Viral Kurir Terbang ke Singapura demi Kari Puff, Meituan Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- Video pria berseragam Meituan di Singapura memicu spekulasi layanan lintas negara, tetapi perusahaan menegaskan tidak ada layanan semacam itu.
- Insiden ini menyoroti potensi penyalahgunaan identitas korporasi dan celah regulasi di tengah maraknya tren 'delivery mewah'.
- Ke depan, platform digital perlu memperkuat verifikasi mitra pengemudi untuk mencegah aksi yang merusak kepercayaan publik.

Viral di media sosial Tiongkok, Xiaohongshu, sebuah video yang memperlihatkan seorang pria mengenakan jaket kuning khas Meituan membeli kari puff di Singapura. Pria itu mengaku dibayar sekitar 2.400 yuan (sekitar Rp5,3 juta) oleh seorang pelanggan untuk terbang dari Tiongkok demi mengambil enam buah kari puff. Klaim ini sontak memicu spekulasi tentang kemungkinan layanan pengiriman lintas negara oleh raksasa pengiriman makanan asal Tiongkok tersebut.
Meituan, melalui layanan pelanggannya, dengan tegas membantah adanya layanan pengiriman internasional. Mereka menegaskan bahwa tidak ada mekanisme yang memungkinkan pelanggan memesan makanan dari luar negeri atau mengirim kurir ke negara lain. Pernyataan ini disampaikan menanggapi pertanyaan dari media Singapura, The Straits Times, dan dilaporkan oleh harian berbahasa Tionghoa, Lianhe Zaobao.
Kejadian ini bermula pada 31 Agustus lalu di Hong Lim Curry Puff, sebuah toko kari puff legendaris di Singapura. Pria tersebut meminta pembayaran melalui WeChat Pay atau Alipay, yang merupakan dompet digital populer di Tiongkok. Namun, toko tidak menerima metode pembayaran tersebut. Victoria Loh, pendiri toko, mengaku sempat menganggapnya sebagai pelanggan biasa hingga seorang wanita berteriak "Meituan!".
Fenomena ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana seseorang bisa memanfaatkan seragam dan atribut perusahaan untuk melakukan aksi yang tidak lazim. Meski belum ada bukti keterlibatan langsung Meituan, insiden ini menunjukkan adanya celah yang bisa dieksploitasi untuk tujuan tertentu, baik itu sensasi, promosi, atau bahkan penipuan.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan terhadap layanan pengiriman makanan yang semakin marak. Dengan pertumbuhan pesat platform seperti GoFood dan GrabFood, potensi penyalahgunaan identitas atau layanan di luar ketentuan bisa saja terjadi. Regulator dan platform perlu bekerja sama untuk memastikan integritas layanan dan keamanan konsumen.
Para analis menilai bahwa aksi semacam ini, meskipun tampak sepele, dapat merusak reputasi platform besar. Jika tidak ditangani dengan serius, bisa memicu kekhawatiran publik tentang keamanan dan keandalan layanan. Meituan sendiri belum memberikan komentar resmi selain pernyataan melalui chatbot, namun mereka menegaskan akan menyelidiki lebih lanjut.
Di sisi lain, fenomena ini juga menyoroti tren "delivery mewah" yang mulai muncul di beberapa negara, di mana konsumen rela mengeluarkan biaya besar untuk memuaskan keinginan sesaat. Apakah ini akan menjadi tren baru atau hanya sekadar sensasi sesaat? Yang jelas, insiden ini membuka diskusi tentang batas-batas layanan pengiriman dan kreativitas pasar yang kadang melampaui akal sehat.
Ke depannya, platform pengiriman makanan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, perlu memperkuat sistem verifikasi mitra pengemudi dan memastikan bahwa atribut perusahaan tidak disalahgunakan. Pertanyaannya, apakah regulasi yang ada sudah cukup untuk mengantisipasi skenario-skenario tak terduga seperti ini? Atau justru insiden ini akan menjadi pemicu bagi platform untuk lebih inovatif dalam layanan lintas batas?



