Erupsi Anak Krakatau Hujani Nelayan di Selat Sunda: Tim SAR Siaga Hadapi Ancaman Debu ke Pulau Sebesi
Baca dalam 60 detik
- Nelayan di Lampung Selatan selamat setelah kapalnya dihujani material vulkanik saat erupsi Gunung Anak Krakatau, Sabtu dini hari.
- Status Siaga Level III memaksa PVMBG menetapkan radius aman 3 km dari kawah, menghentikan aktivitas pelayaran dan wisata.
- Tim SAR Bakauheni meningkatkan kesiapsiagaan karena Pulau Sebesi berisiko terkena hujan debu dan batu jika angin berubah arah.

Sabtu dini hari, pukul 00.01 WIB, Gunung Anak Krakatau yang berstatus Siaga Level III kembali meletus, menghujani perairan Selat Sunda dengan material batu dan pasir vulkanik. Sejumlah nelayan yang sedang memancing di sekitar Lampung Selatan menjadi saksi langsung keganasan alam ini, namun beruntung seluruh awak kapal berhasil menyelamatkan diri.
Peristiwa itu terekam dalam video amatir berdurasi 53 detik yang memperlihatkan gemuruh mesin perahu bercampur dengan suara batu yang menghantam badan kapal, diiringi lantunan doa dari para nelayan yang ketakutan. Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, membenarkan kejadian tersebut dan memastikan bahwa nelayan bernama Rangan beserta rekannya selamat. โMereka sedang memancing, tiba-tiba hujan batu turun. Alhamdulillah, semua selamat,โ ujarnya, Sabtu (5/9/2026).
Erupsi yang terjadi pada dini hari itu tidak hanya mengancam keselamatan nelayan, tetapi juga memicu kekhawatiran akan dampak lanjutan bagi permukiman di sekitar gunung yang berada di perairan Selat Sunda tersebut. Tim SAR Bakauheni kini menyiagakan personel secara penuh, terutama untuk mengantisipasi potensi penyebaran hujan debu ke Pulau Sebesi yang berjarak cukup dekat dengan pusat erupsi. Rezie menjelaskan, jika arah angin berubah menuju Tanggamus, debu vulkanik diperkirakan sudah pecah di udara sehingga tidak terlalu pekat. Namun, untuk Pulau Sebesi, ancamannya jauh lebih serius.
โKami standby mengantisipasi perubahan arah angin. Pulau Sebesi riskan terkena hujan debu dan batu. Kalau ke arah Tanggamus, debunya sudah pecah di udara sehingga tidak terlalu pekat, tetapi untuk Sebesi ini tergolong berbahaya,โ jelas Rezie. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa dinamisnya ancaman vulkanik yang tidak hanya bergantung pada aktivitas gunung, tetapi juga pada pola angin yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Seiring dengan meningkatnya aktivitas vulkanik, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan larangan keras bagi seluruh aktivitas pelayaran, nelayan, maupun wisatawan untuk mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Masyarakat di pesisir Selat Sunda, baik di Lampung maupun Banten, diimbau untuk tidak mendekati zona bahaya demi alasan keselamatan. Informasi resmi perkembangan aktivitas gunung api dapat diakses melalui kanal PVMBG, BMKG, BNPB, serta BPBD setempat.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Selat Sunda yang tidak hanya menjadi jalur pelayaran padat, tetapi juga rumah bagi ribuan penduduk di pulau-pulau kecil seperti Sebesi. Aktivitas ekonomi seperti perikanan dan pariwisata di sekitar gunung ini kerap berhadapan langsung dengan risiko geologi yang tinggi. Meski demikian, sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan SAR yang relatif cepat menjadi modal penting dalam meminimalkan korban jiwa.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah seberapa lama status Siaga ini akan bertahan, dan apakah masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada laut harus merelakan aktivitas mereka berhenti demi keselamatan. Koordinasi antara PVMBG, BMKG, dan pemerintah daerah menjadi kunci untuk memastikan informasi yang akurat dan tepat waktu sampai ke masyarakat. Sementara itu, para nelayan seperti Rangan mungkin akan berpikir dua kali sebelum kembali melaut dalam waktu dekat.



