Abu Vulkanik Anak Krakatau Lumpuhkan Dua Bandara, Penerbangan Internasional Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Erupsi Gunung Anak Krakatau memaksa Bandara Soekarno-Hatta dan Radin Inten II menghentikan operasional, dengan perpanjangan penutupan hingga pukul 09.30 WIB.
- Sebanyak 33 penerbangan, termasuk 16 rute internasional, dibatalkan atau dijadwalkan ulang akibat sebaran abu vulkanik yang mengganggu keselamatan penerbangan.
- Penutupan ini menyoroti kerentanan infrastruktur penerbangan Indonesia terhadap bencana geologi dan memicu kekhawatiran akan dampak ekonomi serta keselamatan penumpang.

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (5/9/2026) memaksa dua bandara utama di Indonesia—Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang dan Bandara Radin Inten II di Lampung—menutup operasionalnya sementara, mengganggu puluhan penerbangan domestik dan internasional. Penutupan ini merupakan respons cepat terhadap sebaran abu vulkanik yang membahayakan keselamatan penerbangan, dengan dampak yang dirasakan hingga Minggu pagi.
Menurut Corporate Secretary Group Head PT Angkasa Pura Indonesia, Arie Ahsanurrohim, Bandara Radin Inten II menghentikan operasi mulai pukul 07.00 hingga 08.00 WIB, menyebabkan tiga penerbangan domestik dari dan menuju Jakarta tertunda. Sementara itu, Bandara Soekarno-Hatta, yang sebelumnya sempat ditutup pada dini hari, memperpanjang penutupannya hingga pukul 09.30 WIB berdasarkan NOTAM terbaru. Keputusan ini diambil setelah pemeriksaan menunjukkan adanya indikasi abu vulkanik di area bandara.
Dampak yang lebih luas terlihat dari data Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub: hingga Sabtu malam, sedikitnya 33 penerbangan terganggu. Dari jumlah tersebut, 16 penerbangan internasional dilaporkan dibatalkan, sementara sisanya mengalami penyesuaian jadwal. Partikel abu vulkanik, yang dapat merusak mesin pesawat dan sistem navigasi, menjadi alasan utama mengapa otoritas penerbangan memilih langkah preventif ini.
Bagi Indonesia, kejadian ini bukan sekadar gangguan operasional. Bandara Soekarno-Hatta adalah gerbang udara utama yang melayani jutaan penumpang setiap tahunnya. Penutupan yang berkepanjangan dapat memicu efek domino pada ekonomi, mulai dari keterlambatan logistik hingga kerugian bagi maskapai dan wisatawan. Lebih jauh, ini mengingatkan kembali pada erupsi Gunung Merapi 2010 yang sempat melumpuhkan penerbangan di Yogyakarta dan sekitarnya, menunjukkan bahwa infrastruktur penerbangan Indonesia rentan terhadap aktivitas seismik.
Meski aktivitas penerbangan sempat normal pada Sabtu, penutupan ini menunjukkan bahwa pemantauan abu vulkanik masih menjadi tantangan. Otoritas bandara dan maskapai harus terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memastikan keamanan. Bagi penumpang, disarankan untuk memantau informasi resmi dan menghubungi maskapai untuk penjadwalan ulang.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: seberapa cepat bandara-bandara ini dapat beroperasi normal kembali? Dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih fluktuatif, keputusan untuk membuka kembali bandara akan sangat bergantung pada arah angin dan sebaran abu. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa penutupan bisa berlangsung berhari-hari, sehingga kesiapsiagaan dan komunikasi yang transparan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bagi masyarakat luas.



