Sampah Jadi Pelajaran Sekolah: Program Daur Ulang Maybank Menyasar 3.000 Murid Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Maybank Indonesia menginisiasi program dua tahun di enam SD Jabodetabek untuk mengajarkan pengelolaan sampah dan daur ulang kepada sekitar 3.000 siswa.
- Inisiatif ini menyoroti peran swasta dalam pendidikan lingkungan, sejalan dengan target pengurangan sampah plastik nasional yang mencapai 20% dari total sampah tahunan.
- Melalui #BalikBAIK Impact Hubs, anak-anak diharapkan tidak hanya memahami pemilahan sampah, tetapi juga melihat nilai ekonomi dari barang bekas.

Jakarta โ Kesadaran akan pentingnya mengelola sampah sejak dini mulai ditanamkan melalui bangku sekolah. Maybank Indonesia, salah satu bank terbesar di Tanah Air, meluncurkan program pendidikan daur ulang yang menyasar ribuan siswa sekolah dasar di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengatasi persoalan sampah plastik yang diperkirakan mencapai seperlima dari total limbah nasional setiap tahunnya.
Dalam program bertajuk Cahaya Kasih yang berdurasi dua tahun tersebut, bank yang berkantor pusat di Kuala Lumpur itu menargetkan sekitar 3.000 murid dari enam sekolah dasar negeri di kawasan Jabodetabek. Direktur Human Capital Maybank Indonesia, Irvandi Ferizal, mengungkapkan bahwa pihaknya juga menyiapkan 500 karyawan sebagai relawan untuk mendampingi kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah tersebut.
โKami tidak berharap dampak teknis yang besar dalam waktu singkat. Yang lebih penting adalah membangun budaya pengelolaan sampah dan mengajarkannya kepada anak-anak sejak usia dini,โ ujar Irvandi di sela-sela acara Maybank Global Corporate Responsibility (CR) Day 2026 yang digelar di SDN 08 Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (6/9/2026).
Program ini tidak sekadar memberikan teori. Di enam sekolah tersebut, akan didirikan fasilitas bernama #BalikBAIK Impact Hubs. Di tempat ini, para siswa akan belajar secara langsung bagaimana memilah sampah, mendaur ulang, dan memahami konsep ekonomi sirkular. Mereka akan diajak mengolah bahan-bahan yang selama ini dianggap tidak bergunaโseperti plastik bekas, serat tekstil, dan kertas cetakโmenjadi produk baru yang memiliki nilai jual.
Langkah Maybank ini sejalan dengan kebutuhan mendesak Indonesia akan edukasi lingkungan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, komposisi sampah plastik di Indonesia mencapai sekitar 20 persen dari total timbulan sampah nasional. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, sehingga intervensi sejak usia dini menjadi krusial.
Peluncuran program ini bertepatan dengan peringatan Maybank Global CR Day yang ke-14. Kegiatan serupa dilakukan serentak di 18 negara tempat Maybank beroperasi. Secara global, lebih dari 15.000 karyawan berpartisipasi dan menjangkau lebih dari 18.000 anggota komunitas. Di Indonesia sendiri, aksi nyata dilakukan melalui 66 kantor cabang Maybank yang melibatkan 1.800 karyawan dan 300 guru, serta menjangkau 3.250 siswa sekolah dasar.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa sektor swasta mulai mengambil peran aktif dalam pendidikan lingkungan, yang selama ini lebih banyak digerakkan oleh organisasi non-pemerintah atau lembaga pemerintah. Keterlibatan Maybank tidak hanya sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang lebih peduli lingkungan.
Para pengamat pendidikan menilai, pendekatan yang menggabungkan teori dan praktik seperti ini lebih efektif dalam membentuk kebiasaan anak. Apalagi, jika sejak kecil mereka sudah terbiasa memilah sampah dan melihat bahwa barang bekas bisa memiliki nilai ekonomi, maka perilaku tersebut akan terbawa hingga dewasa. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah yang tengah gencar mendorong pengurangan sampah plastik sekali pakai melalui berbagai regulasi.
Ke depan, keberhasilan program ini akan terlihat dari sejauh mana sekolah-sekolah tersebut mampu mandiri dalam mengelola sampah dan menularkan kebiasaan baik kepada lingkungan sekitarnya. Pertanyaannya, apakah model pendidikan semacam ini akan diadopsi lebih luas oleh sekolah-sekolah lain di Indonesia, atau justru berhenti sebagai proyek percontohan semata?



