Nilson Angulo Dinilai Jadi Bintang Masa Depan Sunderland: Lebih Eksplosif dari Le Fee?
Baca dalam 60 detik
- Winger asal Ekuador itu mencatatkan tingkat keberhasilan dribel 71% pada awal musim ini, mengungguli rekan setimnya, Enzo Le Fee.
- Performa Angulo menjadi sorotan di tengah lini serang Sunderland yang masih tumpul, dengan catatan hanya satu gol dari open play dalam tiga laga perdana Premier League.
- Jika konsisten, Angulo berpotensi menjadi penerus peran Jack Clarke sebagai penggedor utama di sisi sayap, sekaligus kunci perbaikan produktivitas tim.

Sunderland memasuki musim kedua mereka di Premier League dengan modal tiga laga awal: satu kemenangan, satu hasil imbang, dan satu kekalahan. Namun di balik start yang cukup solid itu, ada satu nama yang mulai mencuri perhatian: Nilson Angulo. Winger asal Ekuador yang direkrut dari Anderlecht pada Februari lalu dengan nilai transfer sekitar 17 juta poundsterling itu dinilai telah menunjukkan performa lebih eksplosif dibandingkan Enzo Le Fee, yang selama ini dianggap sebagai motor serangan utama The Black Cats.
Angulo, yang baru berusia 23 tahun, sempat kesulitan beradaptasi pada paruh kedua musim lalu. Ia hanya tampil sebagai starter dalam lima pertandingan Premier League. Namun setelah membela Ekuador di Piala Dunia dan menjalani pramusim penuh di bawah arahan Regis Le Bris, ia langsung tampil meyakinkan dengan menjadi starter di tiga laga awal musim ini. Kontribusinya pun tidak bisa dianggap remeh: satu-satunya gol Sunderland dari open play dalam kekalahan melawan Ipswich Town lahir dari aksinya.
Perbandingan dengan Le Fee menjadi menarik. Le Fee, yang musim lalu mencetak lima gol dan enam assist di Premier League, memang produktif. Namun statistik menunjukkan ia bukan tipe pemain yang suka membawa bola dan menusuk pertahanan lawanโrata-rata hanya 0,4 dribel sukses per laga. Sebaliknya, Angulo adalah winger natural yang selalu berusaha melewati bek lawan. Data awal musim ini mencatatkan tingkat keberhasilan dribelnya mencapai 71 persen, jauh lebih tinggi dari Le Fee yang hingga kini belum menghasilkan kontribusi gol dari open play.
Kehadiran Angulo seperti menjawab kerinduan suporter akan sosok winger yang bisa bikin bangku penonton bergemuruh, sesuatu yang terakhir kali mereka rasakan bersama Jack Clarke. Clarke, yang kini membela Ipswich Town, meninggalkan jejak manis di Stadium of Light dengan koleksi 28 gol dan 23 assist sepanjang kariernya di sana. Pada musim terakhirnya di Championship, ia bahkan mencetak 15 gol dan 4 assist dalam 40 penampilan. Angulo, dengan gaya bermainnya yang berani mengambil inisiatif, dianggap memiliki potensi untuk mengisi kekosongan tersebut.
Meski begitu, performa individu Angulo belum cukup untuk mengangkat lini serang Sunderland secara keseluruhan. Musim lalu, tim asuhan Le Bris ini finis di peringkat ketujuh dan lolos ke Liga Europa, tetapi statistik menyerang mereka memprihatinkan: menempati peringkat ke-18 untuk expected goals (xG) dengan catatan 38,9, dan peringkat ke-17 untuk jumlah gol dengan 42 gol. Ketajaman menjadi pekerjaan rumah utama jika mereka ingin bersaing di papan atas.
Menariknya, gaya bermain Angulo yang agresif justru bisa menjadi jawaban atas kebuntuan tersebut. Kemampuannya melewati lawan dan menciptakan peluang dari sisi sayap memberikan dimensi baru yang sebelumnya hilang. Jika ia mampu menjaga konsistensi, bukan tidak mungkin Sunderland akan memiliki mesin gol baru yang bisa diandalkan. Namun, Premier League adalah liga yang kejam; performa gemilang di awal musim harus dibuktikan dalam jangka panjang. Akankah Angulo mampu mempertahankan level permainannya dan menjadi katalisator kebangkitan Sunderland? Musim ini akan menjadi ujian sesungguhnya.



