini tidak lepas dari kekhawatiran masyarakat terhadap dampak erupsi yang sempat memuntahkan kolom abu setinggi ribuan meter dan memicu peringatan dini tsunami di sekitar Selat Sunda. Meski jalur Surabaya–Jakarta tidak berada dalam zona bahaya langsung, banyak warga yang memilih mempercepat perjalanan atau mengungsikan keluarga ke ibu kota sebagai langkah antisipasi. Kondisi ini serupa dengan pola yang terjadi saat erupsi besar tahun 2018, di mana permintaan transportasi darat melonjak drastis dalam beberapa hari setelah kejadian.
KAI sendiri merespons dengan menambah dua perjalanan ekstra pada koridor tersebut, sementara tiket kelas eksekutif dan bisnis dilaporkan habis terjual hingga H-3. Manajemen KAI Daop 8 menyatakan kesiapan armada dan petugas untuk menghadapi lonjakan yang diperkirakan masih berlanjut, terutama jika status Gunung Anak Krakatau belum diturunkan dari level siaga. Data dari Badan Geologi menunjukkan aktivitas vulkanik masih fluktuatif, dengan getaran tremor menerus terekam hingga Selasa pagi.
Bagi calon penumpang, situasi ini menjadi pengingat pentingnya fleksibilitas rencana perjalanan. Pembelian tiket melalui kanal resmi seperti KAI Access sangat disarankan, mengingat okupansi tinggi berpotensi menyebabkan antrean panjang di stasiun. Sementara itu, bagi pelaku industri pariwisata dan logistik, lonjakan ini memberikan gambaran bagaimana faktor bencana alam dapat mengubah pola permintaan transportasi secara signifikan dalam waktu singkat.
Di tengah situasi yang dinamis ini, pertanyaan besarnya adalah apakah lonjakan penumpang ini akan bertahan atau hanya bersifat sementara. Jika aktivitas vulkanik mereda, permintaan diprediksi kembali normal dalam beberapa hari. Namun, jika erupsi kembali menguat, bukan tidak mungkin KAI harus menyiapkan skema evakuasi yang lebih masif, mengingat jalur kereta menjadi tulang punggung mobilitas darat di Pulau Jawa. Keputusan pemerintah untuk menaikkan status siaga atau mempertahankan level saat ini akan menjadi penentu utama arah kebijakan transportasi dalam pekan-pekan mendatang.



