Tim Forensik Singapura Dikerahkan ke Nepal: Identifikasi Korban Banjir Bandang Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Singapura mengirim 35 personel kepolisian dan ahli forensik untuk membantu identifikasi korban banjir bandang Nepal yang menewaskan lebih dari 1.300 orang.
- Tim DVI Singapura fokus pada pengumpulan data forensik, termasuk sidik jari dan DNA, untuk mengidentifikasi korban dari berbagai negara, termasuk sembilan warga Singapura yang hilang.
- Bantuan internasional mengalir deras, namun kerusakan infrastruktur yang parah menjadi tantangan utama dalam operasi pencarian dan penyelamatan di Nepal.

Banjir bandang yang melanda Nepal pada 26 Agustus lalu telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang dan meninggalkan sekitar 5.000 lainnya hilang. Di tengah upaya pencarian dan penyelamatan yang masih berlangsung, Singapura mengirimkan tim beranggotakan 35 orang dari Kepolisian Singapura (SPF) untuk membantu otoritas setempat, dengan fokus utama pada identifikasi korban bencana (disaster victim identification/DVI).
Tim yang mulai tiba di Nepal sejak 2 September ini terdiri dari personel terlatih dalam pengambilan sidik jari dan fotografi, serta spesialis pemeriksaan sidik jari dari Integrated Forensics Service di bawah Home Team Science and Technology Agency. Selain itu, tim juga menyertakan seorang ahli patologi forensik dan petugas teknis forensik dari Health Sciences Authority yang berperan penting dalam otopsi, dokumentasi, dan pengumpulan sampel untuk identifikasi forensik.
Komandan Kontingen SPF di Nepal, Asisten Komisaris Polisi Patrick Tan, menyatakan bahwa timnya masih memetakan situasi di lapangan. "Untuk saat ini, kami fokus pada identifikasi korban bencana serta melatih polisi Nepal mengoperasikan drone untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan mereka," ujarnya kepada The Straits Times. Sementara itu, Komandan Tim DVI SPF, Asisten Komisaris Polisi Eugene Wang, menegaskan bahwa misi timnya tidak hanya untuk mengidentifikasi warga Singapura, melainkan semua korban dari berbagai negara. "Kami tidak bisa hanya fokus pada warga Singapura. Karena korban berasal dari banyak negara, ini adalah upaya kolaboratif yang melibatkan banyak negara. Kami di sini untuk membantu upaya kolektif mengidentifikasi korban agar keluarga mendapatkan kepastian dan kelegaan," jelas Wang.
Menurut Wang, timnya sangat terkesan dengan besarnya skala bencana ini. "Lebih dari seribu jenazah telah ditemukan, tetapi lebih dari 4.000 masih hilang. Itu lebih dari 5.000 orang dari berbagai negara," katanya. Di rumah sakit-rumah sakit di Kathmandu, tim DVI Singapura mengambil sidik jari jenazah yang masuk ke kamar mayat, berkoordinasi dengan kepolisian Nepal, pejabat forensik, dan petugas kesehatan. Sementara itu, di Singapura, SPF mengumpulkan informasi antemortem seperti X-ray atau rekam medis dari keluarga korban hilang, serta mengambil sampel DNA. Informasi tersebut kemudian akan diserahkan ke Nepal untuk dilakukan pencocokan, sesuai protokol DVI INTERPOL yang menetapkan bahwa negara yang terkena bencana yang melakukan pencocokan DNA.
Banjir bandang ini juga berdampak pada sembilan warga Singapura yang dilaporkan hilang. Tim krisis dari Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA) telah berada di Nepal sejak 27 Agustus untuk menilai kerusakan dan mencari informasi tentang warga Singapura yang hilang. Abraham Tan, First Officer (Political) di Komisi Tinggi Singapura di New Delhi yang memimpin tim krisis MFA, mengungkapkan bahwa kerusakan infrastruktur sangat parah. "40 hingga 50 km jalan hanyut dan setidaknya 20 jembatan hancur. Ini sangat mempersulit operasi penyelamatan karena pihak berwenang tidak dapat mengakses daerah yang terkena banjir," ujarnya. Polisi dan angkatan bersenjata Nepal terpaksa menggunakan helikopter dan drone, namun hal ini juga rumit di lembah sempit di bawah Himalaya yang memiliki ruang udara terbatas.
Selain Singapura, negara-negara seperti India, China, Jepang, Korea Selatan, dan Australia juga telah mengirim bantuan, mulai dari tim identifikasi forensik, ahli penyelamatan terowongan, hingga tim respons cepat dan koordinator logistik. Pengalaman tim SPF dalam menangani bencana sebelumnya, seperti tsunami Phuket 2004, menjadi modal berharga, namun banjir bandang di Nepal menghadirkan tantangan unik. Wang menjelaskan, "Biasanya dalam situasi banjir, pada titik ini jenazah sudah membusuk parah. Kondisi tubuh bisa rusak berat karena datang dalam bentuk fragmen. Ini menciptakan banyak tantangan dalam identifikasi dan pengambilan sidik jari. Tetapi kami cukup berhasil dalam mengumpulkan informasi."
Bagi Indonesia, bencana di Nepal menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam pernyataannya beberapa waktu lalu menekankan perlunya penguatan kapasitas identifikasi korban bencana di tanah air. "Pengalaman Nepal menunjukkan bahwa identifikasi korban bencana massal membutuhkan koordinasi lintas negara dan teknologi forensik yang mumpuni. Indonesia perlu terus meningkatkan kapasitas DVI untuk merespons potensi bencana serupa," ujarnya. Kolaborasi internasional seperti yang terlihat di Nepal, di mana berbagai negara bahu-membahu membantu identifikasi korban, juga menjadi model yang relevan bagi Indonesia yang kerap dilanda bencana alam.
Sepuluh hari setelah banjir, prioritas otoritas Nepal dan tim internasional ada dua: menyelamatkan orang yang terjebak di terowongan pembangkit listrik tenaga air atau yang mencapai dataran tinggi, sekaligus memulihkan jenazah sebanyak mungkin. Abraham Tan menegaskan komitmen Singapura untuk membantu keluarga korban, termasuk warga Singapura yang hilang. "Keluarga warga Singapura yang hilang dapat berharap bahwa tim MFA dan SPF akan melakukan segala yang mereka bisa untuk mengidentifikasi dan memulihkan, jika sayangnya, ada warga Singapura yang meninggal. Kami akan melakukan segalanya untuk memulihkan jenazah dan jika diminta, kami dapat mengevakuasi mereka kembali ke Singapura agar keluarga mendapatkan kepastian," katanya. Dengan bantuan internasional yang terus mengalir, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Nepal mengatasi tantangan logistik dan forensik untuk memberikan jawaban bagi ribuan keluarga yang menanti kabar?



