Erupsi Anak Krakatau: Penerbangan Dialihkan ke Kertajati, Whoosh Disiapkan sebagai Jalur Alternatif
Baca dalam 60 detik
- Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara hingga pukul 17.30 WIB akibat abu vulkanik, memaksa sejumlah penerbangan Garuda dialihkan ke Bandara Kertajati.
- Pemerintah menyiapkan layanan bus dan kereta cepat Whoosh untuk memfasilitasi penumpang dari Kertajati menuju Jakarta, sementara KAI menambah frekuensi kereta dari beberapa kota.
- Penutupan enam bandara di Jawa dan Sumatera menyoroti kerentanan infrastruktur transportasi udara nasional terhadap bencana alam, mendorong perlunya rencana kontingensi yang lebih matang.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyemburkan abu vulkanik ke atmosfer telah melumpuhkan operasional sejumlah bandara di Jawa dan Sumatera, memaksa pemerintah mengaktifkan jalur transportasi darat dan rel sebagai rencana cadangan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi bahwa penerbangan menuju Jakarta, terutama dari maskapai Garuda Indonesia, dialihkan ke Bandara Kertajati di Jawa Barat, dengan dukungan layanan bus dan kereta cepat Whoosh untuk mengantar penumpang ke ibu kota.
Keputusan ini diambil menyusul penghentian sementara operasional Bandara Soekarno-Hatta hingga pukul 17.30 WIB pada hari yang sama, sebuah langkah yang menurut Kementerian Perhubungan ditempuh demi keselamatan penerbangan. Tak hanya Soekarno-Hatta, lima bandara lain ikut ditutup: Radin Inten di Lampung, Halim Perdanakusuma dan Pondok Cabe di Jakarta, Budiarto di Tangerang, serta Husein Sastranegara di Bandung. Penutupan ini memicu kekacauan perjalanan udara di tengah musim liburan, ketika mobilitas masyarakat sedang tinggi.
Menurut Teddy, skenario pengalihan rute ini merupakan bagian dari rencana kontingensi yang telah disiapkan pemerintah. "Beberapa penerbangan menuju Jakarta, terutama maskapai Garuda, dialihkan untuk mendarat di Bandara Kertajati. Selanjutnya disiapkan layanan bus dan Whoosh dari Kertajati menuju Jakarta," ujarnya dalam siaran resmi yang dikutip Minggu. Langkah ini menunjukkan kesiapan pemerintah dalam merespons gangguan besar, meski di sisi lain memunculkan pertanyaan tentang kapasitas Kertajati yang selama ini kurang teroptimalkan.
Di luar pengalihan rute, PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga menambah frekuensi kereta menuju Jakarta dari Surabaya, Malang, Semarang, dan Yogyakarta. Keempat kota tersebut memiliki bandara yang masih beroperasi normal, sehingga menjadi titik keberangkatan alternatif bagi calon penumpang. Penambahan ini diharapkan dapat mengakomodasi lonjakan penumpang yang beralih dari moda udara ke darat, meski kapasitas kereta api konvensional dan Whoosh memiliki batas.
Di tengah upaya memulihkan konektivitas, pemerintah juga mengingatkan masyarakat akan risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik. Teddy mengimbau warga untuk mengenakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar rumah, serta mencuci tangan dan wajah setelah kembali dari luar. Debu yang menempel sebaiknya dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan untuk mencegah partikel beterbangan. Imbauan ini krusial mengingat abu vulkanik dapat memicu gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Peristiwa ini menjadi ujian nyata bagi ketahanan infrastruktur transportasi Indonesia dalam menghadapi bencana alam. Penutupan bandara yang melumpuhkan ribuan penumpang menyoroti perlunya diversifikasi moda transportasi dan peningkatan kapasitas bandara alternatif seperti Kertajati. Meski Whoosh dan bus disiapkan, efektivitasnya masih bergantung pada koordinasi antarlebaga dan kesiapan operasional di lapangan.
Bagi calon penumpang yang terdampak, Kementerian Perhubungan telah meminta maskapai untuk memenuhi hak-hak penumpang, seperti pengembalian tiket atau pengalihan jadwal. Namun, kepastian informasi menjadi tantangan tersendiri di tengah situasi yang berubah cepat. Para pelaku industri pariwisata dan perhotelan di Jakarta juga diprediksi merasakan dampak tidak langsung, mengingat berkurangnya arus wisatawan domestik yang biasanya masuk melalui bandara utama.
Ke depan, pemerintah perlu mengevaluasi protokol penanganan erupsi gunung berapi yang berdampak pada penerbangan. Apakah skema pengalihan ke Kertajati akan menjadi standar baru, atau justru mendorong percepatan pengembangan bandara alternatif di wilayah lain? Yang jelas, peristiwa ini mengingatkan bahwa bencana alam tidak bisa diprediksi, tetapi kesiapan infrastruktur dan koordinasi yang baik dapat meminimalkan dampaknya terhadap mobilitas jutaan orang.



