Gunung Anak Krakatau Lumpuhkan Penerbangan: 270.000 Penumpang Terdampak, Tiket Kereta Ludes
Baca dalam 60 detik
- Letusan Gunung Anak Krakatau sejak 4 September memaksa delapan bandara di Indonesia menutup operasional, memengaruhi lebih dari 270.000 penumpang dan 2.300 penerbangan.
- Penutupan ini memicu lonjakan harga tiket pesawat hingga tiga kali lipat dan meningkatkan permintaan kereta api, dengan penumpang dari Surabaya ke Jakarta naik 88 persen.
- Pemerintah menyiapkan enam bandara alternatif dan transportasi gratis, tetapi pakar menilai kesiapan operasional masih terhambat karena sumber daya tertahan di Jakarta.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak pekan lalu telah melumpuhkan lalu lintas udara di sebagian besar Indonesia, memaksa lebih dari 270.000 penumpang mencari jalur darat dan laut, sementara harga tiket pesawat meroket hingga dua kali lipat dan tiket kereta api ludes terjual. Kejadian ini tidak hanya menguji kesiapan infrastruktur transportasi nasional, tetapi juga menyoroti kerentanan sistem penerbangan Indonesia terhadap bencana geologis.
Kementerian Perhubungan mencatat hingga Senin pagi, sekitar 2.300 penerbangan batal, tertunda, atau dialihkan, dengan delapan bandara sempat ditutup, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang yang menjadi gerbang utama Indonesia. Satu bandara, Atung Bungsu di Sumatera Selatan, telah kembali beroperasi, namun sisanya masih belum jelas kapan akan dibuka. Dampaknya terasa hingga ke mancanegara: seorang warga Indonesia di Singapura, Helen (58), terpaksa menunda kepulangannya karena penerbangan Singapore Airlines dibatalkan, dan baru mendapat jadwal alternatif pada 12 September.
Di tengah ketidakpastian ini, para pelancong mengambil jalur darat yang panjang. Achmad Rifyannur, seorang kreator konten perjalanan asal Bali, mengaku perjalanan singkat dua jam dari Bali ke Jakarta berubah menjadi 27 jam melalui feri dan kereta api. Tiket kereta langsung dari Banyuwangi ke Jakarta telah habis, memaksanya menempuh rute dengan beberapa kali ganti kereta. Kisah serupa dialami komedian asal Malaysia, Jason Leong, yang harus menempuh perjalanan kereta enam jam dari Jakarta ke Yogyakarta untuk selanjutnya terbang ke Kuala Lumpur, karena Bandung tidak memiliki rute langsung dan Surabaya berada dekat Gunung Semeru yang juga berstatus waspada.
Lonjakan permintaan transportasi darat terlihat jelas pada data PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pada 7 September, jumlah penumpang dari wilayah Surabaya menuju Jakarta mencapai 6.707 orang, melonjak 88 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Kenaikan ini juga tercermin pada harga tiket pesawat ke bandara-bandara alternatif. Tiket Scoot Singapura-Semarang yang semula 4,3 juta rupiah pada Senin pagi, naik menjadi 6,6 juta rupiah hanya satu jam kemudian. Tiket Singapore Airlines ke Surabaya bahkan menembus 10 juta rupiah, lebih dari dua kali lipat tarif normal.
Merespons situasi ini, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengumumkan penunjukan enam bandara alternatif di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, serta menjanjikan kereta dan bus gratis bagi penumpang yang dialihkan. Namun, pakar penerbangan independen Gerry Soejatman menggarisbawahi bahwa pengalihan rute tidak semudah membalikkan telapak tangan. Maskapai harus mengirimkan kru darat, teknisi, dan suku cadang ke bandara tujuan, sementara sumber daya tersebut saat ini masih tertahan di Jakarta. โDengan 170 pesawat yang masih parkir di landasan Soekarno-Hatta, pembatalan dan penundaan akan terus terjadi hingga bandara dibuka kembali,โ ujarnya.
Di sisi lain, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai mereda. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyatakan bahwa semburan lava yang berlangsung 25 jam sejak Jumat malam telah berhenti pada Minggu pagi, meskipun erupsi kecil masih terekam. Namun, status siaga level 3 dan larangan mendekat dalam radius 3 kilometer tetap diberlakukan. Para pejabat memastikan tidak ada ancaman tsunami seperti yang terjadi pada 2018, tetapi langkah pembersihan landasan pacu, taxiway, dan apron harus dilakukan sebelum bandara dapat kembali beroperasi.
Bagi para pelancong yang masih menanti kepastian, satu pertanyaan besar menggantung: kapan bandara akan kembali dibuka dan penerbangan normal? Sementara itu, mereka yang terjebak harus merogoh kocek lebih dalam atau bersabar menempuh jalur darat yang panjang. Pemerintah dan maskapai dituntut untuk berkomunikasi lebih transparan dan menyiapkan skenario jangka panjang, mengingat Indonesia berada di kawasan cincin api yang rawan bencana serupa. Apakah sistem transportasi nasional akan belajar dari kejadian ini untuk lebih tangguh menghadapi gangguan berikutnya?



