JPO Cawang yang Membingungkan: Tangga Berujung di Tengah Jalan, Pejalan Kaki Terpaksa Nyeberang Lagi
Baca dalam 60 detik
- Akses turun JPO di Jalan Dewi Sartika, Cawang, tidak tersambung ke trotoar, memaksa pengguna menyeberang lagi.
- Kondisi ini membuat jembatan yang sudah usang itu semakin sepi peminat, warga lebih memilih menyeberang di bawah.
- Petugas telah melakukan pengecekan, namun belum ada kejelasan apakah akses akan diperpanjang atau diperbaiki.

Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, yang seharusnya memudahkan pejalan kaki, kini justru menjadi sumber kebingungan. Pasalnya, salah satu tangga turun dari jembatan tersebut berakhir tepat di tengah jalan, memaksa pengguna yang sudah menyeberang untuk kembali berhadapan dengan lalu lintas demi mencapai trotoar.
Fenomena ini sontak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah foto dan video kondisi jembatan itu tersebar luas. Banyak warganet yang menyayangkan desain infrastruktur yang dinilai tidak ramah pejalan kaki, bahkan berpotensi membahayakan keselamatan. JPO yang terletak di persimpangan lampu merah menuju Jalan Otto Iskandardinata ini memang tampak terbengkalai, dengan cat terkelupas dan beberapa bagian pagar yang sudah copot.
Bagi warga sekitar, kondisi ini bukanlah hal baru. Ikin, seorang warga yang kerap melintas di kawasan tersebut, mengungkapkan bahwa JPO itu sudah sangat jarang digunakan. "Fungsi masih ada, tapi jarang banget dipakai, hampir nggak pernah sekarang," ujarnya saat ditemui di lokasi. Menurut Ikin, warga lebih memilih menyeberang langsung di bawah, memanfaatkan momentum lampu merah untuk mempercepat perjalanan, meski harus berisiko berhadapan dengan kendaraan yang melintas.
Keberadaan tangga yang tidak tersambung dengan trotoar ini menjadi ironi di tengah upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang gencar mendorong penggunaan transportasi umum dan berjalan kaki. Infrastruktur yang seharusnya menjadi solusi bagi pejalan kaki justru menciptakan masalah baru. Kondisi ini juga mencerminkan masih lemahnya perencanaan kota yang berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki, sebuah isu yang kerap menjadi sorotan di berbagai kota besar Indonesia.
Meski demikian, ada secercah harapan. Ikin menyebutkan bahwa beberapa waktu lalu, petugas dari Satpol PP sempat datang ke lokasi untuk melakukan pengukuran. "Kayak ngukur-ngukur gitu, nggak ngerti juga apa mau dipanjangin atau gimana," katanya. Langkah ini memicu spekulasi bahwa pemerintah akhirnya mulai merespons keluhan warga, meski belum ada kepastian mengenai rencana perbaikan atau perpanjangan akses jembatan.
Kasus JPO Cawang ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas, tetapi juga harus memastikan fasilitas tersebut benar-benar fungsional dan aman. Desain yang tidak memperhatikan konektivitas dengan lingkungan sekitar justru akan menjadi mubazir dan berpotensi membahayakan penggunanya. Pertanyaannya, apakah pemerintah kota akan segera mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki JPO ini, atau akan membiarkannya terus menjadi monumen kelalaian perencanaan?



