Serangan ke Iran Memicu Harga Bensin AS Tembus Rp72.700, Janji Trump di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Harga bensin AS mencapai rekor tertinggi menjelang Labor Day, dipicu eskalasi konflik dengan Iran.
- Kenaikan ini memukul konsumen dan bertentangan dengan janji kampanye Trump untuk menekan biaya energi.
- Krisis pasokan global berpotensi berdampak pada harga minyak dunia dan inflasi di negara importir seperti Indonesia.

Menjelang libur panjang Labor Day, warga Amerika Serikat dihadapkan pada kenyataan pahit: harga bensin rata-rata nasional menembus US$4,13 per galon, setara Rp72.700, level tertinggi sepanjang sejarah untuk periode ini. Lonjakan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan pukulan telak bagi daya beli rumah tangga dan janji politik Presiden Donald Trump yang pernah berkomitmen menekan biaya energi.
Eskalasi militer antara AS dan Iran menjadi biang keladi utama. Serangan ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, serta keterlibatan kapal tanker, memicu kekhawatiran gangguan pasokan global. Harga minyak mentah pun kembali menembus US$90 per barel, mendorong harga bahan bakar di pompa bensin ikut meroket. Analis GasBuddy, Patrick De Haan, menyebut ini pertama kalinya harga bensin menembus US$4 per galon pada momen Labor Day, melampaui rekor sebelumnya sebesar US$3,83.
Di balik angka-angka itu, terdapat ironi yang semakin terasa. Trump, yang kerap memuji kemandirian energi AS, justru berada di posisi sulit. Pada 14 Agustus lalu, ia secara blak-blakan meminta warga AS bersedia membayar "sedikit lebih mahal" demi mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Namun, pernyataan itu kini berhadapan dengan realitas di lapangan: warga seperti Randi O'Brien dari Colorado hanya mampu membeli bensin senilai US$15 untuk truknya, seraya mengeluhkan situasi yang "benar-benar tak terkendali".
Yang lebih memprihatinkan, kelangkaan pasokan diperparah oleh kebijakan ekspor AS. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan ekspor produk olahan minyak meningkat lebih dari 10% dibanding tahun lalu, sementara stok bensin domestik turun ke 205,7 juta barel, di bawah rata-rata lima tahunan. O'Brien menangkap paradoks ini dengan tajam: "Kita memiliki bahan bakar sendiri, tapi justru mengirimkannya ke tempat lain." Kritik senada datang dari analis energi Tom Kloza yang memperingatkan harga solar berpotensi menembus rekor US$5,82 per galon, dan biaya perjalanan udara saat Labor Day diprediksi 20% lebih mahal.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar tontonan. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gejolak harga minyak global akan berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan inflasi domestik. Kenaikan harga minyak yang persisten dapat memaksa pemerintah menyesuaikan harga BBM bersubsidi atau memperbesar alokasi subsidi, yang pada akhirnya membebani fiskal. Para ekonom memperkirakan jika harga minyak bertahan di atas US$90, tekanan inflasi di negara berkembang seperti Indonesia akan meningkat, menggerus daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Trump mengelola krisis ini tanpa mengorbankan popularitasnya? Atau justru konflik dengan Iran akan terus mendorong harga energi lebih tinggi, memicu resesi global? Bagi pasar, setiap perkembangan di Timur Tengah akan menjadi penentu arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan. Sementara bagi warga AS, musim libur tahun ini terasa pahitโdi tengah hiruk-pikuk perayaan, mereka harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk mengisi tangki kendaraan.



