Letusan Anak Krakatau Lumpuhkan Penerbangan di Soekarno-Hatta: 209 Penerbangan Batal
Baca dalam 60 detik
- Letusan dini hari memaksa otoritas menghentikan operasional bandara tersibuk di Indonesia selama empat jam, berdampak pada puluhan ribu penumpang.
- Dua kolom abu vulkanik terpantau hingga ketinggian 15 kilometer, mengganggu rute domestik dan internasional di kawasan barat Indonesia.
- Status siaga gunung berapi di Selat Sunda itu masih bertahan di level kedua, menyisakan kekhawatiran akan gangguan penerbangan berkelanjutan.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang terpaksa menghentikan seluruh operasional penerbangan selama empat jam pada Minggu (6/9) dini hari. Penyebabnya, letusan Gunung Anak Krakatau yang memuntahkan abu vulkanik hingga ke wilayah udara Jakarta dan sekitarnya. Keputusan ini memicu pembatalan 209 pergerakan pesawat dan menelantarkan sekitar 22.800 penumpang di tengah padatnya arus liburan akhir pekan.
Menurut catatan Badan Geologi Kementerian ESDM, aktivitas vulkanik di gunung yang terletak di Selat Sunda itu sebenarnya sudah terdeteksi sejak Jumat. Puncaknya terjadi pada pukul 03.53 WIB, saat letusan berlangsung selama 30 detik disertai pancaran lava yang terekam kamera sirkuit tertutup. Meski tidak ada korban jiwa maupun perintah evakuasi, otoritas meminta warga dan pengunjung untuk tidak mendekati kawah aktif dalam radius tiga kilometer.
Dampak letusan tidak berhenti di landasan pacu. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan abu tipis menyebar ke sejumlah titik di Jakarta dan Provinsi Lampung, ujung selatan Sumatra. Dua gumpalan abu terdeteksi melalui citra satelit: satu naik ke ketinggian 6.100 meter dan terbawa angin ke timur laut, menyentuh Banten dan Jawa Barat; yang lain menembus 15.200 meter, bergerak ke barat laut dan menutupi sebagian Lampung, Bengkulu, serta perairan selatan Selat Sunda.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan langsung bergerak cepat. Sebanyak 170 pesawat yang semalam parkir di apron bandara tetap berada di tempat, sementara jadwal penerbangan ke Makassar, Lampung, Bali, dan Surabaya dibatalkan atau dialihkan. Di kancah internasional, rute menuju Singapura menjadi yang paling parah terdampak, disusul Hong Kong, Sydney, Amsterdam, Seoul, Doha, dan Kuala Lumpur. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas utama dalam setiap keputusan operasional, seraya memperingatkan potensi efek berantai pada rotasi pesawat dan ketersediaan armada.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat getir akan keganasan Anak Krakatau. Pada 2018, letusan gunung yang merupakan "anak" dari Krakatau raksasa ini memicu tsunami di Selat Sunda yang menewaskan sedikitnya 430 orang. Para peneliti meyakini longsoran bawah laut akibat aktivitas vulkanik menjadi pemicu gelombang dahsyat tersebut. Kini, pulau vulkanik itu diperkirakan hanya tersisa seperempat dari ukuran aslinya, namun potensi ancamannya tidak pernah surut.
Para ahli vulkanologi menilai letusan kali ini masih dalam kategori kecil dan terkendali. Namun, frekuensi aktivitas yang meningkat sejak Jumat menunjukkan bahwa Anak Krakatau sedang dalam fase tidak stabil. Koordinasi antara PVMBG, Badan Meteorologi, dan otoritas penerbangan menjadi krusial untuk memantau pergerakan abu secara real-time. Bandara Soekarno-Hatta, yang melayani lebih dari 40 juta penumpang per tahun, harus memiliki protokol yang lebih adaptif terhadap gangguan semacam ini.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah seberapa cepat normalisasi jadwal penerbangan dapat tercapai. Lukman mengisyaratkan adanya kemungkinan gangguan beruntun yang memengaruhi rotasi pesawat dan kapasitas terminal. Penumpang yang terdampak diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari maskapai dan menghindari datang ke bandara kecuali benar-benar diperlukan. Apakah industri penerbangan nasional mampu belajar dari kejadian ini untuk memperkuat sistem mitigasi risiko geologi? Waktu yang akan menjawab, tetapi ketahanan infrastruktur transportasi udara Indonesia sedang diuji.



