Qatar: Keamanan Teluk Tak Bisa Bergantung pada AS, Kemandirian Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar menegaskan bahwa negara-negara Teluk harus mandiri dalam hal keamanan, tidak hanya mengandalkan aliansi dengan AS.
- Pernyataan ini muncul di tengah kebuntuan perang AS-Iran yang telah berlangsung enam bulan, dengan serangan Iran yang menargetkan infrastruktur energi Qatar.
- Langkah Qatar untuk memperkuat kemandirian keamanan dapat menjadi preseden bagi negara-negara lain di kawasan, termasuk Indonesia yang juga mengandalkan mitra internasional.

Abu Dhabi, 7 September 2025 โ Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, dalam forum Hili di Abu Dhabi, Senin (7/9), menegaskan bahwa negara-negara Teluk tidak bisa hanya bersandar pada Amerika Serikat dan aliansi internasional lain untuk menjaga keamanan mereka. Ia menekankan bahwa kemandirian di bidang keamanan adalah satu-satunya jalan ke depan, meskipun kemitraan strategis dengan Washington tetap penting.
Pernyataan ini muncul di tengah kebuntuan perang AS-Iran yang telah berlangsung enam bulan. Iran, yang kerap merespons serangan AS dengan menyerang instalasi militer Amerika dan fasilitas energi di kawasan, juga telah menargetkan infrastruktur energi Qatar. Negara yang kaya gas ini menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah, namun tetap rentan terhadap serangan balasan Iran.
Menurut jubir tersebut, memiliki pasukan internasional dan aliansi strategis memang penting, tetapi tidak cukup. "Kita perlu menyadari di Teluk bahwa memiliki kekuatan internasional di kawasan, memiliki aliansi strategis dengan AS, sangat penting, tetapi tidak cukup," ujarnya. Ia menambahkan, "Kemandirian dalam hal keamanan adalah satu-satunya jalan ke depan. Ya, kita butuh mitra. Ya, kita butuh sekutu. Tetapi kita tidak bisa bergantung pada mereka sendirian."
Qatar sendiri telah memainkan peran sebagai mediator kunci dalam konflik AS-Iran. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, bulan lalu melakukan perjalanan ke Teheran sebagai bagian dari upaya mediasi. Langkah ini diambil setelah Iran dan Oman, yang berbatasan dengan Selat Hormuz, membahas kemungkinan koridor pengiriman sementara dan pembersihan ranjau di jalur strategis tersebut.
Bagi Indonesia, pernyataan Qatar ini relevan dengan dinamika keamanan regional yang semakin kompleks. Indonesia, yang selama ini mengandalkan kebijakan bebas aktif dan tidak terikat aliansi militer formal, dapat menarik pelajaran dari pentingnya kemandirian pertahanan. Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik AS-Iran, stabilitas Selat Hormuz sangat berpengaruh pada harga energi global, yang berdampak pada perekonomian Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.
Lebih jauh, pernyataan Qatar menggarisbawahi tren di kawasan Teluk untuk mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal. Hal ini sejalan dengan upaya diversifikasi ekonomi dan pembangunan kapabilitas pertahanan mandiri yang sedang dilakukan sejumlah negara Teluk. Namun, pertanyaannya adalah sejauh mana negara-negara kecil seperti Qatar dapat benar-benar mandiri di tengah tekanan geopolitik yang begitu besar.
Ke depan, apakah pernyataan Qatar ini akan diikuti oleh langkah konkret dalam penguatan kapabilitas pertahanan domestik, atau hanya sekadar retorika diplomatik? Yang jelas, pergeseran sikap ini mencerminkan realitas baru di Timur Tengah, di mana aliansi tradisional tidak lagi dianggap cukup untuk menjamin keamanan.



