Bandara Soetta Kembali Ditutup Hingga Siang: Abu Krakatau Mengganggu Penerbangan Domestik
Baca dalam 60 detik
- Penutupan Soetta diperpanjang hingga pukul 13.30 WIB akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau yang dinamis, menyusul NOTAM terbaru A3346/26.
- AirNav juga menutup sementara Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto, dengan pemantauan 24 jam melalui INMC untuk memastikan keselamatan penerbangan.
- Maskapai dan penumpang diminta memantau jadwal secara berkala, karena kondisi ruang udara dapat berubah sewaktu-waktu dan memengaruhi konektivitas domestik.

Gangguan penerbangan di kawasan Jakarta dan sekitarnya kembali berlanjut. Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) resmi memperpanjang penutupan operasionalnya hingga pukul 13.30 WIB pada Minggu (6/9/2026), menyusul penyebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih membayangi ruang udara. Keputusan ini tertuang dalam Notice to Airmen (NOTAM) A3346/26, yang menggantikan NOTAM sebelumnya A3344/26.
Penutupan ini bukan tanpa alasan. Partikel abu vulkanik yang beterbangan dapat merusak mesin pesawat dan mengganggu visibilitas pilot, menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama. AirNav Indonesia, sebagai pengelola navigasi penerbangan, memilih langkah konservatif dengan menutup sejumlah bandara lain yang berada di jalur sebaran abu. Bandara Halim Perdanakusuma, misalnya, telah ditutup sejak pukul 07.20 WIB melalui NOTAM A3345/26, dengan rencana pembukaan kembali pada pukul 10.00 WIB. Sementara itu, Bandara Radin Inten II di Lampung dan Bandara Budiarto di Tangerang juga terkena dampak serupa, masing-masing ditutup hingga pukul 10.00 WIB berdasarkan NOTAM B1124/26 dan C1076/26.
Keputusan ini tentu menjadi pukulan bagi ribuan calon penumpang yang hendak melakukan perjalanan di akhir pekan. Bagi maskapai, penutupan mendadak berarti penjadwalan ulang yang rumit dan potensi kerugian operasional. Namun, langkah ini dinilai sebagai tindakan yang tepat oleh para pengamat penerbangan. "Dalam kondisi seperti ini, keselamatan adalah segalanya. Lebih baik menunda beberapa jam daripada mengambil risiko yang tidak perlu," ujar seorang analis penerbangan yang enggan disebutkan namanya.
Yang menarik, penutupan ini terjadi di tengah dinamika pergerakan abu vulkanik yang sangat cepat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, AirNav melalui Indonesia Network Management Center (INMC) melakukan pemantauan selama 24 jam non-stop. Setiap perkembangan kondisi ruang udara akan langsung direspons dengan pembaruan informasi aeronautika secara real-time. Ini menunjukkan keseriusan otoritas dalam menjaga keselamatan penerbangan di tengah situasi darurat.
Bagi Indonesia, kejadian ini menggarisbawahi kerentanan infrastruktur penerbangan terhadap bencana alam. Anak Krakatau, yang terletak di Selat Sunda, memang dikenal sebagai gunung berapi aktif yang sewaktu-waktu dapat mengganggu jalur penerbangan. Penutupan bandara seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi, dan mungkin bukan yang terakhir. Hal ini menuntut adanya sistem mitigasi yang lebih baik, termasuk koordinasi yang erat antara otoritas bandara, maskapai, dan pusat vulkanologi.
Maskapai dan calon penumpang diimbau untuk terus memantau pembaruan jadwal penerbangan melalui kanal resmi masing-masing. AirNav menegaskan komitmennya untuk mengutamakan aspek keselamatan (safety first) di atas segalanya. Namun, pertanyaan yang muncul kemudian: apakah penutupan ini akan berdampak pada jadwal penerbangan internasional yang melintasi wilayah Indonesia? Dan seberapa cepat bandara-bandara tersebut dapat beroperasi normal kembali setelah abu vulkanik mereda? Semua akan bergantung pada dinamika alam yang sulit diprediksi, namun kesiapan infrastruktur dan respons cepat otoritas menjadi kunci untuk meminimalkan dampaknya.



