BNPB Siagakan Teknologi Hujan Buatan untuk Bersihkan Abu Krakatau, Penerbangan Masih Lumpuh
Baca dalam 60 detik
- Operasi modifikasi cuaca (OMC) disiapkan BNPB untuk mempercepat turunnya abu vulkanik erupsi Anak Krakatau yang menyelimuti Jakarta, Banten, dan Lampung.
- Pelaksanaan OMC masih menunggu kondisi cuaca dan keamanan penerbangan, sementara delapan bandara dilaporkan terganggu akibat sebaran material vulkanik.
- BNPB meminta pemerintah daerah menyiapkan peringatan dini dan logistik, meski hingga kini belum ada status darurat yang ditetapkan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengaktifkan rencana operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mempercepat peluruhan abu vulkanik sisa erupsi Gunung Anak Krakatau yang kini menyelimuti langit Jakarta, Banten, dan Lampung. Langkah ini menjadi bagian dari upaya darurat memulihkan aktivitas masyarakat dan sektor penerbangan yang lumpuh sejak akhir pekan.
Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan pesawat penyemaian awan telah disiagakan di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, menunggu celah cuaca yang aman. "Begitu kondisi lebih kondusif, kami langsung mengeksekusi. Pesawat sudah siap," ujarnya di Jakarta, Senin. Selain teknik semai garam, lembaga itu juga menyiapkan water mist untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah terdampak.
Kebijakan ini diambil di tengah kekacauan operasional penerbangan. Kementerian Perhubungan mencatat delapan bandara terpaksa ditutup atau membatasi jadwal, memaksa sejumlah maskapai mengalihkan rute ke bandara alternatif yang kini beroperasi 24 jam. Dampaknya terasa hingga ke sektor pendidikan: sejumlah sekolah di Tangerang Raya beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk menghindari risiko kesehatan bagi siswa.
BNPB tidak hanya mengandalkan teknologi. Melalui koordinasi daring intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), lembaga itu memantau kebutuhan warga secara langsung. Personel lapangan juga dikerahkan untuk memastikan kesiapan pemerintah daerah, mulai dari fungsi sirine, jalur evakuasi, hingga stok pangan cadangan. "Kalau kebutuhan di daerah belum tercukupi, bantuan pusat akan kami dorong," kata Suharyanto.
Hingga Senin sore, belum ada pemerintah kabupaten/kota yang menaikkan status kedaruratan. Namun, BNPB menilai ketiadaan status darurat bukan berarti situasi normal. Material vulkanik yang menggantung di atmosfer masih mengancam kesehatan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Para ahli vulkanologi juga mengingatkan potensi erupsi susulan yang dapat memperparah sebaran abu.
Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, kejadian ini menjadi ujian nyata kesiapan infrastruktur kebencanaan di kawasan padat penduduk. Efektivitas OMC sangat bergantung pada arah angin dan kelembapan udara โ faktor yang sulit diprediksi. Kegagalan teknis atau keterlambatan eksekusi bisa memperpanjang gangguan ekonomi, terutama di sektor logistik udara yang menjadi tulang punggung distribusi barang ke Sumatra dan Jawa bagian barat.
Pemerintah pusat tampaknya sadar bahwa koordinasi lintas sektor menjadi kunci. Selain berkomunikasi dengan kementerian terkait, BNPB terus memutakhirkan data sebaran abu untuk menentukan prioritas wilayah penyemaian. Pertanyaannya kini: akankah teknologi ini cukup untuk mengembalikan langit normal sebelum aktivitas ekonomi dan pendidikan terkoreksi lebih dalam? Atau justru diperlukan langkah evakuasi preventif yang lebih agresif?



