Takayasu Siap Tampil di Turnamen Sumo Musim Gugur Meski Cedera Kaki Kiri
Baca dalam 60 detik
- Pegulat veteran Takayasu memastikan kesiapan tampil di turnamen sumo musim gugur setelah sempat absen latihan karena cedera adduktor kiri.
- Dengan usia 36 tahun, ia menjadi peserta tertua di divisi makuuchi dan akan menempati posisi maegashira No. 2 pada turnamen yang berlangsung 15 hari.
- Takayasu menegaskan akan menjaga kondisi agar cedera tidak kambuh, mengingat lawan-lawan berat sudah menantinya di awal turnamen.

Pegulat sumo veteran asal Jepang, Takayasu, memastikan dirinya siap bertarung pada Turnamen Musim Gugur yang akan digelar di Ryogoku Kokugikan, Tokyo, mulai 13 September. Kepastian itu disampaikan hanya sehari setelah ia kembali menjalani latihan tanding setelah sebelumnya harus menepi akibat cedera pada otot adduktor kaki kiri.
Takayasu, yang kini berusia 36 tahun dan menjadi pegulat tertua di divisi elit makuuchi, mengaku telah menjalani 13 pertarungan latihan sebagai bagian dari persiapan menuju turnamen 15 hari tersebut. Ia akan tampil sebagai maegashira No. 2, posisi yang menempatkannya sebagai salah satu penantang serius di kelas atas.
"Saya memantau kondisi saya setiap saat," ujar Takayasu, yang pernah meraih pangkat ozeki. "Saya tidak akan bisa bertarung jika memaksakan diri terlalu keras dan cedera saya kambuh lagi." Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa ia akan tampil hati-hati, namun tetap percaya diri menghadapi lawan-lawan tangguh di awal turnamen.
Cedera yang dialaminya terjadi saat tur regional musim panas akhir bulan lalu, memaksanya mundur di tengah acara. Sebelumnya, pada turnamen Juli, Takayasu mencatat rekor impresif 11-4, menunjukkan bahwa ia masih memiliki kemampuan bersaing di papan atas meski usianya tidak lagi muda. Namun, cedera tersebut sempat membuatnya absen pada sesi latihan umum Jumat lalu karena khawatir kondisinya belum pulih total.
Di tengah persaingan ketat sumo modern, kehadiran Takayasu selalu menarik perhatian. Ia dikenal dengan gaya bertarung agresif dan kekuatan dorong yang khas. Namun, cedera yang dialaminya menjadi pengingat bahwa usia dan kebugaran fisik menjadi faktor krusial. "Saya berharap bisa menghadapi lawan-lawan berperingkat tinggi di hari-hari awal turnamen, jadi saya ingin tetap pada gaya sumo saya sendiri," tambahnya, menegaskan bahwa ia tidak akan mengubah pendekatan bertarung meski dalam kondisi tidak seratus persen.
Bagi penggemar sumo di Indonesia, turnamen ini juga menarik untuk diikuti karena persaingan di divisi makuuchi selalu menyajikan drama dan kejutan. Meski tidak ada pegulat Indonesia yang berkompetisi, popularitas sumo di Asia Tenggara terus meningkat, terutama dengan siaran langsung yang mudah diakses. Ketahanan fisik dan mental Takayasu bisa menjadi pelajaran berharga tentang manajemen cedera dan dedikasi pada olahraga.
Pertanyaan besarnya, mampukah Takayasu mempertahankan performa puncaknya sepanjang 15 hari tanpa cedera kambuh? Jika berhasil, ia berpeluang mencatatkan hasil gemilang dan membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Namun, jika cedera kembali mengganggu, perjalanannya di turnamen ini bisa berakhir lebih cepat dari harapan.



