Lampung Financial Festival 2026: Literasi Keuangan Anak Muda Dipadukan dengan Hiburan
Baca dalam 60 detik
- Hari kedua festival menghadirkan diskusi investasi dengan pejabat OJK, Kemenkeu, dan pimpinan bank BUMN.
- Acara ini dirancang untuk menarik generasi muda melalui kombinasi edukasi finansial dan panggung hiburan.
- Festival gratis ini diharapkan meningkatkan inklusi keuangan di luar Pulau Jawa.

Bandar Lampung menjadi pusat perhatian para pegiat literasi keuangan akhir pekan ini. Lampung Financial Festival 2026 yang berlangsung pada 5-6 September tidak hanya menyuguhkan diskusi serius tentang investasi, tetapi juga mengemasnya dengan hiburan untuk menarik minat generasi muda. Hari kedua acara ini diisi dengan rangkaian pembicara dari regulator hingga eksekutif bank pelat merah, sebuah sinyal kuat bahwa edukasi keuangan kini dikemas lebih dekat dengan keseharian anak muda.
Pembukaan hari kedua dilakukan oleh Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana. Setelah itu, sesi Investment Talk menghadirkan dua nama penting: Adi Budiarso, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, serta Herman Saheruddin, Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan. Keduanya dijadwalkan membahas arah kebijakan investasi di tengah maraknya instrumen keuangan digital, termasuk aset kripto yang kian populer di kalangan milenial dan Gen Z.
Diskusi kemudian berlanjut ke sesi bertajuk 'The Bankers', yang menghadirkan jajaran direksi bank BUMN. Mereka adalah Novita Widya Anggraini (Bank Mandiri), Hery Gunardi (Bank Rakyat Indonesia), Nixon LP Napitupulu (Bank Tabungan Negara), Hussein Paolo Kartadjoemena (Bank Negara Indonesia), dan Anton Sukarna (Bank Syariah Indonesia). Kehadiran para bankir ini menunjukkan bahwa perbankan serius menjaring nasabah muda, yang selama ini kerap dianggap kurang melek produk keuangan formal.
Menariknya, festival ini tidak melulu soal angka dan kebijakan. Panitia menyelipkan sesi stand-up comedy dari Marshel Widianto serta penampilan musik untuk menjaga energi pengunjung. Ada pula sesi inspirasi dari Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha dan diskusi khusus bersama Dony Oskaria, COO Danantara. Penutup acara akan diisi oleh Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, yang diharapkan memberikan perspektif tentang perlindungan simpanan nasabah.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa, gelaran seperti ini menjadi penting karena akses terhadap edukasi keuangan sering kali terbatas. Dengan menggandeng tokoh nasional dan menghadirkan hiburan, festival ini berupaya menjembatani kesenjangan literasi keuangan antara kota besar dan daerah. Apalagi, acara ini gratis, sehingga siapa pun bisa belajar langsung dari para ahli tanpa hambatan biaya.
Ke depan, keberhasilan festival semacam ini bisa menjadi tolok ukur apakah pendekatan edukasi keuangan yang lebih santai efektif meningkatkan partisipasi masyarakat. Pertanyaannya, apakah inisiatif seperti ini akan diadopsi di kota-kota lain, atau justru berhenti sebagai acara tahunan yang hanya seremonial? Jawabannya akan menentukan apakah literasi keuangan di Indonesia benar-benar merata atau masih terkonsentrasi di pusat ekonomi.



