Banjir Terowongan Fukushima Tewaskan Satu Orang, Jepang Perketat Mitigasi Bencana Hidrometeorologi
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras akibat front hujan musim gugur yang stagnan memicu banjir di underpass Fukushima, menewaskan seorang perempuan dan memicu peringatan darurat level 5 di Kepulauan Izu.
- Kementerian transportasi Jepang mulai memberlakukan pembatasan lalu lintas preventif di tujuh underpass berisiko tinggi, menyusul insiden serupa di Chiba pada Agustus lalu.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan infrastruktur perkotaan terhadap cuaca ekstrem dan mendorong evaluasi ulang sistem peringatan dini serta tata ruang di kawasan rawan genangan.

Hujan deras yang mengguyur Jepang timur dan timur laut pada 7 September lalu memakan korban jiwa. Seorang perempuan ditemukan tewas setelah kendaraannya terperangkap banjir di sebuah underpass di Iwaki, Prefektur Fukushima. Peristiwa ini terjadi di tengah peringatan darurat cuaca level tertinggi yang dikeluarkan Badan Meteorologi Jepang (JMA) untuk sejumlah wilayah, termasuk Kepulauan Izu di Tokyo.
Banjir yang dipicu oleh front hujan musim gugur yang hampir tidak bergerak ini melumpuhkan sebagian besar wilayah Kanto dan Tohoku. JMA mencatat curah hujan 24 jam mencapai 581,5 milimeter di Stasiun Observasi Oshima hingga pukul 14.30 waktu setempat, angka tertinggi untuk bulan September sepanjang sejarah pencatatan. Sekitar 10.000 warga di desa Niijima, Toshima, dan kota Oshima menerima peringatan evakuasi level 5, level paling tinggi yang menuntut tindakan segera untuk menyelamatkan diri.
Di Iwaki, dua mobil terendam di sebuah underpass yang menghubungkan pusat perbelanjaan dan jalan prefektur. Seorang perempuan berusia 60-an yang terjebak di dalam mobilnya ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri dan kemudian dinyatakan meninggal di rumah sakit. Pengemudi mobil lainnya berhasil menyelamatkan diri. Underpass tersebut sebenarnya telah masuk dalam peta rawan genangan yang diterbitkan pemerintah kota, namun tidak ada pembatasan lalu lintas yang diberlakukan saat itu. Wali Kota Iwaki, Hiroyuki Uchida, berjanji akan memperkuat upaya peringatan dan melakukan inspeksi ulang untuk mempertimbangkan langkah-langkah mitigasi lebih lanjut.
Insiden di Fukushima ini menjadi pengingat pahit atas bencana serupa yang terjadi di Prefektur Chiba pada pertengahan Agustus lalu, di mana seorang pria tewas tenggelam di underpass yang sama di Kota Chiba. Menyusul kejadian tersebut, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang mulai memberlakukan pembatasan lalu lintas preventif di tujuh underpass yang dianggap sangat berbahaya di seluruh negeri. Salah satunya, underpass di National Route 16, Distrik Chuo, Kota Chiba, untuk pertama kalinya ditutup pada 7 September selama sekitar 10 jam setelah peringatan darurat hujan deras level 4 dikeluarkan.
Dampak hujan deras ini tidak hanya pada korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan transportasi publik. East Japan Railway Co. melaporkan pengurangan jumlah perjalanan kereta hingga 20-30 persen di jalur-jalur utama seperti Yamanote Line pada pagi hari. Layanan di sebagian jalur Tokaido, Chuo, dan Shonan-Shinjuku juga dihentikan sementara, mempengaruhi lebih dari 140.000 penumpang di wilayah metropolitan Tokyo. Sejumlah sekolah juga terpaksa diliburkan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini memberikan pelajaran berharga. Dengan kondisi geografis yang rawan banjir dan curah hujan tinggi, infrastruktur underpass di kota-kota besar seperti Jakarta kerap menjadi titik genangan saat hujan ekstrem. Sistem peringatan dini yang terintegrasi dengan pembatasan lalu lintas, seperti yang mulai diterapkan Jepang, dapat menjadi referensi. Selain itu, pentingnya pemetaan daerah rawan genangan dan sosialisasi kepada masyarakat menjadi kunci untuk mencegah jatuhnya korban jiwa. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengadopsi langkah-langkah preventif serupa sebelum tragedi serupa terjadi?



