Harga Minyak Melesat ke Level Tertinggi Enam Pekan: Konflik Timur Tengah Menguji Pasokan Global
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI menembus level tertinggi sejak akhir Juli setelah Iran mengancam serangan balasan atas aset energi AS.
- Serangan terhadap kapal tanker komersial mengaburkan batas antara perang militer dan pelayaran niaga, memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
- Jika eskalasi berlanjut, analis memperkirakan harga bisa menembus US$120 per barel, dengan implikasi langsung pada inflasi dan harga energi domestik Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali bergejolak. Pada Senin (7/9), Brent ditutup menguat 1,1 persen ke level US$97,31 per barel, menandai titik tertinggi dalam enam pekan terakhir. Pemicunya: ancaman Iran untuk menyerang infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat terhadap aset-asetnya. Eskalasi ini tidak hanya memanaskan tensi geopolitik, tetapi juga mengirim sinyal kuat bahwa pasokan minyak global semakin rapuh.
Kenaikan ini terjadi setelah akhir pekan yang penuh ketegangan, ketika AS dan Iran saling melancarkan serangan terhadap kapal tanker dan kapal perang. Maritime intelligence firm Marisks menyebut bahwa kapal tanker komersial kini "sengaja dijadikan instrumen tekanan ekonomi timbal balik", mengaburkan batas tegas antara konfrontasi militer dan pelayaran niaga. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa jalur laut vital, terutama Selat Hormuz, bisa terganggu kapan saja.
Data dari Kpler menunjukkan rata-rata hanya 10 kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz per hari dalam sepuluh hari terakhir, terendah sejak Mei. Jika tren ini berlanjut, pasar bisa menghadapi guncangan pasokan yang jauh lebih besar. Priyanka Sachdeva, kepala wawasan pasar di Phillip Nova, mengingatkan bahwa pasar sudah mulai memperhitungkan risiko tersebut. Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga US$120 per barel jika serangan terhadap pengiriman meningkat.
Ketegangan tidak hanya terjadi antara AS dan Iran. Serangan Israel di Lebanon selatan pada hari yang sama menewaskan sedikitnya 12 orang, menambah daftar panjang korban dan memperkeruh suasana kawasan. Di sisi lain, kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco juga dilaporkan diserang, meski tingkat kerusakan masih dalam penilaian. Sebelumnya, sebuah kapal tanker milik Saudi diserang Iran, menewaskan dua pelaut, dan Oman mengevakuasi 16 awak kapal.
Bagi Indonesia, gejolak harga minyak ini memiliki arti penting. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan harga bahan bakar domestik. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam merancang kebijakan energi jangka pendek. Jika harga terus merangkak naik, tekanan inflasi bisa meningkat, mempengaruhi daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi makro.
"Jika lalu lintas tanker mulai melambat secara material, pasar dapat memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar. Dan sudah ada tanda-tanda bahwa ini sedang terjadi," ujar Priyanka Sachdeva, kepala wawasan pasar di Phillip Nova.
Di tengah kekacauan ini, OPEC+ memutuskan untuk mempertahankan kebijakan produksi minyaknya untuk Oktober, menunggu kesepakatan kuota baru. Langkah ini menunjukkan bahwa produsen utama masih gamang menghadapi situasi yang tidak menentu. Sementara itu, Uni Emirat Arab dikabarkan sedang membangun rute alternatif untuk ekspor energinya agar tidak "disandera" oleh perang AS-Iran.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah diplomasi meredakan ketegangan sebelum pasokan global benar-benar terganggu? Atau akankah harga minyak terus merangkak naik, membawa dampak ekonomi yang lebih luas? Bagi Indonesia, jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan seberapa besar ruang fiskal yang harus disiapkan untuk menghadapi gejolak energi.



