Sembawang Shipyard Menuju Senja: Dari Pangkalan Angkatan Laut ke Destinasi Baru Singapura
Baca dalam 60 detik
- Galangan bersejarah di utara Singapura akan menghentikan operasi pada 2028 untuk diubah menjadi kawasan tepi pantai serbaguna, menandai akhir era maritim yang panjang.
- Rencana pemerintah mencakup pelestarian warisan seperti King George VI Dock dan bekas bengkel, dengan ide mengubahnya menjadi ruang publik dan pusat komunitas.
- Para pekerja lama, seperti Wang Huiping dan Choo Xin Jian, menyimpan harapan agar sejarah galangan tidak hilang dan tetap dikenang oleh generasi mendatang.

Setelah lebih dari delapan dekade menjadi saksi bisu kejayaan maritim Singapura, galangan kapal Sembawang Shipyard—kini bernama Admiralty Yard milik Seatrium—bersiap mengucapkan selamat tinggal. Lahan seluas 86 hektare, hampir setara dengan Jurong Lake Gardens, akan dikembalikan kepada pemerintah pada 2028 untuk disulap menjadi kawasan tepi pantai yang hidup. Bagi para pekerja yang telah mengabdikan hidup mereka di tempat ini, kabar tersebut datang dengan perasaan campur aduk antara bangga dan kehilangan.
Wang Huiping, wakil presiden pemasaran Seatrium untuk perbaikan dan peningkatan, telah bekerja di galangan sejak lulus kuliah pada 1993. Ia mengaku setiap kali naik taksi, pengemudi masih kerap bertanya, "Ke Sembawang Shipyard?"—sebuah nama yang melekat kuat di benak banyak orang. Kini, suasana galangan yang dulu riuh dengan pekerja dan mesin mulai berubah menjadi sepi. "Saat melihat sekeliling, rasanya sangat nostalgia. Tidak banyak orang, tidak banyak kapal. Seperti menghitung hari," ujarnya, menggambarkan perasaan yang sulit diungkapkan.
Perdana Menteri Lawrence Wong, dalam pidato National Day Rally 2025, mengumumkan bahwa kawasan ini akan diubah menjadi destinasi tepi pantai yang kaya warisan namun dirancang ulang untuk masa depan. Rencananya mencakup ruang komunitas untuk konser, olahraga, dan pertunjukan, serta rumah tepi pantai, restoran, dan area rekreasi. Yang menarik, King George VI Dock—yang pernah menjadi galangan kering terbesar di dunia dengan volume 4,55 juta kaki kubik, setara 51 kolam renang Olimpiade—akan dilestarikan. Salah satu ide yang mengemuka adalah mengubahnya menjadi plaza umum yang cekung untuk kegiatan komunitas.
Sejarah Sembawang Shipyard dimulai pada 1938 ketika Inggris membangunnya sebagai pangkalan angkatan laut. Setelah sempat dikuasai Jepang selama Perang Dunia II, pangkalan ini diserahkan kepada Singapura pada 1968 dengan nilai simbolis S$1. Galangan kemudian dikomersialkan dan resmi dibuka pada 1971 oleh Presiden Benjamin Sheares. Pada masa jayanya, galangan ini mempekerjakan ribuan orang, dan banyak di antaranya tinggal di sekitarnya. Wang, yang bertemu suaminya di tempat kerja, mengenang semangat kekeluargaan yang kuat. "Dulu ada tukang cukur di dalam galangan untuk para pekerja," katanya, merujuk pada apa yang disebutnya sebagai 'semangat Sembawang'.
Selama bertahun-tahun, galangan ini bertransformasi dari sekadar tempat perbaikan kapal sederhana menjadi pusat keunggulan untuk kapal bernilai tinggi. Seatrium, yang terbentuk dari merger Sembcorp Marine dan Keppel Offshore & Marine pada 2023, mengembangkan kemampuan dalam retrofit kapal LNG dan peningkatan kapal pesiar. Choo Xin Jian, asisten wakil presiden operasi, menghabiskan 16 dari 20 tahun kariernya di bengkel mesin. Ia mengenang kerja lembur tanpa henti untuk proyek kapal pesiar yang jadwalnya ketat. "Kami bekerja sepanjang malam untuk memastikan produktivitas dan keselamatan tetap terjaga," ujarnya. Baginya, kepuasan melihat hasil akhir tidak ternilai harganya.
Choo berharap mesin-mesin tua yang masih berfungsi, beberapa di antaranya berusia hampir satu abad, dapat dilestarikan sebagai bagian dari warisan. Ia menceritakan bahwa ketika Inggris pergi, tidak ada manual operasi untuk mesin-mesin tersebut; para pekerja harus belajar secara otodidak. "Jika mesin masih bisa digunakan sesuai standar, tidak perlu membeli yang baru," katanya. "Begitu Anda memiliki perasaan terhadap peralatan tertentu, Anda ingin menjaganya tetap berjalan. Itulah kebanggaan yang dimiliki orang-orang."
Bagi Indonesia, kisah Sembawang Shipyard menawarkan pelajaran berharga tentang pengelolaan aset maritim bersejarah. Di tengah upaya pemerintah Indonesia untuk mengembangkan industri galangan kapal dan pariwisata bahari, transformasi Sembawang bisa menjadi model bagaimana warisan industri dapat diintegrasikan dengan pembangunan modern tanpa kehilangan identitas. Namun, pertanyaan yang muncul adalah apakah Indonesia siap mengadopsi pendekatan serupa untuk kawasan-kawasan seperti Surabaya atau Batam yang kaya sejarah maritim?
Seatrium sendiri berfokus pada transisi bertahap ke galangan baru di Tuas Boulevard, yang luasnya tiga kali lipat dari Sembawang. Proses ini dilakukan secara bertahap untuk memastikan kelancaran operasional dan proyek yang sedang berjalan. Choo mengakui perasaannya campur aduk saat meninggalkan tempat yang telah menjadi bagian hidupnya. "Tetapi dalam semua aspek kehidupan, evolusi dan transisi tidak bisa dihindari," katanya. "Saya bangga menjadi bagian dari sejarah Admiralty Yard, melihat perkembangannya dari Sembawang Shipyard hingga Seatrium."
Wang berharap generasi mendatang yang akan tinggal di kawasan baru ini memahami bahwa tempat ini bukan sekadar tanah kosong. "Saya harap mereka tahu bahwa ini bukan hanya sebidang tanah biasa," ujarnya. Dengan rencana yang matang, Sembawang Shipyard dapat menjadi contoh bagaimana sebuah kawasan dapat bertransformasi sambil tetap menghormati masa lalunya. Namun, apakah pelestarian warisan akan cukup untuk menjaga semangat tempat ini tetap hidup? Atau justru akan menjadi sekadar pajangan sejarah di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern? Waktu yang akan menjawab.



