El Nino Menguat, 81% Wilayah RI Masih Kering: BMKG Sebar Peringatan Dini Kekeringan
Baca dalam 60 detik
- BMKG mencatat 567 zona musim atau 81,1% wilayah Indonesia masih berada dalam periode kemarau pada awal September 2026.
- Indeks ENSO mencapai 2,2 dan anomali suhu muka laut Nino3.4 sebesar +2,74, menandakan El Nino sangat kuat yang memicu kekeringan berkepanjangan.
- Peringatan dini kekeringan meteorologis dikeluarkan untuk Dasarian I September 2026 dengan kategori Waspada, Siaga, dan Awas di sejumlah wilayah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian I September 2026, menyusul temuan bahwa 567 Zona Musim (ZOM) atau 81,1% wilayah Indonesia masih dilanda musim kemarau. Kondisi ini diperparah oleh menguatnya fenomena El Nino yang tercatat pada level sangat kuat, sehingga sejumlah daerah berpotensi mengalami defisit hujan hingga akhir tahun.
Berdasarkan pemantauan BMKG pada Dasarian III Agustus 2026, indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juni-Juli-Agustus (JJA) mencapai 2,2, sementara anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 tercatat +2,74 derajat Celsius—meski sedikit menurun dari +2,83 pada bulan sebelumnya. Selain itu, Indian Ocean Dipole (IOD) juga menunjukkan nilai positif +0,290, mengindikasikan adanya kontribusi tambahan terhadap berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Peringatan dini yang dirilis BMKG membagi wilayah terdampak ke dalam tiga kategori. Kategori Waspada mencakup kabupaten di Sumatra bagian selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan bagian tengah hingga utara, serta Sulawesi bagian tengah. Kategori Siaga meliputi sebagian besar Sumatra selatan, sebagian kecil Jawa dan Nusa Tenggara, mayoritas Kalimantan dan Sulawesi, serta sebagian besar Papua. Sementara kategori Awas—level tertinggi—diberlakukan untuk sebagian Sumatra selatan, hampir seluruh Jawa dan Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan, serta sebagian Sulawesi dan Maluku.
Data curah hujan Dasarian III Agustus 2026 memperkuat indikasi kekeringan: 92,80% wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, hanya 0,21% yang masuk kategori tinggi. BMKG memperkirakan kondisi kering ini masih akan berlanjut pada September hingga November 2026, dengan wilayah berpeluang tinggi mengalami curah hujan di bawah 50 mm per bulan. Daerah-daerah tersebut membentang dari Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Memasuki Oktober, wilayah dengan potensi hujan sangat rendah menyempit ke Sumatra Selatan bagian selatan, Lampung, Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah bagian timur, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku bagian selatan, dan Papua Selatan. Pada November, daerah tersebut semakin terbatas, terutama di Madura, NTB timur, sebagian NTT, dan Sulawesi bagian selatan. Kabar baiknya, BMKG memproyeksikan tidak ada lagi wilayah dengan peluang tinggi kekeringan ekstrem pada Desember 2026 hingga Februari 2027, menandakan transisi menuju musim hujan.
Bagi Indonesia, ancaman kekeringan ini bukan sekadar fenomena alam. Sektor pertanian menjadi pihak yang paling rentan, mengingat sebagian besar wilayah produksi padi dan palawija berada di Jawa, Sumatra Selatan, dan Sulawesi Selatan—daerah yang masuk kategori Siaga dan Awas. Petani yang mengandalkan tadah hujan berisiko mengalami gagal panen, yang pada gilirannya dapat memicu kenaikan harga pangan dan tekanan inflasi. Pemerintah daerah diimbau menyiapkan langkah antisipasi, seperti normalisasi waduk dan percepatan distribusi air bersih untuk daerah rawan kekeringan.
Menurut analis kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), intensitas El Nino tahun ini yang mencapai level sangat kuat menuntut kesiapsiagaan lebih serius dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan prediksi musiman; perlu ada sistem peringatan dini yang terintegrasi hingga tingkat desa,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, terutama di kawasan yang mengalami penurunan debit sungai secara signifikan.
Meski BMKG memperkirakan kekeringan akan berakhir pada awal 2027, masih ada pertanyaan besar: apakah infrastruktur air dan sistem irigasi di daerah-daerah terdampak mampu bertahan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang akibat perubahan iklim? Jawabannya akan menentukan ketahanan pangan nasional dalam beberapa tahun ke depan.



