Fenomena 'Full-Time Child': Ketika Bakti pada Orang Tua Menjadi Alternatif Karier di Tengah Krisis Lapangan Kerja
Baca dalam 60 detik
- Banyak lulusan muda di Hong Kong dan China daratan memilih tinggal di rumah dan menerima tunjangan orang tua sebagai respons terhadap sulitnya mendapatkan pekerjaan layak dan harga properti yang melonjak.
- Fenomena ini mencerminkan kegagalan kontrak sosial tradisional yang menjanjikan kesejahteraan melalui kerja keras, diperparah oleh persaingan ketat dan disrupsi teknologi.
- Pergeseran nilai ini berpotensi mengubah dinamika pasar tenaga kerja dan menuntut adaptasi kebijakan, tidak hanya di Asia Timur tetapi juga menjadi pelajaran bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Di tengah pasar kerja yang kian kompetitif dan biaya hidup yang meroket, sebagian generasi muda di Hong Kong justru memilih jalur tak lazim: menjadikan bakti kepada orang tua sebagai 'profesi' dengan menjadi "full-time child"—tinggal di rumah, mengurus keperluan keluarga, dan menerima tunjangan bulanan sebagai imbalan. Fenomena ini bukan sekadar tren pelarian, melainkan sinyal kegagalan resep lama yang selama ini diyakini: kerja keras pasti berujung pada kemapanan.
Resep klasik yang dulu ditanamkan kepada anak muda Hong Kong—belajar giat, mencari kerja, menabung, lalu membeli flat—kini kehilangan daya tariknya. Banyak lulusan dengan gelar terhormat harus bersaing memperebutkan posisi yang bahkan untuk level 'entry level' kerap mensyaratkan pengalaman bertahun-tahun. Akibatnya, muncul lingkaran setan: pengalaman dibutuhkan untuk bekerja, tetapi bekerja sulit didapat tanpa pengalaman. Di tengah situasi ini, opsi tinggal di rumah, menghindari biaya sewa yang mencekik, dan menerima uang saku dari orang tua tampak lebih masuk akal daripada menerima pekerjaan bergaji rendah tanpa jaminan masa depan.
Fenomena serupa sebenarnya telah lama mengemuka di berbagai belahan dunia dengan label berbeda: di China daratan dikenal istilah "full-time children", di negara Barat ada istilah NEET (Not in Education, Employment, or Training), dan di Australia serta beberapa negara lain muncul istilah "kangaroo tribe" untuk menyebut anak dewasa yang masih bergantung secara finansial pada orang tua. Meski istilahnya beragam, akar masalahnya sama: transisi menuju kemandirian menjadi semakin sulit bagi generasi muda.
Ken Ip, asisten profesor bidang inovasi bisnis dan kewirausahaan di Saint Francis University Hong Kong, menilai bahwa kondisi ini mencerminkan perubahan besar dalam cara pandang generasi muda terhadap kerja dan kesuksesan. Menurutnya, banyak anak muda mulai mempertanyakan apakah pengorbanan besar untuk bekerja keras masih sepadan dengan hasil yang didapat. Ketidakpastian ekonomi, melambungnya harga properti, dan ancaman otomatisasi terhadap prospek karier jangka panjang membuat mereka semakin skeptis terhadap janji kemakmuran melalui jalur konvensional.
Bagi Indonesia, fenomena ini layak menjadi cermin. Meski konteks sosial dan ekonominya berbeda, tekanan serupa mulai terasa: lapangan kerja formal yang terbatas, upah yang tidak sebanding dengan biaya hidup di kota besar, serta budaya "ijazah demi ijazah" yang tidak lagi menjamin pekerjaan layak. Banyak lulusan perguruan tinggi di dalam negeri yang akhirnya menerima pekerjaan di bawah kualifikasinya atau memilih menjadi pengangguran terdidik karena pilihan yang ada tidak sepadan dengan investasi pendidikan mereka.
Lebih jauh, fenomena ini juga menyoroti pergeseran nilai antargenerasi. Jika sebelumnya bekerja dianggap sebagai bentuk kemandirian dan harga diri, kini sebagian anak muda justru melihat dukungan orang tua sebagai strategi bertahan hidup yang rasional di tengah ketidakpastian. Di Hong Kong, menjadi "full-time child" bahkan mulai dipandang sebagai bentuk bakti—sebuah ironi yang membalikkan makna tradisional kerja keras dan kesuksesan.
Pertanyaan besarnya kini bukan hanya tentang bagaimana anak muda beradaptasi, tetapi juga bagaimana negara dan perusahaan merespons. Apakah sistem pendidikan dan pasar tenaga kerja akan berbenah untuk menciptakan peluang yang lebih realistis bagi generasi baru? Atau apakah fenomena ini akan semakin meluas, mengubah lanskap sosial dan ekonomi secara fundamental? Jawabannya akan menentukan apakah generasi muda benar-benar kehilangan kepercayaan pada janji kemajuan, atau hanya mencari cara baru untuk memaknai kesuksesan di tengah dunia yang berubah cepat.



