Laba PT Garam Melonjak ke Rp112 Miliar, Dividen untuk Negara Naik
Baca dalam 60 detik
- PT Garam menutup tahun buku 2025 dengan pendapatan Rp374,68 miliar, melesat 67% dibanding periode sebelumnya.
- RUPS menyetujui dividen Rp11,58 miliar untuk negara, mencerminkan perbaikan fundamental BUMN karya.
- Ekspansi pabrik dan proyek strategis menjadi tumpuan untuk mengejar target swasembada garam nasional.

PT Garam (Persero) mencatatkan lonjakan laba bersih menjadi Rp112,02 miliar sepanjang tahun buku 2025, ditopang pendapatan usaha yang tumbuh 67% menjadi Rp374,68 miliar. Capaian ini sekaligus mendorong pembagian dividen kepada negara sebesar Rp11,58 miliar, sebuah sinyal penguatan kinerja BUMN di tengah tekanan musim produksi yang pendek.
Angka tersebut kontras dengan realisasi 2024 yang hanya membukukan pendapatan Rp224,34 miliar. Pertumbuhan ini tidak lepas dari strategi optimalisasi aset dan penyerapan bahan baku alternatif ketika produksi garam lokal terganggu. Bagi pelaku industri, kinerja ini menjadi indikator bahwa BUMN garam mulai mampu beradaptasi dengan fluktuasi cuaca yang kerap menjadi momok produktivitas.
Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, menegaskan bahwa laba tersebut merupakan buah kerja kolektif sekaligus amanah untuk terus menciptakan nilai. "Kami bersyukur kinerja ini dapat diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata kepada negara melalui pembayaran dividen," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (7/9/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen perusahaan untuk tidak hanya mengejar profit, tetapi juga memperkuat peran strategisnya dalam ekosistem industri garam nasional.
Di luar pencapaian finansial, PT Garam tengah mempercepat sejumlah proyek strategis. Perusahaan menyiapkan penguatan struktur permodalan dan belanja modal untuk mengoperasikan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN), membangun pabrik baru, serta mengembangkan teknologi MVR di Manyar dan Balikpapan. Proyek Pegaraman Rote juga masuk dalam daftar prioritas. Langkah ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional yang mengusung tiga pilar: intensifikasi, ekstensifikasi, dan pemanfaatan teknologi.
Bagi Indonesia, penguatan PT Garam memiliki arti lebih luas. Impor garam yang masih tinggi selama ini menjadi beban neraca dagang. Jika proyek-proyek tersebut berjalan sesuai rencana, ketergantungan pada garam impor dapat ditekan secara bertahap. Namun, tantangan tetap ada: musim produksi yang pendek dan kualitas produk yang harus memenuhi spesifikasi industri. PT Garam mengklaim telah meningkatkan kualitas produk dan memperkuat penetrasi pasar untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa konsisten PT Garam menjaga momentum pertumbuhan di tengah perubahan iklim dan dinamika pasar. Dengan fundamental yang membaik dan dukungan regulasi, perusahaan optimistis dapat terus berkontribusi pada swasembada garam. Namun, realisasi di lapangan akan menjadi ujian sebenarnya bagi ambisi tersebut.



