Cadangan Devisa Jepang Anjlok Rekor: Intervensi Yen Terbesar dalam Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Cadangan devisa Jepang turun 79,6 miliar dolar AS pada Agustus, penurunan bulanan terbesar yang pernah tercatat, akibat intervensi besar-besaran untuk menopang yen.
- Tokyo mengucurkan 15,4 triliun yen (sekitar 98,66 miliar dolar AS) dalam sebulan, aksi terbesar sepanjang sejarah, dan melibatkan koordinasi dengan AS untuk pertama kalinya sejak 2011.
- Langkah ini memicu spekulasi tentang kapasitas Jepang, namun adanya fasilitas darurat Federal Reserve (Fed) menjadi jaring pengaman potensial untuk intervensi di masa depan.

Cadangan devisa Jepang mengalami penurunan bulanan terbesar dalam sejarah pada Agustus 2024, menyusul langkah agresif pemerintah untuk menghentikan pelemahan yen yang telah mencapai titik terendah dalam 40 tahun. Data Kementerian Keuangan (MOF) yang dirilis Senin (7/9) menunjukkan posisi cadangan anjlok 79,6 miliar dolar AS, atau 6,18 persen, menjadi 1,208 triliun dolar AS dari bulan sebelumnya yang sebesar 1,287 triliun dolar AS.
Penurunan ini terutama dipicu oleh berkurangnya kepemilikan surat berharga asing, yang mayoritas berupa obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang dibeli saat intervensi pembelian dolar sekitar dua dekade lalu. Surat berharga ini menyumbang sekitar 70 persen dari total cadangan Jepang. Aksi jual besar-besaran ini merupakan konsekuensi dari operasi intervensi yang dilakukan Tokyo antara 30 Juli hingga 26 Agustus, dengan total pengeluaran mencapai 15,4 triliun yen (setara 98,66 miliar dolar AS). Angka tersebut menjadikannya operasi intervensi bulanan terbesar yang pernah tercatat.
Intervensi yang dilakukan dengan menjual dolar dan membeli yen ini berhasil mengangkat nilai tukar yen dari level terendah 40 tahun di kisaran 164 per dolar AS menjadi 155,20 pada 3 Agustus. Meski demikian, penguatan tersebut tidak bertahan lama; yen kembali melemah mendekati 160 sebelum akhirnya pulih ke kisaran 155โ156 pada awal September. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa meskipun intervensi memberikan efek jangka pendek, tekanan fundamental terhadap yen masih kuat, terutama karena perbedaan suku bunga yang lebar antara Jepang dan AS.
Yang menarik, sebagian dari operasi pembelian yen ini dilakukan secara terkoordinasi dengan Amerika Serikat, menandai intervensi bersama pertama antara kedua negara sejak 2011. Langkah ini mengejutkan pelaku pasar yang sebelumnya menganggap kecil kemungkinan adanya aksi bersama. Koordinasi ini menunjukkan kekhawatiran bersama terhadap volatilitas mata uang yang berlebihan, yang dapat mengganggu stabilitas keuangan global.
Untuk meredakan kekhawatiran pasar mengenai keterbatasan kapasitas Jepang dalam melakukan intervensi skala besar, Tokyo dan Washington telah mengisyaratkan bahwa Jepang dapat memanfaatkan fasilitas darurat Federal Reserve (Fed) yang diciptakan pada era pandemi COVID-19. Fasilitas yang diperkenalkan pada 2020 ini memungkinkan bank sentral utama dunia untuk memperoleh likuiditas dolar tanpa harus menjual kepemilikan US Treasury secara langsung. Dengan demikian, Jepang dapat mendanai intervensi tanpa mengurangi cadangan devisanya secara drastis, sehingga mengurangi tekanan pendanaan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang patut dicermati. Sebagai negara dengan cadangan devisa yang juga rentan terhadap gejolak nilai tukar, kebijakan intervensi Jepang menunjukkan bahwa bank sentral di kawasan masih memiliki ruang untuk bertindak, terutama dengan dukungan fasilitas likuiditas internasional. Namun, keberhasilan intervensi Jepang dalam jangka panjang masih belum pasti. Para analis memperkirakan bahwa selama disparitas suku bunga antara Jepang dan AS masih lebar, tekanan terhadap yen akan terus berlanjut. Keputusan The Fed untuk menurunkan suku bunga pada pertemuan September mendatang akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah yen selanjutnya.
Pertanyaannya kini, apakah Jepang mampu mempertahankan yen tanpa menguras cadangan devisanya? Atau justru intervensi ini hanya menjadi solusi sementara yang menunda koreksi fundamental? Ke depan, pasar akan mengamati dengan seksama langkah Bank of Japan (BOJ) dalam menyesuaikan kebijakan moneternya, serta sinyal dari The Fed mengenai arah suku bunga. Jika The Fed mulai melonggarkan kebijakan, tekanan pada yen bisa berkurang, namun jika tidak, Jepang mungkin harus kembali melakukan intervensi dengan konsekuensi cadangan devisa yang semakin menipis.



