Al Gore Peringatkan Krisis Iklim Makin Nyata: 'Berhenti Perlakukan Langit sebagai Got Raksasa'
Baca dalam 60 detik
- Mantan Wapres AS, Al Gore, menegaskan prediksi perubahan iklim 20 tahun lalu terbukti akurat dan mendesak aksi global yang lebih cepat.
- Investasi energi terbarukan kini melampaui bahan bakar fosil, namun laju transisi dinilai masih terlalu lambat untuk menghindari titik kritis berbahaya.
- Dengan AS yang mundur dari agenda iklim, China berpotensi mengambil peran kepemimpinan, termasuk menjadi tuan rumah COP33 pada 2028.

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore, kembali melontarkan peringatan keras: umat manusia harus segera menghentikan kebiasaan memperlakukan atmosfer sebagai tempat pembuangan limbah raksasa, atau bersiap menghadapi konsekuensi bencana yang semakin nyata. Dalam wawancara eksklusif dengan CNA di Singapura, Senin (7/9), Gore menegaskan bahwa prediksi yang ia sampaikan dua dekade lalu dalam film dokumenter *An Inconvenient Truth* kini terbukti "sangat akurat". Ia menyebut fakta bahwa para ilmuwan mampu memprediksi bencana yang sedang kita alami saat ini seharusnya menjadi alasan kuat untuk lebih mendengarkan peringatan mereka.
Gore, yang juga penerima Nobel Perdamaian 2007 bersama Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), mengungkapkan data yang mencengangkan: setiap hari, dunia memompa 175 juta ton gas rumah kaca ke atmosfer. Akumulasi panas yang terperangkap kini setara dengan ledakan 800.000 bom atom generasi pertama setiap hari. Ia juga menyoroti bahwa 11 tahun terakhir, sejak 2015 hingga 2025, merupakan periode terpanas yang pernah tercatat. Para ilmuwan bahkan memperkirakan tahun ini akan menjadi yang terpanas, dan 2027 berpotensi memecahkan rekor tersebut seiring fenomena "super El Nino" yang mendorong suhu lebih tinggi.
Di luar kenaikan suhu, krisis iklim juga mengacaukan siklus air. Lautan yang lebih hangat melepaskan lebih banyak uap air ke atmosfer, memicu hujan ekstrem yang dijuluki "rain bombs" atau bom hujan, yang silih berganti dengan kekeringan panjang dan dalam yang mengancam ketahanan pangan. Salah satu ancaman paling serius adalah hilangnya es di berbagai belahan dunia. Gore menyebut bencana di Nepal menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan lagi bahaya yang jauh. Ia memperingatkan bahwa 80 persen es di Himalaya diproyeksikan lenyap pada akhir abad ini jika tidak ada perubahan arah. Greenland kehilangan sekitar 30 juta ton es setiap jam, sementara Antartika juga semakin berkontribusi pada kenaikan permukaan laut.
Kombinasi naiknya permukaan laut dan gelombang badai yang lebih kuat menjadi ancaman serius bagi wilayah dataran rendah, termasuk Singapura dan beberapa kawasan pesisir Indonesia. Lebih jauh, Gore menyoroti bahaya kombinasi panas dan kelembapan ekstrem yang dapat membuat sebagian besar wilayah dunia tidak layak huni secara fisiologis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa dalam 25 tahun ke depan, lebih dari satu miliar pengungsi iklim dapat melintasi perbatasan internasional untuk melarikan diri dari kondisi yang tidak layak huni.
Namun, di tengah kabar buruk tersebut, Gore melihat secercah harapan: munculnya teknologi energi bersih yang terjangkau, seperti tenaga surya, angin, baterai, dan kendaraan listrik. Saat ini, satu dari empat mobil yang terjual di dunia adalah kendaraan listrik. Investasi global dalam energi terbarukan dan transisi keberlanjutan telah melampaui investasi di bahan bakar fosil. Meski demikian, Gore menegaskan bahwa laju perubahan ini masih jauh dari cukup. "Kita berada dalam perlombaan antara bahaya yang semakin cepat dan ketersediaan solusi yang juga semakin cepat," ujarnya.
Gore juga menolak keras narasi "realisme iklim" yang kerap dijadikan dalih untuk mempertahankan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Menurutnya, propaganda tersebut hanyalah bentuk lain dari penolakan terhadap perubahan iklim. "Yang kita saksikan adalah transisi yang tak terbendung menjauh dari bahan bakar fosil," tegasnya. Ia mencontohkan, biaya tenaga surya semakin murah dan bahan bakarnya gratis, sehingga industri bahan bakar fosil yang selama ini berkuasa berusaha mati-matian menghambat transisi ini. Gore bahkan menuding para politisi di beberapa negara, termasuk AS, berada di bawah kendali perusahaan-perusahaan besar tersebut.
Kunjungan Gore ke Singapura kali ini bukan tanpa tujuan. Sebagai pendiri dan ketua The Climate Reality Project, ia akan melatih sekitar 800 advokat iklim dalam program dua hari. Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan terkini tentang sains iklim, solusi, dan keterampilan komunikasi. "Sekutu terkuat saya adalah ibu pertiwi, karena sekarang sudah jelas bagi semua orang di dunia," kata Gore. Ia menekankan bahwa peristiwa cuaca ekstrem yang belakangan terjadi mulai menyadarkan banyak orang dan membuat mereka lebih terbuka terhadap solusi yang sudah tersedia.
Gore menyamakan gerakan melawan perubahan iklim dengan gerakan moral besar di masa lalu, seperti penghapusan perbudakan. "Kita sangat dekat dengan titik kritis di mana gerakan ini tidak hanya tak terbendung, tetapi akan berakselerasi," ujarnya. Ia percaya bahwa kemauan politik adalah sumber daya yang dapat diperbarui, dan pelatihan-pelatihan seperti ini adalah cara untuk memperbaruinya. Namun, ia juga menyayangkan sikap Presiden AS Donald Trump yang terus menyebut krisis iklim sebagai hoaks. "Presiden saya sendiri secara tragis terus menyebut krisis ini hoaks, yang jelas tidak masuk akal bagi orang yang waras," kata Gore. Meski demikian, ia menilai kekuatan ekonomi di balik transisi hijau terbukti tangguh. Tahun lalu, 92 persen kapasitas pembangkit listrik baru di AS berasal dari energi terbarukan. Investor melihat energi terbarukan lebih murah, lebih bersih, dan menciptakan tiga kali lebih banyak lapangan kerja per dolar yang dikeluarkan.
Dengan mundurnya AS dari inisiatif iklim global, Gore melihat China berpotensi mengambil peran diplomatik yang lebih besar. Ia menyebut indikasi bahwa China mempertimbangkan menjadi tuan rumah Konferensi Iklim PBB 2028 (COP33). Pertemuan di Beijing itu bisa menjadi sekuat Konferensi Paris satu dekade lalu. Meski China masih membangun pembangkit listrik tenaga batu bara, emisi bahan bakarnya mulai menurun. Gore memuji skala luar biasa peluncuran energi terbarukan China. "Mereka telah memilih dengan bijak untuk berinvestasi besar-besaran dalam tenaga surya, angin, kendaraan listrik, baterai, kereta cepat, dan bangunan efisien," pujinya.
Bagi Indonesia, peringatan Gore relevan dengan ancaman nyata yang dihadapi negara kepulauan ini. Kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem mengancam jutaan penduduk di pesisir, sementara ketergantungan pada energi fosil masih tinggi. Namun, potensi besar energi surya dan angin di Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal. Transisi energi yang adil dan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan. Pertanyaan yang menggantung: apakah Indonesia akan menjadi bagian dari solusi atau justru tenggelam dalam kelambanan?



