Pekerja China Selamat dari Terowongan Nepal Setelah 10 Hari: Kisah Haru di Tengah Tragedi Banjir
Baca dalam 60 detik
- Lu Haitao, pekerja migran asal China, dievakuasi dari terowongan PLTA di Nepal setelah terisolasi 10 hari pascabanjir yang menewaskan lebih dari 1.300 orang.
- Keselamatannya menjadi secercah harapan di tengah duka, sekaligus menggarisbawahi risiko tinggi pekerja proyek infrastruktur di kawasan rawan bencana.
- Kisah ini memantik perhatian publik, terutama bagi Indonesia yang juga memiliki banyak pekerja migran di sektor serupa, tentang pentingnya standar keselamatan.

Setelah menanti selama berhari-hari dengan cemas, keluarga Lu Haitao akhirnya bisa bernapas lega. Pria asal China itu berhasil diselamatkan dari sebuah terowongan pembangkit listrik tenaga air di Nepal, negara yang tengah dilanda banjir dahsyat dengan korban jiwa lebih dari 1.300 orang.
Lu, yang berusia 49 tahun dan telah bekerja di Nepal sejak Februari lalu, dievakuasi oleh tim penyelamat pada Sabtu (7/9) atau sepuluh hari setelah bencana melanda. Ia ditemukan dalam kondisi selamat di dalam terowongan sepanjang 225 meter, kemudian diterbangkan dengan helikopter ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Menurut laporan stasiun televisi pemerintah China, CCTV, kondisi Lu dilaporkan stabil.
Momen dramatis itu terekam dalam audio yang dibagikan CCTV. Lu menuturkan, saat terjebak, ia berusaha memanjat ke titik tertinggi di dalam terowongan. Ketika mendengar suara peluit dari tim penyelamat, ia sempat mengira itu hanya halusinasinya. Kepada staf kedutaan China, ia juga mengaku sempat berteriak ke arah cahaya tim penyelamat, namun awalnya mereka tidak mendengarnya.
Kabar penyelamatan ini menjadi pelipur lara bagi keluarga Lu di China. Sang kakak, Lu Hairong, mengaku menerima telepon tentang penyelamatan adiknya sebelum kabar tersebut menyebar luas. Namun, ia baru benar-benar percaya setelah melihat foto Lu di pemberitaan. Sebelum merantau ke Nepal, Lu adalah seorang petani di Provinsi Henan. Ini merupakan pengalaman pertamanya bekerja di luar negeri, berangkat bersama seorang warga desanya.
Lu Hairong menuturkan bahwa adiknya tidak pernah memberitahu lokasi persis tempatnya bekerja. Selama masa penantian, ia hanya bisa memantau kabar dari grup bantuan keluarga korban hilang, tanpa bisa makan dan tidur dengan tenang. "Ini benar-benar keberuntungan di tengah kemalangan," ujarnya kepada media setempat, seperti dikutip dari laporan Associated Press.
Kisah Lu Haitao menyoroti risiko besar yang dihadapi pekerja proyek infrastruktur di daerah rawan bencana. Nepal, yang terletak di kawasan seismik aktif dan memiliki medan pegunungan ekstrem, kerap dilanda banjir dan tanah longsor. Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan kerja bagi pekerja migran, terutama yang ditempatkan di proyek-proyek besar di luar negeri. Banyak pekerja asal Indonesia yang juga bekerja di sektor konstruksi atau energi di negara-negara berisiko tinggi, sehingga perlindungan dan komunikasi darurat menjadi hal yang krusial.
Ke depan, insiden ini memunculkan pertanyaan besar: apakah perusahaan dan pemerintah negara asal pekerja migran sudah cukup ketat dalam memastikan keselamatan mereka? Akankah ada peningkatan protokol evakuasi dan komunikasi untuk mencegah tragedi serupa? Kisah Lu Haitao mungkin berakhir bahagia, tetapi bagi ratusan keluarga lain yang masih menunggu kabar, harapan itu belum sepenuhnya tuntas.



