Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengarah ke Jakarta: BMKG Buka Suara soal Potensi Meluas ke Jateng-Jatim
Baca dalam 60 detik
- BMKG memantau sebaran abu erupsi Anak Krakatau yang kini mencapai Jakarta dan sekitarnya, dengan potensi perluasan bergantung pada dinamika angin.
- Analisis atmosfer terbaru menunjukkan pola angin berlapis yang mengarahkan abu ke Jawa Barat dan Sumatra Selatan, sementara Jateng-Jatim belum terdampak.
- Durasi paparan abu di Jakarta belum bisa diprediksi karena sangat tergantung pada aktivitas erupsi dan kondisi meteorologi yang berubah cepat.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada akhir pekan lalu tidak hanya mengguncang wilayah Banten dan Lampung, tetapi juga menghujani langit Jakarta dengan partikel abu vulkanik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kini memperingatkan bahwa sebaran abu ini berpotensi meluas hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, meski semua bergantung pada perubahan arah angin di atmosfer.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa secara meteorologis, kemungkinan abu vulkanik mencapai wilayah timur Pulau Jawa sangat ditentukan oleh dinamika angin di berbagai lapisan atmosfer. "Jika terjadi perubahan pola angin yang mendukung, sebaran abu dapat bergerak ke wilayah yang lebih jauh," jelasnya saat dihubungi awak media pada Senin (7/9/2026).
Hingga saat ini, pantauan satelit dan stasiun pengamat menunjukkan konsentrasi abu tertinggi berada di Jawa bagian barat dan Sumatra bagian selatan. Jakarta dan sekitarnya, termasuk Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, mulai merasakan dampaknya dalam bentuk langit yang tampak keruh dan partikel halus yang beterbangan. Fenomena ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran warga, terutama mereka yang memiliki gangguan pernapasan.
Andri menegaskan bahwa durasi paparan abu di Jakarta belum dapat dipastikan. "Sampai kapan berlangsungnya sangat bergantung pada aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau serta arah dan kecepatan angin," ujarnya. Hal ini berarti warga harus bersiap menghadapi kemungkinan abu vulkanik bertahan selama beberapa hari ke depan, tergantung pada perilaku gunung yang masih berstatus waspada.
Data atmosfer yang dirilis BMKG pada 6 September 2026 pukul 16.00 WIB memperlihatkan pola angin yang kompleks di sekitar Gunung Anak Krakatau. Pada lapisan bawah, angin bertiup dari arah tenggara-selatan; di lapisan menengah, bergeser ke barat laut-utara; sementara di lapisan atas, mengarah ke utara-timur laut. Kecepatan angin bervariasi antara 2 hingga 30 knot, yang menyebabkan abu vulkanik terbawa ke arah barat laut, mencakup wilayah Jawa Barat dan selatan Sumatra.
Bagi warga di wilayah terdampak, BMKG mengimbau untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap polusi udara. "Masyarakat di wilayah yang terdampak atau berpotensi terdampak sebaiknya tetap menggunakan masker," kata Andri. Imbauan ini menjadi penting mengingat abu vulkanik mengandung partikel silika yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan terpisah menambahkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG untuk memantau perkembangan erupsi. "Kami mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan selalu mengikuti arahan dari petugas di lapangan," ujarnya. Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan signifikan akibat abu vulkanik.
Fenomena ini mengingatkan kembali pada erupsi besar Anak Krakatau pada 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda. Meski aktivitas saat ini tidak sebesar itu, potensi gangguan penerbangan dan kesehatan tetap menjadi perhatian. Maskapai penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta dan beberapa bandara regional telah diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap abu vulkanik yang dapat merusak mesin pesawat.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah pola angin akan berubah dan membawa abu lebih jauh ke timur. BMKG akan terus memperbarui informasi, sementara masyarakat diminta untuk memantau kanal resmi. Satu hal yang pasti: kolaborasi antara lembaga meteorologi, geologi, dan kebencanaan menjadi kunci dalam mengantisipasi dampak erupsi yang tak pernah bisa diprediksi secara pasti.



