Empat Raksasa Telekomunikasi Eropa Siapkan Konsorsium untuk Rebut Spektrum Satelit UE
Baca dalam 60 detik
- Deutsche Telekom, Orange, Vodafone, dan Telefonica dikabarkan tengah menjajaki pembentukan konsorsium untuk menggarap spektrum satelit 2 GHz yang dialokasikan Uni Eropa.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi Brussels untuk memperkuat kedaulatan satelit regional dan mengurangi dominasi pemain asing seperti Starlink.
- Jika terealisasi, konsorsium ini berpotensi mengubah peta persaingan layanan satelit-ke-ponsel di Eropa dan berdampak pada regulasi global.

Empat operator telekomunikasi terbesar di Eropa—Deutsche Telekom, Orange, Vodafone Group, dan Telefonica—dilaporkan tengah menjajaki pembentukan konsorsium bersama untuk mengikuti lelang spektrum satelit yang digagas Uni Eropa. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa raksasa telekomunikasi Benua Biru serius membangun layanan langsung dari satelit ke perangkat bergerak, sebuah lini bisnis yang selama ini didominasi pemain asal Amerika Serikat.
Menurut laporan Bloomberg News yang mengutip sumber yang mengetahui masalah ini, keempat perusahaan tersebut masih dalam tahap awal diskusi dan belum ada keputusan final. Rencananya, konsorsium ini akan mengajukan penawaran untuk mendapatkan porsi frekuensi 2 gigahertz yang oleh Komisi Eropa diusulkan khusus bagi operator lokal. Alokasi ini merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk memperkuat kemampuan satelit yang berdaulat di kawasan Eropa.
Ketika dimintai konfirmasi, Vodafone, Orange, dan Telefonica menolak berkomentar, sementara Deutsche Telekom belum memberikan respons hingga berita ini diturunkan. Sikap bungkam tersebut justru memicu spekulasi bahwa pembicaraan memang tengah berlangsung serius di balik layar.
Langkah ini tidak bisa dilepaskan dari keputusan Uni Eropa pada Mei lalu yang mengalokasikan sebagian besar spektrum satelit bernilai tinggi untuk layanan telepon seluler kepada perusahaan-perusahaan Eropa. Kebijakan itu secara eksplisit mengurangi porsi yang bisa diperoleh operator Amerika Serikat, sebagai bagian dari upaya melindungi industri domestik dan mengurangi ketergantungan pada raksasa teknologi asing.
Komisi Eropa telah menetapkan dua pertiga dari spektrum pada konstelasi satelit multi-orbit IRIS² yang terdiri dari 290 satelit untuk penggunaan komersial, dengan pembagian sama rata antara operator UE dan non-UE. Konsorsium yang digagas oleh empat operator besar ini dipersiapkan untuk memperebutkan jatah khusus operator Eropa tersebut.
IRIS² sendiri merupakan proyek ambisius yang digadang-gadang sebagai tandingan Starlink milik Elon Musk. Proyek ini dikelola oleh Komisi Eropa bersama konsorsium yang beranggotakan SES SA, Eutelsat, dan HispaSat. Dengan hadirnya konsorsium operator telekomunikasi, lanskap persaingan layanan satelit-ke-ponsel di Eropa diprediksi akan semakin kompetitif.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi yang tidak kecil. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau, layanan satelit-ke-ponsel dapat menjadi solusi untuk memperluas konektivitas ke daerah terpencil yang belum terjangkau infrastruktur darat. Operator telekomunikasi Indonesia, seperti Telkomsel dan Indosat, dapat mengambil pelajaran dari model konsorsium ini untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi spektrum di tingkat regional ASEAN.
Namun, perlu dicatat bahwa kebijakan proteksionis Uni Eropa ini juga dapat menjadi preseden bagi negara-negara berkembang untuk membatasi partisipasi asing dalam penguasaan spektrum. Jika tren ini meluas, operator global seperti Starlink mungkin menghadapi hambatan regulasi yang lebih ketat di berbagai yurisdiksi, termasuk Indonesia yang tengah menggodok regulasi terkait layanan satelit berorbit rendah.
Keputusan akhir dari empat operator Eropa tersebut masih dinanti. Apakah konsorsium ini akan benar-benar terbentuk dan mampu memenangkan lelang spektrum? Yang jelas, persaingan di sektor telekomunikasi satelit tidak lagi hanya soal teknologi, tetapi juga strategi geopolitik dan aliansi bisnis. Pertanyaannya, akankah operator Asia, termasuk dari Indonesia, segera menyusun langkah serupa?



