Palang Merah Singapura Perluas Bantuan untuk Lansia Terdampak Panas dan Kabut Asap
Baca dalam 60 detik
- Palang Merah Singapura mengerahkan bantuan baru berupa purifier udara dan paket dukungan bagi 700 warga rentan di tengah memburuknya kualitas udara.
- Langkah ini menyusul indeks PSI yang menembus level tidak sehat untuk pertama kalinya sejak 2023, memicu peringatan harian dari badan lingkungan setempat.
- Inisiatif ini menekankan pentingnya kesiapsiagaan komunitas, sebuah pelajaran berharga bagi negara-negara Asia Tenggara yang kerap dilanda kabut asap lintas batas.

Palang Merah Singapura (SRC) mengumumkan perluasan program bantuan untuk kelompok rentan di tengah meningkatnya risiko kesehatan akibat cuaca panas dan kabut asap yang melanda negara kota tersebut. Dalam pernyataan resmi pada Senin (7/9), organisasi kemanusiaan itu menyatakan akan menyalurkan alat pembersih udara, paket kebutuhan pokok, serta bantuan biaya listrik kepada ratusan lansia yang tinggal sendiri dan individu dengan kondisi medis tertentu.
Langkah ini merupakan respons atas memburuknya kualitas udara di Singapura. Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam sempat memasuki kategori tidak sehat di tiga wilayah pada Sabtu lalu, menembus angka 101โ200 untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. Badan Lingkungan Nasional (NEA) pun mulai menerbitkan peringatan harian beserta prakiraan PSI untuk membantu warga merencanakan aktivitas di luar ruangan.
SRC menargetkan gelombang pertama bantuan akan menjangkau 700 penerima manfaat. Sebanyak 200 lansia di atas 70 tahun yang terdaftar dalam program HoME+ atau Medical Chaperone & Transportation akan menerima purifier udara dan paket dukungan panas-kabut. Bila diperlukan, mereka juga mendapat subsidi tagihan listrik selama tiga bulan untuk menutup biaya pengoperasian alat tersebut. Sementara itu, 500 penerima manfaat lain dari kelompok rentan akan memperoleh paket berisi air kelapa, minuman isotonik, makanan siap saji, serta perlengkapan kebersihan dasar.
"Ketika suhu naik dan kualitas udara memburuk, konsekuensinya bisa jauh lebih serius bagi mereka yang sudah berisiko," ujar Sekretaris Jenderal sekaligus CEO SRC, Benjamin William. Ia menambahkan bahwa tidak ada seorang pun yang seharusnya menghadapi kondisi ini sendirian. "Kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama, dan ketika kita saling menjaga, kita memperkuat ketahanan seluruh komunitas."
Bantuan ini merupakan kelanjutan dari program yang diluncurkan SRC pada April lalu, ketika para relawan membagikan paket berisi handuk pendingin, masker wajah, botol minum, dan kipas portabel sambil memberikan edukasi kesehatan. Kini, relawan dan staf yang bertugas di area terdampak juga akan dilengkapi masker N95. Para pendamping komunitas akan dilatih untuk mengenali tanda-tanda gangguan akibat panas atau kabut asap serta memberikan pertolongan yang tepat.
Bagi Indonesia, fenomena kabut asap dan panas ekstrem di Singapura menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Asia Tenggara terhadap perubahan iklim dan kebakaran hutan. Meskipun Singapura memiliki infrastruktur dan sistem peringatan dini yang mumpuni, negara-negara tetangga seperti Indonesia masih bergulat dengan polusi udara yang kerap kali melintasi batas negara. Inisiatif SRC ini bisa menjadi model bagi organisasi kemanusiaan di Indonesia untuk mengembangkan program serupa, terutama di wilayah-wilayah yang sering terkena dampak kabut asap akibat kebakaran lahan.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya bagaimana memperluas jangkauan bantuan, tetapi juga bagaimana mencegah akar masalahnya. Apakah negara-negara di kawasan ini akan semakin serius dalam pengendalian kebakaran hutan dan transisi energi bersih? Atau akankah kita terus melihat siklus tahunan kabut asap yang memaksa warga rentan untuk bergantung pada uluran tangan organisasi seperti Palang Merah?



