Pasar IPO Asia Panas, Singapura Pilih Kualitas: Rebound SGX Dinilai Lebih Berkelanjutan
Baca dalam 60 detik
- Bursa Singapura mencatat delapan pencatatan saham baru di paruh pertama 2026, dengan total dana terkumpul US$868 juta dari hanya lima perusahaan.
- Berbeda dengan volume besar Hong Kong dan Malaysia, Singapura mengandalkan nilai listing tinggi dan kebijakan baru untuk menarik emiten berkualitas.
- Koneksi dual-listing dengan Nasdaq dan pengurangan lot standar menjadi daya tarik utama bagi perusahaan regional yang mencari basis investor netral.

Bursa Efek Singapura (SGX) tengah menikmati fase kebangkitan yang tak biasa. Di tengah hiruk-pikuk pasar IPO Asia yang dikuasai Hong Kong dan Malaysia, otoritas bursa Negeri Singa justru memilih jalur berbeda: mengutamakan nilai ketimbang kuantitas. Hingga pertengahan 2026, delapan perusahaan telah melantai di SGX, mengumpulkan dana segar yang menurut para analis menandakan pergeseran strategis jangka panjang, bukan sekadar tren sesaat.
Perbandingan dengan bursa lain memang timpang di atas kertas. Hong Kong mencatat 85 IPO dengan perolehan sekitar HK$210,4 miliar (US$26,8 miliar) pada periode yang sama, sementara Malaysia memuncaki pasar Asia Tenggara dengan 36 listing senilai US$1,3 miliar. Namun, para pengamat menilai capaian SGX yang hanya US$868 juta dari lima emiten—termasuk UI Boustead REIT, Toku, The Assembly Place, Kin Global, dan JustCo Holdings—justru mencerminkan strategi kurasi yang lebih selektif.
Kepala Riset Ekuitas OCBC, Carmen Lee, menggarisbawahi bahwa periode 2025–2026 merupakan tahun terkuat bagi SGX setelah sempat terpuruk dengan hanya empat IPO pada 2024, rekor terendah dalam satu dekade. "Kami melihat ini sebagai tren yang sehat, dan minat akan meningkat jika sentimen terhadap saham kapitalisasi kecil-menengah berlanjut," ujarnya. Lee juga mencatat bahwa rata-rata listing tahunan sebelumnya hanya empat hingga lima perusahaan, sehingga lonjakan saat ini merupakan sinyal pemulihan yang nyata.
Di balik optimisme tersebut, para analis mengingatkan adanya pekerjaan rumah yang belum tuntas. Asisten Profesor Ekonomi dari Singapore Management University (SMU), Goh Jing Rong, menyoroti kinerja pasca-pencatatan (aftermarket) yang belum konsisten. "Ini metrik kunci karena kinerja buruk setelah debut kerap menjadi faktor yang menghalangi calon emiten," katanya. Meski demikian, Goh menilai Singapura tidak perlu mengejar volume ala Hong Kong yang ditopang derasnya perusahaan China daratan. "Skala Hong Kong memang lebih spektakuler, tetapi juga lebih rentan terhadap perubahan kebijakan dan sentimen investor," tambahnya.
Berbagai insentif baru mulai menunjukkan hasil. Program pengembangan pasar ekuitas senilai S$5 miliar yang digagas Otoritas Moneter Singapura (MAS) dengan menempatkan dana pada manajer investasi yang fokus pada saham lokal, dinilai mulai membuahkan hasil. Kepala Pasar Ekuitas UOB, Mark Wee, menyebut koordinasi antara MAS, SGX, dan industri telah memperkuat ekosistem. "Kami melihat pipa calon emiten yang sehat dan kepercayaan yang meningkat terhadap Singapura sebagai pusat penggalangan dana," ujarnya.
Langkah lain yang tak kalah strategis adalah rencana dual-listing dengan Nasdaq yang ditargetkan beroperasi pada paruh kedua 2026, serta pengurangan ukuran lot standar dari 100 unit menjadi 10 unit untuk saham di atas S$10 mulai 5 Oktober. Kepala Perbankan Investasi Global DBS, Clifford Lee, menilai momen ini sangat tepat di tengah ketidakpastian geopolitik global. "Dari sisi mata uang, dolar Singapura sangat menarik dan dianggap sebagai safe haven. Kini ada banyak likuiditas yang memburu aset, sehingga urgensi untuk membawa emiten ke bursa semakin tinggi," jelasnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini menghadirkan pelajaran penting. Meski Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah gencar mendorong pencatatan saham, pendekatan SGX menunjukkan bahwa kualitas tata kelola dan insentif yang tepat lebih menentukan daripada sekadar jumlah listing. Kepala Riset Ekuitas OCBC menambahkan bahwa minat investor asing terhadap pasar Asia Tenggara akan semakin terarah ke bursa yang mampu menawarkan likuiditas dan transparansi. "Jika Singapura berhasil membangun kedalaman pasar, ia akan menjadi magnet bagi perusahaan regional yang mencari basis investor netral," ujar Clifford Lee, seraya mengibaratkan kondisi saat ini seperti menyalakan mesin mobil yang lama mati: "Langkah awalnya menggembirakan, tetapi masih banyak pekerjaan rumah."
Pertanyaan besarnya kini: akankah kebangkitan SGX mampu bertahan di tengah gejolak ekonomi global, dan apakah bursa-bursa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan mengadopsi strategi serupa untuk menarik emiten berkualitas? Jawabannya akan menentukan peta persaingan pasar modal regional dalam beberapa tahun ke depan.



