Sapi Angus Australia Cetak Rekor Lelang Rp 7,4 Miliar, Pemilik Justru Berat Hati Melepas
Baca dalam 60 detik
- Sapi jantan Angus bernama Wyatt W50 terjual US$420 ribu (Rp 7,4 miliar) di Central West, Australia, melampaui rekor 2022.
- Pembelinya, Gundungarra Angus, mengincar genetik unggul untuk meningkatkan kualitas ternak, sementara pemilik lama mengaku sedih melepasnya.
- Transaksi ini menegaskan posisi Australia sebagai pusat genetika sapi global, membuka peluang bagi peternak Indonesia untuk mengadopsi teknologi serupa.

Lelang sapi di kawasan Central West, Australia, baru saja mencatat sejarah baru. Seekor sapi jantan Angus bernama Wyatt W50 terjual dengan nilai fantastis US$420 ribu, setara Rp 7,4 miliar. Angka ini memecahkan rekor penjualan sapi di negara tersebut yang sebelumnya dipegang oleh sapi Wagyu betina muda seharga US$400 ribu pada 2022.
Pembeli sapi mahal ini adalah Gundungarra Angus, sebuah peternakan yang berlokasi di Moss Vale, Southern Highlands. Mereka berhasil mengamankan sapi jantan yang dinilai memiliki kualitas genetik luar biasa. Sementara itu, Ross Thompson, pemilik sebelumnya, mengaku berat hati melepas Wyatt W50. "Dia sangat luar biasa dan sulit dikritik. Saya menganggapnya sebagai sapi jantan terbaik yang pernah kami tawarkan," ujarnya, seperti dikutip dari ABC, Sabtu (5/9/2026).
Thompson bahkan sempat mempertanyakan keputusannya saat tiba di lokasi pelelangan. "Aku jadi bertanya mengapa menjualnya saat sampai di tempat penjualan," katanya menambahkan. Ia menyamakan penampilan sapi tersebut setingkat supermodel manusia, dengan tubuh serbaguna dan silsilah yang diakui secara global. Bagi Thompson, Wyatt W50 bukan sekadar ternak, melainkan representasi dari kerja keras dan seleksi genetik yang panjang.
Nilai jual yang tinggi tersebut tidak lepas dari keunggulan genetik yang dimiliki Wyatt W50. Sapi ini membawa gen yang disukai banyak peternak, mulai dari kemudahan proses melahirkan hingga kemampuan meningkatkan berat badan secara signifikan. Sperma dari sapi jantan ini pun telah menarik minat dari berbagai negara, termasuk Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas genetik sapi Australia tidak hanya diakui domestik, tetapi juga menjadi rujukan dunia.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin pentingnya investasi pada genetika ternak. Sebagai negara dengan populasi sapi yang besar namun masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan daging, Indonesia dapat belajar dari praktik seleksi genetik yang ketat seperti yang dilakukan di Australia. Adopsi teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan dan transfer embrio dengan bibit unggul dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas peternakan lokal.
Thompson mengungkapkan kebanggaannya karena Australia dipandang sebagai sumber genetik potensial oleh dunia. "Senang rasanya membayangkan orang dari belahan dunia lain memandang Australia sebagai sumber genetik potensial. Ini menjadi momen yang cukup menggembirakan," ucapnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa industri peternakan Australia telah berhasil membangun reputasi global yang kuat, tidak hanya dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas.
Ke depan, rekor ini membuka pertanyaan besar: apakah tren kenaikan harga sapi unggul akan terus berlanjut? Dengan meningkatnya permintaan akan daging berkualitas di Asia, termasuk Indonesia, nilai genetika sapi premium diprediksi akan semakin tinggi. Bagi peternak lokal, ini adalah momentum untuk mulai memperhatikan kualitas genetik ternak mereka agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.



