Kim Jong Un Resmikan Kapal Perusak Kedua, AS-Sekutu Gelar Latihan Militer: Ketegangan Semenanjung Korea Meningkat
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Korea Utara meresmikan kapal perusak kedua yang dilengkapi rudal nuklir, menandakan penguatan kekuatan maritim dan postur nuklirnya.
- Langkah ini bertepatan dengan latihan militer trilateral AS, Korea Selatan, dan Jepang yang memicu kecaman dari Pyongyang.
- Para pengamat menilai Pyongyang ingin meningkatkan daya tawar dalam diplomasi dengan Washington, terutama setelah pemangkasan latihan militer AS-Korea Selatan.

Pyongyang kembali mengirim sinyal keras ke Washington dan sekutunya. Pada Minggu (6/9), pemimpin Korea Utara Kim Jong Un secara resmi menugaskan kapal perusak kedua bernama Kang Kon ke angkatan lautnya dalam sebuah upacara di kota pelabuhan Wonsan, di pantai timur. Langkah ini dilakukan di tengah dimulainya latihan militer gabungan Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang yang digelar selama lima hari di perairan selatan Pulau Jeju, yang oleh Pyongyang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanannya.
Kapal perusak Kang Kon, bersama kapal pendahulunya Choe Hyon yang diluncurkan pada Juni lalu, merupakan kapal perang tercanggih yang pernah dimiliki Korea Utara. Dengan bobot 5.000 ton, kedua kapal ini dirancang untuk membawa rudal berkemampuan nuklir, sebuah lompatan signifikan dalam kemampuan militer maritim negara yang selama ini lebih dikenal dengan rudal balistik berbasis darat. Dalam pidatonya, Kim menegaskan bahwa penugasan dua kapal perusak secara beruntun ini akan memperdalam kekhawatiran musuh dan memperkuat kemampuan pencegahan nuklir secara lebih beragam dan efektif.
Kehadiran putri remaja Kim, yang oleh badan intelijen Korea Selatan disebut sebagai calon penerus, dalam upacara tersebut menambah dimensi simbolis. Foto-foto yang dirilis media pemerintah menunjukkan sang putri mengenakan gaun putih dan blazer, berjalan di karpet merah bersama ayahnya, meninjau kapal, dan berfoto bersama para pelaut. Ini merupakan penampilan publik yang langka dan mengisyaratkan persiapan suksesi yang tengah berlangsung di dalam keluarga Kim.
Latihan Freedom Edge yang dimulai Senin (7/9) ini merupakan bagian dari respons sekutu terhadap ancaman nuklir Korea Utara. Militer Korea Selatan menegaskan bahwa latihan tersebut bersifat defensif. Namun, Pyongyang mengecam keras latihan itu sebagai bentuk konfrontasi. Pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Korea Utara menuduh AS semakin jelas menunjukkan sikap bermusuhan, merujuk pada latihan Freedom Edge dan pernyataan pejabat AS yang menegaskan komitmen terhadap denuklirisasi penuh Korea Utara.
Ketegangan ini terjadi setelah langkah kontroversial Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan pengurangan signifikan latihan militer Ulchi Freedom Shield dengan Korea Selatan, yang berakhir enam hari lebih awal dari jadwal pada 21 Agustus. Trump mengklaim langkah ini sebagai bentuk itikad baik atas hubungan pribadinya dengan Kim. Namun, adik Kim, Kim Yo Jong, dengan tegas menolak sikap tersebut, menyatakan bahwa memperpendek durasi latihan tidak akan mengubah sifat provokatif dan agresifnya. Sebagai respons, Korea Utara meluncurkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek ke arah laut, menegaskan ancaman sebelumnya.
Bagi Indonesia, eskalasi di Semenanjung Korea ini perlu dicermati karena berdampak pada stabilitas keamanan kawasan Asia Timur yang menjadi mitra dagang utama. Indonesia, sebagai negara yang menandatangani Traktat Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (SEANWFZ), memiliki kepentingan untuk mendorong dialog dan denuklirisasi. Ketegangan yang berkepanjangan dapat mengganggu rantai pasok global dan memicu ketidakpastian ekonomi, yang pada akhirnya memengaruhi harga komoditas dan arus investasi di kawasan.
Para analis menilai bahwa Kim Jong Un saat ini memiliki posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya, berkat kemajuan program nuklirnya dan hubungan yang semakin erat dengan Rusia dan China. Kegagalan diplomasi pada 2019, ketika perundingan dengan Trump buntu akibat perbedaan pandangan mengenai pencabutan sanksi dan langkah denuklirisasi, menjadi pelajaran berharga. Kini, dengan dukungan dari Beijing dan Moskow, Pyongyang mungkin merasa tidak perlu lagi bergantung pada kesepakatan dengan Washington.
Pertanyaan besarnya adalah apakah langkah-langkah provokatif ini akan membawa Korea Utara kembali ke meja perundingan, atau justru memicu perlombaan senjata baru di kawasan. Dengan pemilihan umum AS yang semakin dekat, kebijakan luar negeri Trump terhadap Korea Utara menjadi sorotan. Akankah ia mengambil langkah lebih lanjut untuk meredakan ketegangan, atau justru memperkuat aliansi dengan sekutu-sekutunya? Sementara itu, Korea Utara terus memperkuat kemampuan militernya, dan dunia hanya bisa menunggu langkah selanjutnya dari pemimpin yang tidak pernah bisa diprediksi ini.



