Singtel Konfirmasi Negosiasi Jual Saham Optus di Tengah Tekanan Regulasi Australia
Baca dalam 60 detik
- Singtel tengah menjajaki pelepasan sebagian kepemilikan di Optus, anak usaha telekomunikasi Australia, dengan beberapa calon investor.
- Optus menyumbang hampir separuh pendapatan grup Singtel, namun reputasinya terpuruk akibat dua kali gagal layanan darurat yang memicu kematian.
- Regulator Australia menggugat Optus ke pengadilan federal dengan potensi denda hingga A$250.000 per pelanggaran, memperkuat urgensi restrukturisasi.

Singtel, perusahaan telekomunikasi asal Singapura, secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka sedang dalam pembicaraan dengan sejumlah pihak terkait potensi penjualan saham di unit bisnisnya di Australia, Optus. Langkah ini muncul di tengah meningkatnya tekanan regulasi dan sorotan publik setelah serangkaian insiden gangguan layanan darurat yang berujung pada tuntutan hukum.
Optus, operator telekomunikasi terbesar kedua di Australia, telah menjadi bagian dari portofolio Singtel sejak 2001. Dalam tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, Optus mencatat pendapatan operasional sekitar A$8,35 miliar (setara US$5,8 miliar), atau hampir separuh dari total pendapatan grup. Meskipun angka ini naik tipis dari A$8,2 miliar pada periode sebelumnya, tekanan eksternal mulai menggerogoti nilai strategis aset tersebut.
Pada Mei lalu, manajemen Singtel mengindikasikan keterbukaan untuk menggandeng mitra minoritas asal Australia bagi Optus. Sebelumnya, Reuters pada 2024 melaporkan bahwa Singtel tengah dalam pembicaraan lanjutan untuk menjual saham signifikan kepada Brookfield Asset Management, meskipun saat itu perusahaan membantah kesepakatan akan segera terwujud. Kini, konfirmasi resmi Singtel menunjukkan bahwa proses tersebut masih berjalan, meskipun belum ada jaminan hasil akhir.
Tekanan terhadap Optus semakin menguat setelah dua kali kegagalan sistem yang melibatkan layanan panggilan darurat (emergency call service) pada September 2025. Insiden tersebut berdampak pada ribuan pengguna dan dikaitkan dengan dua kasus kematian. Akibatnya, dua eksekutif senior, termasuk direktur keuangan, harus meninggalkan posisinya. Otoritas Komunikasi dan Media Australia (ACMA) pada Kamis lalu mengumumkan telah memulai proses pengadilan federal terhadap Optus Mobile atas pelanggaran terkait pemadaman tersebut.
ACMA mendakwa Optus telah melanggar dua kewajiban hukum sebanyak 1.005 kali selama pemadaman September 2025, yaitu gagal menyediakan akses ke layanan panggilan darurat dan gagal memastikan panggilan tersebut tersalurkan ke titik tujuan yang relevan. Regulator meminta pengadilan menjatuhkan denda hingga A$250.000 per pelanggaran, yang secara agregat bisa mencapai angka yang sangat besar. Optus, dalam tanggapan tertulisnya, mengakui proses hukum tersebut dan menyatakan terus berinvestasi dalam ketahanan jaringan serta memperkuat sistem dan prosedur internal.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi tersendiri. Singtel merupakan salah satu pemain utama di kawasan Asia Tenggara, dan keputusan strategisnya kerap menjadi indikator iklim investasi telekomunikasi regional. Jika Singtel benar-benar melepas sebagian saham Optus, hal itu bisa menandai pergeseran fokus grup ke pasar lain, termasuk kemungkinan peningkatan investasi di Indonesia melalui anak usahanya seperti Telkomsel (dimiliki bersama Telkom Indonesia). Di sisi lain, kasus Optus menjadi pengingat bagi operator telekomunikasi di Indonesia akan pentingnya keandalan layanan darurat, terutama mengingat regulasi yang semakin ketat dari Kominfo.
Analis memperkirakan bahwa tekanan regulasi dan reputasi akan memaksa Singtel untuk mempercepat proses divestasi, meskipun negosiasi masih bisa memakan waktu berbulan-bulan. Pertanyaan kuncinya kini: akankah mitra baru yang masuk mampu memulihkan kepercayaan publik dan memenuhi tuntutan regulator Australia, atau justru sebaliknya?


