Kapten Arsenal Martin Odegaard Bangkit dari Tekanan: Meniru Jejak Redemption Granit Xhaka
Baca dalam 60 detik
- Martin Odegaard mencetak tiga gol dalam empat laga awal musim 2026/27, menjawab kritik atas performa inkonsistennya bersama Arsenal.
- Kebangkitan kapten asal Norwegia itu mengingatkan pada transformasi Granit Xhaka, yang sempat di ambang hengkang sebelum menjadi pilar penting di bawah Mikel Arteta.
- Dengan kontrak yang masih panjang, konsistensi Odegaard akan menjadi kunci ambisi Arsenal mempertahankan gelar juara Premier League.

Martin Odegaard sedang menikmati fase terbaiknya bersama Arsenal. Kapten asal Norwegia itu menjadi aktor utama kemenangan 2-1 atas Chelsea di Emirates Stadium, Minggu (18/10/2026), dengan gol spektakulernya yang membungkam para kritikus. Setelah musim-musim sebelumnya diwarnai inkonsistensi, performa impresifnya kini menjadi sorotan utamaโsebuah kebangkitan yang oleh banyak pengamat disamakan dengan kisah Granit Xhaka beberapa tahun lalu.
Jalur karier Odegaard di Arsenal memang tidak selalu mulus. Sejak ditunjuk sebagai kapten pada Juli 2022, ia telah memimpin tim melewati berbagai fase, termasuk kegagalan merebut gelar di dua musim terakhir. Musim lalu, ia hanya mencetak satu gol di semua kompetisi, memicu spekulasi bahwa klub siap melepasnya pada bursa transfer musim panas. Bahkan, dengan kehadiran Declan Rice, para pemain tetap memilihnya sebagai kaptenโsebuah bukti pengaruhnya di ruang ganti, meski performa di lapangan kerap dipertanyakan.
Kritik terhadap Odegaard mencapai puncaknya ketika Arsenal dianggap kehilangan daya ledak di lini tengah. Tanpa sosok kreatif seperti Kevin De Bruyne, tim asuhan Mikel Arteta dinilai gagal menembus pertahanan rapat lawan. Namun, musim 2026/27 ini segalanya berubah. Tiga gol dalam empat pertandingan awal, termasuk gol penentu kemenangan melawan Chelsea, menunjukkan bahwa pemain berusia 27 tahun itu telah menemukan kembali sentuhan terbaiknya. Arteta pun menggarisbawahi perubahan sikap Odegaard: "Dia menikmati sepak bolanya. Kehidupan pribadinya stabil, dia tersedia, berlatih dengan baik, dan memiliki rutinitas yang jelas."
Konteks kebangkitan Odegaard tidak bisa dilepaskan dari warisan kepemimpinan di Arsenal yang kerap dianggap sebagai "tangan panas". Sebelumnya, kapten-kapten seperti William Gallas, Cesc Fabregas, dan Pierre-Emerick Aubameyang meninggalkan klub dengan cara yang kontroversial. Namun, kisah Xhaka menjadi contoh nyata bahwa pemulihan citra mungkin terjadi. Pada Oktober 2019, Xhaka melepas ban kapten dan melemparkannya ke lapangan setelah diejek suporter saat digantikan dalam laga melawan Crystal Palace. Ia hampir hengkang, tetapi Arteta berhasil memulihkan kepercayaannya, mengubahnya menjadi gelandang serang yang produktif dengan sembilan gol dan tujuh assist pada musim 2022/23.
Kesuksesan Xhaka kemudian berlanjut di Bayer Leverkusen di bawah asuhan Xabi Alonso, yang kini menukangi Chelsea. Pada laga akhir pekan lalu, Alonso kembali merasakan ketajaman taktik Arteta, dengan Odegaard menjadi eksekutor utama. Gol tersebut lahir dari umpan Christos Tzolis, yang kemudian dituntaskan Odegaard dengan tendangan keras melewati Emiliano Martinez. Momen itu seakan menjadi simbol bahwa pemain berlabel ยฃ30 juta ini telah bangkit dari keterpurukan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Odegaard memberikan pelajaran berharga tentang manajemen tekanan terhadap pemain bintang. Di tengah gempuran ekspektasi publik, dukungan pelatih dan stabilitas mental menjadi faktor krusial. Arteta, yang pernah menjadi kapten Arsenal, tampaknya memahami betul cara membangkitkan kepercayaan diri pemainnya. Pertanyaannya kini, akankah Odegaard mampu mempertahankan performa ini hingga akhir musim? Jika ya, Arsenal bukan hanya akan bersaing ketat di papan atas, tetapi juga memiliki kapten yang benar-benar layak menyandang ban emas.



