Empat Kali Paper Test Negatif, Bandara Soetta Masih Ditutup: Menhub Ungkap Alasan di Balik Kehati-hatian
Baca dalam 60 detik
- Meski empat kali pengujian kertas menunjukkan nihil abu vulkanik, Bandara Soekarno-Hatta belum dibuka karena risiko pergeseran arah angin.
- Kementerian Perhubungan menyiapkan lima bandara alternatif untuk mengantisipasi kelumpuhan penerbangan di sekitar Gunung Anak Krakatau.
- Penutupan berkepanjangan berpotensi mengganggu konektivitas nasional dan rantai pasok logistik udara, mendesak kepastian waktu pembukaan.

Empat kali pengujian kertas (paper test) di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menunjukkan hasil negatif dari sebaran abu vulkanik, namun bandara utama Indonesia itu tetap belum beroperasi. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa keputusan pembukaan tidak bisa diambil tergesa-gesa, mengingat dinamika cuaca yang masih berpotensi mengubah arah sebaran abu dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Dalam rapat terbatas virtual bersama Presiden Prabowo Subianto, Senin (7/9/2026), Dudy mengungkapkan bahwa hasil paper test yang negatif belum menjadi jaminan keamanan penuh. "Kami ingin memastikan betul, mengingat kemarin terjadi perubahan angin yang semula bergerak dari barat ke timur, kemudian berbalik arah," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran bahwa abu vulkanik yang sempat terbawa ke arah lain bisa kembali melayang ke wilayah bandara jika pola angin berubah lagi.
Kehati-hatian ini bukan tanpa alasan. Abu vulkanik merupakan ancaman serius bagi keselamatan penerbangan—partikelnya dapat mengikis kaca kokpit, menyumbat mesin jet, dan mengganggu sistem navigasi. Oleh karena itu, meskipun uji laboratorium menunjukkan kondisi bersih, aspek meteorologi tetap menjadi variabel krusial yang harus dipantau secara berkelanjutan. Langkah Kemenhub ini sejalan dengan standar internasional yang mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam operasional penerbangan saat terjadi fenomena alam.
Penutupan Soetta—yang melayani puluhan ribu penumpang setiap hari—tentu menimbulkan dampak signifikan. Sebagai respons, Kementerian Perhubungan telah menyiapkan lima bandara alternatif: Kertajati (Jawa Barat), Juanda (Surabaya), Ahmad Yani (Semarang), Adi Soemarmo (Solo), dan Yogyakarta. Langkah ini diambil untuk memastikan konektivitas udara tetap berjalan, meski dengan pengalihan rute yang memakan waktu lebih lama dan biaya lebih tinggi bagi maskapai maupun penumpang.
Bagi Indonesia, penutupan bandara utama seperti Soetta bukan sekadar gangguan operasional. Soetta adalah gerbang internasional yang menghubungkan Nusantara dengan dunia. Setiap jam penutupan berarti potensi kerugian ekonomi yang tidak sedikit—mulai dari sektor pariwisata, bisnis, hingga pengiriman barang. Para pelaku industri penerbangan dan penumpang pun mulai mempertanyakan kapan kepastian pembukaan akan tiba, mengingat dampak berantai yang ditimbulkan.
Menanggapi situasi ini, pengamat penerbangan menilai bahwa keputusan Kemenhub untuk tidak terburu-buru adalah langkah yang tepat. "Lebih baik menunda beberapa jam daripada mengambil risiko keselamatan," kata seorang analis yang enggan disebut namanya. Namun, ia juga menyoroti perlunya koordinasi yang lebih transparan dengan publik agar masyarakat dapat mengatur ulang rencana perjalanan mereka dengan baik.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: kapan Bandara Soetta akan kembali beroperasi? Jawabannya bergantung pada konsistensi data pemantauan angin dan abu vulkanik dalam beberapa hari ke depan. Jika pola angin stabil dan hasil paper test terus negatif, bukan tidak mungkin bandara akan segera dibuka. Namun, jika erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlanjut, penutupan bisa diperpanjang—dan itu berarti kesabaran ekstra bagi semua pihak yang bergantung pada layanan penerbangan.



