Bandara Soetta Lumpuh Akibat Erupsi, Potensi Kerugian Ekspor-Impor Capai Rp2,96 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Penutupan Bandara Soekarno-Hatta karena abu vulkanik mengancam arus perdagangan internasional senilai Rp2,96 triliun jika berlangsung dua hari.
- Setiap jam gangguan diperkirakan menahan barang senilai US$3,5 juta, dengan komoditas prioritas seperti farmasi dan elektronik paling rentan.
- Pakar logistik mendesak pemerintah dan pelaku usaha menyiapkan rencana kontingensi serta moda transportasi alternatif untuk memitigasi risiko rantai pasok.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang memaksa Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang menghentikan operasionalnya pada awal pekan ini membawa konsekuensi jauh lebih besar dari sekadar penundaan jadwal penerbangan. Setiap jam kelumpuhan bandara terbesar di Indonesia itu berpotensi menahan arus barang ekspor-impor senilai miliaran rupiah, sebuah skenario yang oleh pengamat logistik disebut sebagai ujian nyata bagi ketahanan rantai pasok nasional.
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menggarisbawahi bahwa Soetta bukan sekadar simpul transportasi, melainkan gerbang utama perdagangan internasional untuk komoditas bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu. Data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan menunjukkan, sepanjang tahun lalu nilai ekspor nonmigas yang melintasi bandara ini mencapai US$9,90 miliar, sementara impor menembus US$20,77 miliar. Jika ditotal, arus perdagangan bruto tahunan mencapai US$30,67 miliar, atau setara dengan US$84 juta per hari.
Dampak langsung dari penutupan operasional yang berlangsung delapan jam pertama saja, menurut perhitungan SCI, telah menahan potensi transaksi sekitar US$28 juta—terdiri dari US$9 juta ekspor dan US$19 juta impor—termasuk hampir 160 ton barang impor yang seharusnya masuk. Angka ini membengkak drastis apabila gangguan berlanjut. Dalam skenario 48 jam, nilai indikatif barang yang tertunda mencapai US$168 juta atau sekitar Rp2,96 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.630 per dolar AS), mencakup 960 ton impor yang nyangkut di bandara.
Setijadi menegaskan bahwa estimasi tersebut baru mencakup perdagangan internasional, belum termasuk pengiriman domestik yang juga ikut terdampak. Ia juga mengingatkan bahwa angka ini bukanlah kerugian langsung, melainkan nilai barang yang berpotensi tertunda. “Kerugian aktual sangat bergantung pada berapa lama penerbangan dibatalkan, seberapa cepat kargo dialihkan, jenis komoditas, dan kecepatan pemulihan operasional,” ujarnya. Perhitungan ekspor menggunakan nilai FOB (free on board), sementara impor memakai CIF (cost, insurance, freight), sehingga fluktuasi biaya asuransi dan pengangkutan turut memengaruhi besaran akhir.
Dalam jangka pendek, SCI merekomendasikan aktivasi protokol tanggap darurat yang melibatkan pengelola bandara, maskapai, freight forwarder, Bea Cukai, karantina, dan pemilik barang. Langkah prioritas mencakup pemantauan sebaran abu secara real-time, penjadwalan ulang penerbangan, penambahan kapasitas, percepatan dokumen, serta pengalihan kargo ke bandara alternatif. Komoditas yang harus mendapat prioritas adalah barang mudah rusak, farmasi, komponen produksi kritis, elektronik bernilai tinggi, dan kiriman ekspres. Untuk pengiriman domestik, moda darat, kereta api, laut, atau multimoda bisa menjadi penyelamat sementara.
Setijadi menekankan bahwa kejadian ini menjadi alarm bagi perusahaan untuk memiliki rencana kontinuitas bisnis yang matang. “Setiap pelaku usaha yang bergantung pada Soetta perlu menyusun skenario gangguan dengan durasi berbeda, menetapkan bandara dan moda alternatif, serta menjalin kontrak kapasitas cadangan dengan penyedia jasa logistik,” jelasnya. Importir disarankan menambah persediaan pengaman untuk bahan baku kritis, sementara eksportir perlu menyiapkan gudang dan fasilitas rantai dingin alternatif agar produk tetap terjaga kualitasnya.
Pada tataran yang lebih luas, pemerintah didorong untuk segera merancang protokol logistik kebencanaan yang melibatkan lintas kementerian dan lembaga. Tanpa koordinasi yang solid, gangguan penerbangan akibat erupsi bisa dengan cepat menjalar menjadi kekacauan rantai pasok dan produksi yang berdampak pada perekonomian nasional. Pertanyaannya, apakah insiden ini akan menjadi titik balik bagi Indonesia untuk memperkuat infrastruktur logistik daruratnya, atau justru berulang menjadi duri dalam perdagangan setiap kali alam menunjukkan amarahnya?



