Prabowo Pantau Langsung Erupsi Anak Krakatau, Empat Bandara Sempat Ditutup
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto memantau langsung perkembangan erupsi Anak Krakatau dan dampaknya, termasuk sebaran abu vulkanik.
- Empat bandara di Banten, Jakarta, dan Lampung ditutup sementara akibat abu vulkanik, mengganggu jadwal penerbangan.
- Pemerintah mengimbau warga terdampak memakai masker dan kacamata serta menutup ventilasi rumah selama hujan abu berlangsung.

Presiden Prabowo Subianto memastikan pemerintah tidak tinggal diam terhadap erupsi Gunung Anak Krakatau yang melontarkan abu vulkanik hingga ke sejumlah wilayah. Melalui konferensi pers virtual, Minggu, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa kepala negara terus menerima pembaruan data dari lembaga teknis dan mengoordinasikan langkah mitigasi lintas sektor.
Erupsi yang terjadi sejak dini hari itu memaksa otoritas penerbangan menutup sementara empat bandara. Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang berhenti beroperasi mulai pukul 02.08 hingga 09.30 WIB, disusul Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta yang ditutup pukul 07.20โ10.00 WIB. Di Lampung, Bandara Radin Inten II menghentikan aktivitas pukul 04.18โ10.00 WIB, sementara Bandara Budiarto di Curug, Banten, tutup pada 06.48โ09.30 WIB. Penutupan ini merupakan respons atas menyebarnya partikel abu di ruang udara yang mengancam keselamatan penerbangan.
Qodari menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah. Ia menyebutkan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM, BMKG, dan BNPB telah diinstruksikan untuk terus memperbarui informasi serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Langkah penyesuaian transportasi, termasuk penutupan bandara, diambil sebagai bentuk antisipasi dini terhadap dampak yang lebih luas.
Bagi warga yang tinggal di sekitar Selat Sunda dan wilayah yang terkena hujan abu, pemerintah mengeluarkan imbauan kesehatan yang tegas. Masyarakat diminta mengenakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar ruangan, menutup jendela serta celah ventilasi agar abu tidak masuk ke dalam rumah, dan menyediakan air bersih untuk membersihkan diri setelah bepergian. Imbauan ini sejalan dengan protokol Kementerian Kesehatan untuk mencegah gangguan pernapasan akibat paparan partikel vulkanik.
Di tengah kekhawatiran akan dampak ekonomi dan sosial, pemerintah daerah juga diminta aktif menyosialisasikan informasi resmi dan mencegah penyebaran hoaks. DKI Jakarta, misalnya, telah mengeluarkan instruksi agar warganya tetap tenang namun waspada. Langkah ini penting mengingat abu vulkanik Anak Krakatau dilaporkan menyebar hingga ke lima provinsi, mengganggu aktivitas warga dan sektor transportasi udara yang menjadi tulang punggung konektivitas antarpulau.
Para pengamat kebencanaan menilai respons cepat pemerintah kali ini menunjukkan peningkatan kesiapsiagaan dibandingkan erupsi besar sebelumnya. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih fluktuatif. Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung, yang pernah merasakan dahsyatnya tsunami Selat Sunda 2018, tentu masih menyimpan trauma. Pertanyaannya, apakah sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan yang kini berjalan mampu menekan risiko saat gunung ini kembali menunjukkan amarahnya?



